Chapter 3.0 - Faint

102 18 4
                                        

"Pamanmu lucu."

"Hegh. Sama sekali tidak." Schifar melepas dasi dan mengikat asal rambutnya dengan kain biru tua berbahan nilon tersebut hingga terjurai seperti buntut kuda.

Sekilas Excelsis menangkap sesuatu yang selalu tersembunyi di balik sejumput poni panjang di sisi wajah Schifar, sebuah luka lama. Bila tidak salah hitung, ada empat garis melintang dari pelipis kiri dan berakhir di area tulang pipinya. "Hei, luka itu kau dapat dari mana? Dicakar?"

"Lawan yang kuat." Schifar menatap tajam ke arah jalan. Ia tidak sedang menantang siapa pun untuk berkelahi, tapi hanya tidak ingin banyak bicara saja.

Lawan yang kuat? Singa, harimau, leopard, jaguar ....

Excelsis bingung karena sosok 'lawan kuat' yang mengantri dalam kepalanya hanyalah deretan hewan karnivora berkuku tajam penghuni kebun binatang. 'Apa tidak ada manusia yang bisa menjadi tandingannya hingga ia harus berkelahi dengan binatang?' adalah pertanyaan yang sempat lewat seperti iklan berjalan dan menggelitiknya untuk bersuara, tapi diurungkan. Ia termasuk salah satu makhluk yang peka dan bisa menangkap sinyal yang disiarkan orang-orang melalui bahasa tubuh mereka. Sayang, kemampuan berkualitas tinggi ini belum dikuasai dengan baik oleh Lysandra.

Di lampu merah, tangan Schifar bergerak untuk mencopot tiga kancing teratas. Gerah, meskipun pendingin udara masih berfungsi dengan baik. Entah mengapa, Excelsis merasakan getaran depresi sekaligus agresi yang kuat darinya. Dua getaran emosi yang bertolak belakang ini membuatnya bingung sekaligus khawatir dengan kondisi kejiwaan lelaki itu.

Nyaris dua menit berlalu sebelum Schifar sadar dengan sepasang mata yang sedari tadi menatapnya lekat-lekat dalam diam. "Ada apa?"

"Kau baik-baik saja?"

"Ya. Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"

"Tidak, tidak apa-apa." Excelsis merasa konyol sendiri karena mengkhawatirkan hal yang tidak perlu.

Ini bukan pertama kali Excelsis merasa Schifar terlalu dingin dan tak bersahabat bila getaran tadi tertangkap sinyal pekanya. Namun, ia tidak mampu membaca isi hati orang dan hanya bisa bertanya-tanya mengapa seseorang terkadang mengeluarkan gelombang aneh seperti itu. Di luar sikap dingin, Schifar hanyalah seseorang yang sangat perhatian dan gampang tersipu—meski yang bersangkutan tidak akan mengakui—bila menghadapi godaannya dan Lysandra.

Jika ditelusuri dari awal, memang hanya Lysandra yang berusaha berusaha mendekati Schifar karena bagi Excelsis, murid pindahan di tengah semester adalah ancaman. Berita buruknya, ancaman itu terbukti benar. Ia kalah baik dalam bidang akademik dan bela diri.

Bayangkan saja, dalam tiga bulan ia sudah terpilih menjadi ketua dalam kegiatan ekstrakurikuler kenpo laki-laki. Pertengkaran tidak bisa dihindarkan selama sebulan ke depan. Excelsis menyebut masa-masa yang harus dilaluinya sebagai 'berjalan dalam kegelapan'.

Hal yang menjadi topik pertengkaran selalu menyangkut penggunaan gym sekolah sebagai tempat latihan, masing-masing kelompok—perempuan dan laki-laki—sama sekali tidak mau mengalah. Sebenarnya bukan Schifar yang sering mencari masalah, tapi wakil dari kelompok laki-laki yang sedang cari perhatian terhadap ketua kelompok perempuan.

Excelsis hanya anggota biasa yang ingin memetik hasil dari latihannya. Namun, pertengkaran kedua kelompok sering berjalan alot hingga tidak jarang bubar begitu saja. Bagaimana lagi, kebanyakan dari para anggota dari kedua pihak adalah sepasang kekasih yang mencari-cari waktu untuk bertemu di luar jam pelajaran tiga kali dalam seminggu. Ia beranggapan Schifar sebagai ketua tidak bisa mengontrol para anggota untuk tidak mencari gara-gara dengan kelompok perempuan. Bukan, bukan tidak bisa mengontrol, ia bahkan hampir tidak pernah muncul dalam sesi latihan dan membiarkan si wakil tengil yang bertindak atas namanya.

Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang