Chapter 1.0 - First Encounter

646 80 121
                                        

Barandal Valley, Arlukha. Perbatasan Utara hutan Morgult. Masa kini.

Siluet seseorang tengah meringkuk di atas sebongkah batu besar. Udara dingin menggigit kulit yang tereskpos tanpa terbungkus sehelai pun pakaian.   ASedari tadi ia sibuk menggosok-gosok kedua lengan yang memiliki tonjolan-tonjolan keras, meski masih jauh dari bentuk ideal para binaragawan di luar sana. Toh, masih bisa dibanggakan karena tubuh bugar tersebut bukan hasil menghabiskan banyak waktu dan uang kepada pemilik gym yang bertebaran di kota dengan iming-iming muluk.

Sayang, upaya yang digerakkan insting tersebut masih belum cukup menghangatkan dirinya. 

"Ke mana si Maniak Tua itu! Kenapa dia belum muncul juga!" sembur Schifar, kesal pada sosok yang tidak kunjung datang.

"Menyadari kalau aku penting di hatimu?"

Suara berat dan rendah yang sangat dikenali, langsung membuat sang pemuda menoleh dan mendapati pria tinggi berbadan kekar tengah mendekat. Ia segera menangkap dua potong pakaian yang dilempar ke arahnya dan menghilang sebentar di balik batu.

Sembari menunggu, sosok yang baru datang menoleh ke arah serigala hitam besar dari balik kaca mata hitam yang selalu bertengger manis di pangkal hidung. Embusan napas makhluk sekarat yang tergeletak di dekat mereka semakin pelan dan lemah. Meski tidak berdaya, keinginan hidupnya yang tinggi justru menyusahkan kerja malaikat pencabut nyawa dalam menunaikan tugas.

Gunther Orveyn Convel mencibir, "Payah, aku menunggu sia-sia selama dua jam dalam kebosanan dan masih belum beres juga?"

Hanya dengan nadanya saja, Schifar bisa membayangkan air muka sang paman. Pria berambut cokelat tua dan sedikit bergelombang itu pasti tengah mencebik sambil mengangkat alis setebal ekor serigala laknat di depan mereka. "Jangan melebih-lebihkan! Aku tahu kau baru tiba di sini."

"Jadi, kapan kau bereskan makhluk bau itu?" Gunther menjepit hidung, mempertegas ketidaksukaannya.

"Seharusnya binatang laknat ini sudah lenyap dari tadi. Kau saja yang terlambat datang ke sini!" Schifar melempar pandangan 'itu semua salahmu, Paman menyebalkan!' ke arah Gunther yang malah memamerkan senyum selebar tiga jari sambil terkekeh, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Bahkan, terlalu santai menghadapi kegusaran keponakan tercinta.

Entah sudah berapa kali Schifar berpikir jika sang paman tidak pernah serius dalam menjalani hidup yang keras dan cenderung menyiksa segala makhluk bernapas di dalamnya. Namun, di balik kedongkolan yang sering mencekik sanubari, ia sangat mengagumi Gunther. Bagaimana lagi, pria itu adalah satu-satunya keluarga yang masih tersisa di dunia ini.

Di tangannya sekarang tergenggam sebilah karambit merah berujung bengkok yang diselubungi aura merah menyala. Di bagian gagang, terukir simbol klan Wulfric. Pada bagian hulu, terdapat sebuah lubang untuk disisipi jari pengguna dengan tujuan mengamankan posisi sehingga tidak mungkin lepas dari genggaman. Benda inilah yang ditunggu-tunggu untuk digunakan melenyapkan musuh yang sudah dirobohkan sejak dua jam lalu. Tentu dirinya tidak perlu bergantung pada pria yang jarang tepat waktu itu jika bisa mengaktifkan pusaka sendiri.

Schifar mendekat perlahan-lahan, penuh antisipasi.
Mata sosok yang tengah terbaring, tiba-tiba terbuka hingga mereka bertatapan. Mata galak yang membelalak itu dipenuhi angkara murka. Meski sekarat, tatapannya jelas mengirim pesan 'aku tidak akan mati sendirian malam ini!'

Gunther, pria pemilik tato daun shamrock—daun semanggi bermotif etnis berhelai empat—di lengan kirinya yang telanjang, sangat hafal dengan tatapan penuh kebencian dan dendam kesumat di hadapan mereka. Ia menengadah, memandang tirai awan hitam yang disibak perlahan oleh tiupan angin, seakan membantu dewi pucat di atas sana untuk mengintip dan memuaskan rasa ingin tahu terhadap kegaduhan yang terjadi. "Sebaiknya cepat sebelum kepalanya mengarah ke atas sana."

"Aku tahu." Schifar mengubah posisi karambitnya untuk mode menusuk. Ia melompat dan mendarat di dekat dahi serigala hitam yang menggunakan sisa-sisa tenaga untuk menggerakkan kepala ke arah ekor yang terkena bias pertama pendar keperakan dari bola penghias malam.

Cahaya bulan purnama terus bergerak cepat seiring dengan semakin tersibaknya awan, hingga hampir mencapai bagian kepala si makhluk bertaring. Schifar tidak boleh membuang waktu lebih lama, keadaan bisa saja berbalik dan menguntungkan musuh. Dengan satu gerakan cepat terarah, ujung tajam karambit melesak masuk ke sebuah tanda berbentuk bulan sabit keemasan di dahi serigala hitam, seolah-olah tanda tersebut terbuat dari mentega.

Bila cahaya putih keperakan di atas sana sempat mengenai tanda ini, Schifar dan Gunther benar-benar berada dalam masalah besar. Bukan hanya sang makhluk berukuran abnormal di depan mereka sembuh dari segala luka secara instan, tapi kekuatannya akan berlipat ganda.

Seberkas cahaya merah menyeruak dari tanda tersebut saat karambit dicabut. Kaki Schifar buru-buru melakukan tolakan untuk melompat sejauh mungkin dari tubuh binatang besar yang melaung penuh derita. Ia berhasil mendaratkan kaki dengan aman di atas hamparan rumput dan merosot jatuh. Seluruh tenaganya tersedot karambit milik Gunther, hal alami yang dialami seseorang sebagai efek samping dari menggunakan pusaka milik orang lain. Hingga kini dirinya belum bisa menyamakan frekuensi energi mereka demi mengecilkan efek samping. Karena sudah di atas angin, ia langsung merebahkan diri dan menatap angkasa.

Gunther mengambil pusaka miliknya yang sudah kembali ke bentuk semula—sebuah kalung garnet oval berlilit kawat perak berujung tajam seukuran pisau lipat. Sewaktu diselubungi aura merah, karambitnya akan membesar tiga kali lipat.

Perlahan-lahan, tubuh serigala besar di ujung mata mereka terurai seperti dimakan oleh segerombolan rayap yang bergerak dengan kecepatan 200 mil per jam, meninggalkan jejak abu hitam yang langsung buyar diterbangkan angin. Dalam sekejap, tubuh besarnya hilang tak berbekas. Hanya rerumputan rebah yang menjadi saksi biru bahwa makhluk sebesar truk tersebut pernah terbujur di sana.

"Aku akan mengambil mobil. Mau kugendong seperti pengantin?"

"Pergilah," balas Schifar sambil memutar bola mata, lelah menanggapi kelakar sang paman yang identik dengan kaca mata hitam.

Hingga kini ia sulit mengerti dengan kebiasaan eksentrik Gunther yang tidak pernah melepas kaca berlensa gelap dalam kesempatan apa pun. Malam ini pun tidak menjadi pengecualian. Ia dengan santai dan tanpa kesulitan menembus pepohonan lebat di sekitar mereka. Tidur pun, kedua matanya masih tertutup kaca mata tidur.

Schifar sudah bosan mempertanyakan kegemaran yang menjurus ke obsesi tidak wajar terhadap benda tersebut. Jawaban terkonyol yang pernah didapat adalah untuk mengendalikan libido. Tentu saja jawaban asal yang sering terlontar dari sang paman tidak bisa dipercaya begitu saja. Instingnya mengatakan Gunther menyembunyikan sesuatu.

***

Daun shamrock: Daun semanggi yang memiliki tiga atau empat helai daun berwarna hijau. Tato milik Gunther bermotif etnis dengan 4 helai daun. 

==================================
Galeri:

Atas, bentuk asli dari karambit milik Gunther, sebuah kalung garnet

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Atas, bentuk asli dari karambit milik Gunther, sebuah kalung garnet.

Tengah, bentuk umum pisau karambit. Bayangin aja bilahnya merah (dari garnet soalnya), gagangnya perak dengan ukiran klan Wulfric. Lingkarannya warna merah juga.

Bawah, cara menggunakan karambit. Karena Schifar pake buat nusuk, jadi arah melengkungnya ke dalam, tidak keluar seperti di gambar.

==================================

Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang