Chapter 4.1 - Kill Or Be Killed

87 21 0
                                        

Kabut yang selalu membalut Hutan Eorwood sangat membatasi pandangan Schifar. Kesunyian mencekam dan tekanan aura aneh hutan yang terkenal sebagai lokasi bunuh diri ini, membuatnya tidak nyaman. Pantas saja tidak ada satu pun manusia yang mau menguji nyali, kecuali memang mereka bosan hidup.

Semua bermula dari kejadian dua puluh tahun lalu, sewaktu peristiwa genosida satu desa oleh petinggi pemerintah kala itu. Sesaat setelah pendaki membawa pulang sebongkah emas sebesar kepalan tangan orang dewasa, beritanya langsung menyebar dan mengabaikan fakta tempat tersebut merupakan tanah keramat dari suku asli.

Para pengusaha pertambangan serakah mulai berdatangan untuk mengklaim wilayah di sekitar hutan untuk dijadikan pabrik peleburan dan pengolahan emas. Salah satu pengusaha serakah tersebut adalah Robert Stroff, putra seorang pejabat penting pemerintahan yang diberitakan hilang setelah memasuki hutan dari bagian selatan, tempat para penduduk Desa Cainfale bermukim. Beberapa hari kemudian, ia ditemukan tewas mengenaskan dengan luka besar seperti dilumat binatang liar pada bagian kepala.

Gerard Stroff, menggunakan kuasanya sebagai Menteri Pertahanan, mengerahkan pasukan militer ke desa ini dan meminta siapa pun yang bertanggung jawab atas kematian putranya menyerahkan diri dalam waktu 3x24 jam, atau ia akan meluluhlantakkan seluruh bangunan yang ada.

Ternyata, ia tidak hanya menyasar bangunan tapi juga sekitar 150 penduduk desa yang telah beranak cucu di wilayah ini selama lima abad lebih. Seorang gadis muda bernama Nams Xirana memilih mengorbankan diri untuk menyelamatkan warga desa dengan mengaku sebagai pembunuh Robert Stroff.

Nams dieksekusi tanpa melalui proses pengadilan. Setelah diikat pada sebatang pohon tua berpagar kayu setinggi pinggang yang digantungi kertas-kertas mantra, ia diberondong tembakan senapan berlaras panjang oleh sekitar sepuluh orang tentara.

Si menteri korup tidak menepati janji meski Nams telah mati mengenaskan. Tindakan genosida terhadap penduduk desa didasarkan pada ketakutan tidak beralasan pada desas-desus yang mengatakan suku di Desa Cainfale menguasai sihir, mengendalikan orang lain, serta memanggil orang mati. Insiden buruk ini tidak pernah terekspos media karena memang ditutup rapat-rapat oleh pemerintah. Alasan lain, tentu saja uang dan pengembangan bisnis.

Tidak lama kemudian, sebuah pabrik peleburan dan pengolahan emas berdiri di atas darah banyak orang. Namun, tiga tahun kemudian terjadi gempa bumi besar. Retakan-retakan tanah yang dihasilkan dari pergesekan lempeng pegunungan, menyemburkan asap putih dan berubah menjadi kabut tebal yang menyelubungi hutan bagian selatan. Seluruh bangunan pabrik luluh lantak dan tidak pernah dibangun kembali.

Kasus terakhir sempat menarik perhatian khalayak umum dan memaksa pemerintah turun tangan. Sepasang aktivis lingkungan hidup dilaporkan hilang setelah memasuki kawasan yang telah diberi papan peringatan dan pagar kawat berduri. Tim pencarian yang dikerahkan juga mengalami nasib yang sama sejak memasuki hutan.

Setelah pencarian dihentikan, pemerintah melarang siapa pun untuk memasuki wilayah hutan. Untuk memastikan tidak ada yang melanggar aturan, empat pos penjagaan didirikan dengan radius dua puluh meter dari pusat hutan, area yang benar-benar bersih dari kabut.

***

Schifar mengikuti rute yang diberikan Gunther meski lebih panjang dan berbahaya demi menghindari pos penjagaan. Ketatnya pos-pos yang tersebar melebihi pos penjagaan perbatasan antar negara.

"Dari semua tempat. Kenapa harus di sini, hah?" gumamnya setelah berjalan sekitar sepuluh menit menembus kabut yang semakin tebal. Meskipun hutan ini tidak terletak di puncak gunung, semakin masuk ke dalam oksigen semakin tipis. "Ck. Menyusahkan!" Sambil terengah-engah akibat kekurangan pasokan oksigen, ia bersandar pada sebatang pohon besar dan mencari tajuk 'Mantra' pada catatan pribadi di ponsel. "Aeriola Manifestra."

Tidak butuh waktu lama bagi Schifar untuk merasakan efek dari mantra yang dirapalkan. Sekarang ia tidak kesulitan bernapas setelah sekujur tubuh diliputi aura biru terang yang berfungsi untuk menyuplai oksigen. "Sempurna. Tidak perlu repot-repot bawa tabung oksigen."

Kabut di pusat hutan tidak setebal yang berada di area luar. Namun, suara burung hantu serta derap kaki hewan pemburu malam mulai mengganggu pendengaran Schifar, menjadi isyarat untuk waspada. Kehadirannya sama sekali tidak disambut hangat oleh para penghuni di sini.
Kuku-kuku jari Schifar perlahan meruncing dan memanjang, persis dengan perubahan yang dialami Aithne. Rambut biru gelap semuram langit malam memudar hingga berakhir menjadi abu-abu terang dengan sedikit bias kebiruan. Karena udara yang sangat lembab, hidungnya harus bekerja lebih keras untuk mengendus sentira Lysandra yang tersamar dengan bebauan lain.

Ia melepas lensa kontak kanan dan membiarkan mata perak cair sejernih kristal menyala seperti kucing, memampukan dirinya melihat dalam kegelapan sebaik melihat objek pada siang hari.
Telinga lancip berbulu di puncak kepalanya disibukkan oleh gemerisik daun yang beradu ketika dilewati, atau ranting-ranting kering yang patah terinjak. Polusi suara lain berasal dari para binatang yang memberi peringatan dini supaya ia tidak terus menerobos wilayah mereka, sedangkan yang lain memilih untuk melarikan diri.

Di antara para pemangsa, ada satu yang bernyali tinggi dan terus menguntit karena mendeteksi panas tubuh Schifar lewat lidah bercabangnya. Meski ia merayap perlahan untuk mengurangi gesekan sisik dengan jalan yang dilalui, pendengaran Schifar sulit ditipu. Ia berhenti, membiarkan ular seukuran Anaconda merasa di atas angin dan menyerangnya. Benar saja, setelah cukup dekat, mulutnya langsung terbuka lebar-lebar dan melancarkan serangan cepat dengan intensi membubuh.

Serangan berhasil dihindari dengan mudah. "Heh! Itu serangan terbaikmu?" ejek Schifar sambil menyeringai, "mengecewakan!"

Serangan kedua datang. Dengan gesit ia menghindar ke samping dan segera mundur untuk berlindung di balik pohon. Si makhluk kelaparan merayap mendekat dan menggulungkan tubuh ke pohon hingga tumbuhan berkambium tebal ini berderak patah.

"Sungguh? Ingin pamer kekuatan padaku?" Schifar segera berguling, menghindari patahan pohon yang tumbang dan mencari pohon lain untuk bersembunyi, menjauhkan diri dari makhluk melata yang baru saja membunuh satu pohon berusia ratusan tahun.

Ternyata tidak mudah melarikan diri dari ular agresif yang tidak ingin kehilangan makan sorenya. Ada delapan serangan membabi buta yang dilancarkan si ular albino sepanjang delapan meter terhadap Schifar. Hanya kelelahan fisik yang mampu menghentikannya untuk sejenak.

Kekecewaan Schifar bertambah karena mengira akan mendapatkan lawan yang tangguh, tapi ternyata hanya ular amatir yang bahkan tidak mampu membuatnya berkeringat. Ia memutuskan melanjutkan pencarian. Namun, langkahnya langsung terhenti karena desisan panjang dan keras dari arah belakang. Insting Schifar langsung berteriak kencang supaya ia merunduk dan berguling untuk keluar dari garis serangan lanjutan.

Tak!

Sesuatu yang keras tertancap pada permukaan keras lain. Schifar menoleh dan melihat ular berekor kalajengking terus menggeliat-geliat untuk membebaskan ekornya yang tertancap pada sebatang pohon.

Ular berekor kalajengking? Memang sulit dipercaya, tapi ekor ular itu memiliki ujung melengkung yang mirip dengan sengat milik kalajengking.

"Ini saatnya aku bilang 'wow' dengan serangan impresifmu itu?" Schifar berdiri sambil memasang senyum kemenangan sekaligus menghina. "Tadinya aku berniat mengampunimu, tapi sekarang tidak!"

Merasakan getaran haus darah Schifar, ular yang masih terperangkap menolak menyerah begitu saja. Ia masih memiliki satu senjata yang dapat digunakan dalam keadaan darurat. Kepalanya terjulur panjang dan sekali lagi membuka mulut lebar-lebar. Sambil mengencangkan otot-otot di sekitar mulutnya, cairan panas menyembur berkali-kali dari sepasang taring yang selama ini tersembunyi.

Semburan si ular albino mengundang decak kagum dalam dua aspek, yaitu jarak dan efek merusak yang dihasilkan. Pepohonan yang berada jauh di belakang Schifar langsung berdesis dan berasap. Bukan hanya kayu, bebatuan juga langsung kehilangan bentuk akibat dilahap cairan korosifnya.

"Argh!"

***



Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang