Di tengah perjalanan menuju museum, ledakan besar disusul oleh sebuah pohon besar yang roboh, hampir menimpa mobil sewaan yang ditumpangi oleh Excelsis dan Lysandra.
Quentine yang berada di belakang kendali, buru-buru mengecek kondisi dua nyawa yang dipercayakan padanya hari ini. "Kalian tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, Om." Sebagai penumpang mobil yang baik, Excelsis selalu mengenakan sabuk pengaman meski tidak duduk di bangku depan. Ia hanya terkejut dengan guncangan akibat laju mobil yang direm mendadak dan berbelok tajam.
"Pops! Ada anak kecil di depan sana!" Lysandra menunjuk sosok yang tengah berdiri di atas batang pohon yang tumbang.
Sekonyong-konyong seekor beruang cokelat besar berlari keluar dari semak-semak. Binatang berbulu tebal itu berhenti dan berdiri di hadapan sosok yang ditunjuk Lysandra. Cakar berkuku melengkung tajam terangkat dan siap diayunkan.
"Pops!" teriak Lysandra panik sambil menangkup wajah dan berpaling.
Entah sejak kapan Quentine sudah turun dari mobil dan berlari ke arah anak kecil berambut hitam panjang sebatas betis. Tangannya terulur dan meneriakkan sesuatu, tapi jelas tidak terdengar dari dalam mobil.
"Lysa, kenapa si burung merah belum muncul? Papamu tidak punya senjata!"
"Tidak perlu. Papa bisa mengatasi hama seperti itu."
Excelsis menoleh. Tanggapan santai dan pola bicara Lysandra mendatangkan tanda tanya dalam benak. Selain itu, temannya tidak lagi menangkup wajah, tapi menatap ke luar jendela. Terlalu antusias untuk seseorang yang sedetik lalu dalam mode panik. Di luar sana, mereka melihat beberapa sulur tanaman—entah datang dari mana—tahu-tahu melilit tangan dan kaki si beruang. Semakin binatang berlemak tebal itu meronta, lilitannya semakin kuat.
Lysandra mengulurkan tangan. "Ra Se," ucapnya sesaat ujung telunjuknya menyentuh dahi sosok yang menatap bingung. Tidak lama, kepala Excelsis tersandar di jendela dengan mata terpejam.
Quentine kembali bersama anak kecil yang diselamatkan tadi dan memakaikan jaket tebal miliknya. Ia heran, udara di luar sangat dingin, tapi makhluk mungil yang jauh lebih pendek dari Lysandra sama sekali tidak menggigil. Si bocah naik dan duduk di kursi belakang. Kekhawatiran sempat melanda sewaktu perhatiannya jatuh pada Excelsis yang tertunduk dengan kepala menempel di jendela. "Temanmu baik-baik saja?"
"Ya. Dia tidur."
Quentine segera mengembuskan napas lega begitu tahu kondisi Excelsis bukanlah pingsan akibat benturan saat ia menghindari tabrakan tadi.
Lysandra mengintip dari balik sandaran kursi dan bertanya pada anak lelaki yang duduk tepat di belakangnya. "Hei, siapa namamu?"
Rambut hitam legam yang basah, menutupi seluruh dahi si bocah. Ia memiliki iris biru gelap dan lingkaran spiral keperakan yang berakhir pada pupil berwarna putih. Sungguh mata yang aneh.
Kesal karena tidak diacuhkan oleh bocah yang lebih tertarik memperhatikan Excelsis, Lysandra berpaling ke arah Quentine—yang sibuk menstarter mobil—dan berkata, "Kurasa dia bisu, Papa."
Dahi Quentine langsung berkerut karena tidak sekali pun pernah disapa 'Papa'. Ia menoleh ke samping, dan untuk pertama kali mendapati raut wajah Lysandra serasa sangat asing, terutama caranya menatap—tajam dan menantang. Namun, ia segera menyingkirkan segala pikiran negatif dan mengabaikan instingnya sendiri.
Bocah kecil yang sedari tadi tidak bersuara, mengulurkan tangan dan menyentuh menyentuh dahi Excelsis hingga ia terbangun dalam kondisi linglung.
"Aku di mana?" Excelsis mengedarkan pandangan dan menyadari masih terkurung di dalam mobil yang sudah melaju. Lokasi pohon tumbang sudah tertinggal jauh di belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]
Fantasy[Pemenang Wattys 2022 Kategori Fantasi] [Reading List WIA Periode ke-2] Kehidupan Trio SEL (Schifar, Excelsis, Lysandra) berubah drastis setelah mereka menjadi magnet dari segala kejadian-kejadian di luar nalar, terutama Lysandra, gadis keras kepala...
![Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]](https://img.wattpad.com/cover/314800084-64-k593850.jpg)