Bab 39

172 29 4
                                        

"Bagaimana dia bisa begini?" Kethra menatap Henrietta yang dibaringkan ke kasur. Mereka pulang cepat-cepat, tak sempat memberikan salam yang benar pada Tiberius, mengabaikan semua bangsawan sama sekali, dan melaju ke mansion dengan kecepatan tinggi.

Pada awalnya, Kethra pikir dia takkan melihat mansion itu dalam waktu lama. Namun, setelah pengakuan bahwa dirinya memanglah anak kandung Vaeril, dia akan tetap berada di sana sampai kapanpun.

Dia sontak menggeleng, bukan itu yang penting sekarang.

Henrietta telah dipakaikan baju, badannya cukup kecil sehingga pakaian Kethra muat. Saat kain dilepas, gadis itu dapat melihat betapa pucat dan dinginnya kulit Henrietta. Pembuluh darah tampak jelas. Itu kulit yang menyerupai vampir. Dan Henrietta memang telanjang bulat. Tidak ada bekas luka, tapi Kethra yakin sesuatu yang salah terjadi dalam tubuh gadis bermata ruby itu.

Siapa yang melucuti pakaiannya?

Dia jelas ditinggalkan dalam kondisi seperti ini untuk waktu yang lama, dihantam angin dingin malam. Tangannya lecet, tapi hanya itu. Seolah mencengkeram sesuatu dengan sangat kuat, bertumpu padanya selama berjam-jam.

Para lelaki masuk tak lama kemudian. Lorrin kelihatan habis menangis, Luther menepuk bahunya. Mereka mengamati tubuh Henrietta, meringis, menyadari ada yang salah. Atalya dan Morrigan juga ikutan masuk, mereka pasti mendengar kabar kembalinya Henrietta.

Mereka harusnya tak keluar kamar, terlalu berbahaya. Trauma karena disiksa oleh Max masih teringat jelas, alhasil mereka tak berani berhadapan dengan orang asing. Mereka juga tak nyaman jika berbicara terlalu lama, dan mengalami mimpi buruk tiap kali tidur. Kethra tersenyum pada mereka, menghadapi orang yang trauma membutuhkan kelembutan dan kesabaran.

"Kau menemukannya sudah dalam keadaan pingsan?" tanya Kethra, duduk di tepi ranjang.

"Ya, aku ke tempat itu untuk mengecek keadaan Henrietta. Aku mendengar segel monster tinggal dua yang tersisa, jadi aku khawatir padanya. Aku tak menemukannya di sabana, jadi aku melacak mana-nya. Dan ... ketika kutemukan dia sudah telanjang bulat. Tidak ada satu benang pun yang menutupinya," aku Lorrin. Dia merengut, memandang sahabatnya sedih.

"Mana kacau balau, kekuatan suci habis. Artinya hanya satu," kata Payne. Para siluman menyadari semua itu meski mereka bukanlah penyihir. Kekuatan mereka saja sudah cukup.

"Jiwanya sudah hilang kewarasan," tukas Kethra. Dia menempelkan tangan di dahi Henrietta, menyalurkan kekuatan untuk mencari keberadaan jiwa Henrietta. Jiwa itu harusnya tenang, tapi dia menemukan malah menemukan kekacauan. Tiap kepingannya seperti mulai meninggalkan kekosongan. Kethra juga menemukan keberadaan sihir hitam.

Sihir itulah yang mengacaukan seluruh kekuatan Henrietta.

Namun, sihir itu terlalu kuat untuk dibilang hanya berasal dari penyihir hitam. Kethra meremang, dia merasa seperti ditelanjangi. Sihir itu menggerogoti kekuatan Henrietta, meski sekarang hanya ada sisanya, seperti abu api. Api itu sendiri sudah padam.

"Ini bukan sihir hitam biasa, aku merasakan sesuatu yang sangat kuno. Sesuatu yang tak seharusnya terbangun," kata Kethra. Lorrim mengembuskan napas, mengangguk paham. Dia pun juga merasakan itu.

"Sepertinya itu iblis."

Semuanya berjengit. Iblis adalah makhluk yang sangat kuno, keberadaan mereka dikekang oleh dewa ratusan tahun lalu, jauh sebelum serangan monster. Mereka lebih mengerikan dibanding monster. Monster ialah anjing, dan mereka predator.

Predator paling mengerikan, yang mengacaukan dunia saat awal-awal penciptaannya. Iblis dikatakan muncul dari retakan tanah, sementara malaikat dari retakan langit. Dua kaum itu menyebabkan chaos, berlangsung ribuan tahun sampai para dewa turun tangan. Semua. Merekalah yang menciptakan iblis dan malaikat, mereka jugalah yang menyegel keduanya. Malaikat memang baik, tapi mereka melakukan kesalahan besar, yaitu ingin menciptakan makhluk baru setelah kekalahan iblis.

Who the Real Villain? [2]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang