Bab 16

230 38 0
                                        

"Inikah rumah pelacur yang kaubilang?" Atalya menunjuk pada rumah kuno berlantai dua yang berada di tepian ibukota bagian barat daya. Rumah itu barangkali sudah ditinggalkan sekitar setengah tahun lebih, karena lantai kayunya benar-benar kotor dan berdebu. Celah-celah dindingnya rusak akibat gerusan air hujan memiliki tumbuhan pakuan yang menyempil di mana-mana. Bangku dan meja pada terasnya sudah reyot, termakan oleh rayap dan dihinggapi sarang laba-laba.

Pintunya memiliki goresan pedang, entah siapa yang menorehkan itu. Jendelanya pecah sebelah, menunjukkan bagian dalam rumah secara samar. Kethra melihat jejeran sofa dan laci-laci. Sekuntum bunga mawar pada vas kaca kini hanya meninggalkan batang dan beberapa helai berwarna cokelat kehitaman. Tatapan mereka beralih pada atap, kondisinya sama mengerikan dengan sebagian besar rumah itu. Sisi kanannya miring, gara-gara gempa, dan bakal roboh sebentar lagi.

Morrigan bersiul, bersedekap dada di bawah jaket tebal yang melindunginya dari sinar matahari. "Apakah ada hantu di dalam?" Rumah itu cocok untuk film horror, pikir Kethra. Dulunya jelas elegan, terawat, dan menarik banyak mata. Namun sekarang hanya meninggalkan onggokan yang terancam roboh.

"Kau pernah bertemu hantu?" tanya Atalya, mengangkat sebelah alis. Morrigan menggaruk rambut bercabangnya dan mendesis. "Aku pernah melihat sosok terbalik di atap gudang. Di sana ada cermin –– sesungguhnya vampir sangat tak membutuhkan cermin karena toh bayangan kita takkan ada, tapi entah mengapa benda itu ada di sana –– dan aku melihatnya di pojok gudang. Berambut gimbal dengan mulut seperti hiu, tapi saat aku berbalik, ia tak ada."

"Kau lari?" balas Kethra. Bertemu dengan hantu adalah momen yang tak dialami semua orang, dan Iseul jelas menyadari jika baik si Kethra asli dan sebagian besar rekan-rekannya tak pernah melihat hantu seumur hidup.

"Aku melompat dan menunjukkan taringku, bersiap menerkamnya sampai tewas. Batinku saat itu adalah makhluk edan macam apa yang berani-beraninya mengganggu vampir, Penguasa Malam. Tapi ia benar-benar raib. Tak ada di manapun. Saat itulah pikiranku benar-benar salah. Ia memang sudah mati." Morrigan menyelipkan rambut ke belakang telinga, tak menyukai kisah itu sama sekali. "Aku pergi, tidak berlari, tapi dengan jantung berdebar-debar. Yah, itu adalah kali pertama dan terakhir aku melihat hantu. Aku tak berharap melihatnya lagi, serius. Tampang mereka mengerikan."

"Kau harus membaca novel horror. Kauakan menemukan lebih banyak hantu bertampang mengerikan dibanding hantu terbalik bergigi hiu," saran Atalya sambil nyengir. Ia memang suka keluyuran saat malam, tapi tak pernah ada hantu yang mewujud di depannya. Mungkin melihatnya saja, mereka sudah malas.

"Tidak. Aku lebih suka novel misteri, terutama Jahitan yang Takkan Usai. Taran sangat keren, apalagi kalau memakai jaket hitam panjang dengan rambut basah karena hujan. Berkali-kali aku membayangkannya pun bagian itu selalu membuat jingkrak-jingkrak." Senyuman Morrigan terbentuk seperti busur dan pipinya bersemu. Atalya memandangnya aneh, seperti melihat spesies makhluk hidup baru.

"Taran membunuh Zay, dan ia meninggalkan keluarganya begitu saja. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari pria itu," jawab Kethra acuh tak acuh. Dia berjalan masuk, mendengar Morrigan terkesiap di belakangnya. "Kau juga membacanya?! Kenapa tak ––"

"Cukup, aku tak mau membahas laki-laki. Mari masuk. Berdoa saja tak ada hantu." Kethra mendorong pintu, dan dengan mudahnya pintu itu menjeblak terbuka. Menampilkan ruangan apak serta dipenuhi debu. Mereka menatap sekitar, melihat kecoa dan laba-laba bersembunyi di kegelapan.

Kethra melihat beberapa lilin tersisa di meja, dibiarkan tergeletak bersama dengan tempat penampung berukir emasnya. Buku-buku tersusun di rak dengan sampul kulit. Sebagiannya adalah buku sejarah, tapi sebagian lagi ditulis dengan bahasa yang tak dimengerti Kethra. Dia meraih salah satunya, menemukan kartu perpustakaan pada halaman pertama. Seharusnya kau mengembalikan ini sebelum minggat, batinnya. Buku-buku yang harusnya terawat di rak perpustakaan kini malah menghabiskan sisa waktu mereka di rak penuh rayap.

Who the Real Villain? [2]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang