Chapter 6.5 - Vessel of Freynir

63 16 0
                                        

"Vampire ... Vyraswulf." Excelsis menunjuk Maeveen dan Aithne bergantian. Baru kali ini bagi Excelsis menelan ludah seperti menelan biji kedondong.

"Ya. Vampire dan Vyraswulf," balas Aithne sambil menepis pelan jari Excelsis. "Kau tahu apa itu Vyraswulf?"

"Ba—bangsa penguasa darat, ma—manusia seri ... gala ...." Excelsis berusaha menjabarkan informasi yang ia terima dari kelas sejarah Nona Gale.

"Oh, rupanya kau sudah tahu."

"Sedikit ...," Excelsis menekan ruas pertama kelingkingnya dengan ujung jempol.

"Sejak kapan? " Aithne bangkit dan menarik kursi dari meja belajar Excelsis lalu duduk bersedekap sambil melipat kaki.

"Nona Gale, guru Sejarahku—di sekolah."

"Begitu." Aithne memainkan ujung kukunya sambil terus menatap Excelsis. "Apa saja yang dia jabarkan?"

"A—aku tidak mendengar semuanya, karena pelajaran itu sangat membosankan, Ma." Excelsis tertawa kaku dan menghindari tatapan Aithne.

"Tidak akan membosankan bila denganku. Sekarang pasang telingamu baik-baik terhadap semua yang akan kami ceritakan."

Tanpa menunggu respon Excelsis, Aithne langsung melontarkan pertanyaan, "Freynir. Kau tahu siapa dia?"

Excelsis tidak yakin, tapi berusaha menerka, "Salah satu dari anak Kalbatama?"

"Ya. Dewi malang itu banyak menderita karena ulah Iora dan anak-anaknya, terutama Neoma—Si Dewi Bulan keparat itu!"

"Ai, kendalikan dirimu." Maeveen tahu pasti kemuakan Aithne.

"Ck, kenapa dengan menyebut nama hina itu membuat mulutku terasa kotor!" dengus Aithne. Dorongan untuk meludah sangat kuat, tapi harus ditahannya karena ia tidak ingin mengotori ruangan Excelsis. Aithne mengembus cepat dan kasar, lalu mengangkat mata untuk bertemu dengan milik Excelsis. "Freynir adalah Dewi Bulan yang pertama sebelum jabatan itu direbut si terkutuk yang tak perlu lagi kusebut namanya itu."

Dalam pandangan Excelsis, tatapan Aithne yang menajam itu seperti menghunjam jitu di jantungnya. Untung saja tidak ada lubang dan darah yang menyembur keluar.

"Kau tahu rahasia besar para makhluk yang katanya kekal itu?" Aithne mencondongkan tubuh sambil memicingkan sebelah mata.

"Apa, Ma?" Kebalikan dari Aithne, Excelsis justru membuka matanya lebar-lebar karena dibuat penasaran.

"Mereka ...." Mata Aithne mendelik ke atas. "Mereka itu bukan makhluk kekal seperti yang selama ini disebut-sebut. Mereka itu hanya sulit mati, tapi bukan berarti tidak bisa dilenyapkan," terang Aithne sambil menaikkan ujung bibirnya yang runcing. "Ada cara untuk melenyapkan mereka."

Tengkuk Excelsis menggelenyar melihat ekspresi Aithne yang membiarkan intensi jahatnya terumbar keluar begitu saja. Ide untuk membunuh dewa atau dewi saja sudah gila, tapi melihat kesungguhan di mata wanita ini membuat Excelsis sedikit mempertanyakan kewarasan Aithne.

Keheningan dipecahkan oleh Maeveen yang merasa perlu untuk menyela, "Cara seperti itu memang ada, tapi kenyataannya tidak semudah yang merasuk dalam kepalamu, Ai. Tidak ada yang tahu di mana benda-benda pusaka itu berada."

Bibir Aithne berkedut sambil menjeling pada Maeveen yang berhasil membunuh kesenangannya. "Ck."

Mata Excelsis sibuk bolak-balik memperhatikan orang tuanya yang tahu-tahu mogok bicara satu sama lain. Tidak ada lagi lemparan pandangan saling cinta yang menghangatkan hati gadis yang sekarang terjebak di tengah mereka. Harus diakui bila Maeveen membuka mulut, keadaan kikuk seperti ini kadang terjadi karena hanya pria ini yang bisa mengerem keliaran pikiran Aithne.

Virmaid: ARC I - The Beginning [FINAL REVISION]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang