Kethra tersenyum, tangannya diletakkan di belakang tubuh. Nyatanya dia tak marah sama sekali dengan pernyataan itu. Dia menerima dengan percikan aneh pada dadanya, dan mengenalinya sebagai sebuah kepuasan. Surai yang jatuh di dadanya kini tersibak karena tiupan angin, topinya sedikit terangkat. Dia menahan beban topi dengan tangan, wajahnya sedikit terangkat sehingga Erik bisa memandangnya.
Sorot kegelian pada mata putri Chandier itu.
"Tuan, saya bukanlah putri yang akan memenggal atau menikam sembarang orang. Saya bukanlah pembunuh. Saya tak menghabisi nyawa orang lain." Yah, itu tak sepenuhnya benar. Saat mengumpulkan sekutu, ada beberapa nyawa yang melayang karena dirinya, tapi itu tak perlu diungkit.
Erik sedikit membungkuk, bulu mata membentuk bayangan panjang pada pipinya yang tirus. Bibir berwarna merah itu menunjukkan senyum geli pula. "Benarkah? Saya bersyukur karenanya. Saya jadi tak takut lagi menemukan Anda menyusup ke kamar saya dan menikam saya."
Kethra mengangguk setuju. Memorinya berputar ke masa lalu, alasan di balik ucapan dan tindakan Erik menjadi seperti ini.
Itu tak lain adalah karena Erik sakit hati atas penolakan terang-terangan Kethra. Meskipun dia sendiri tak yakin Kethra putrinya atau tidak, tapi Kethra melihat ada sebuah harapan pada matanya. Harapan bahwa dia memang putri pria itu. Harapan menjijikkan yang membuatnya mual bukan main. Tampaknya gagasan Erik memiliki anak bersama dengan wanita yang dicintainya sangatlah indah.
Kethra bertanya-tanya apakah pria itu pernah membayangkan mereka bermain di padang bunga, menggelar karpet di bawah pohon sugar maple dan saling bertukar cerita seperti kawan yang sudah lama tak berjumpa. Tentu lengkap dengan makanan di keranjang, di mana mereka akan menyantapnya saat matahari berada di atas kepala.
Gagasan itu sangat menggelikan.
Mata Erik menjelaskan bahwa dia akan merebut Kethra dari Chandier. Pergi bersama-sama seolah apa yang barusan terjadi bukanlah apa-apa. Di mana Erik memandangnya sebagai harta peninggalan satu-satunya dari Daisy.
Kethra membencinya karena itu, dan bertanya-tanya apakah Erik terobsesi pada Daisy, dan apapun yang berhubungan dengannya.
Jadi, karena penolakan keras-keras, seperti menampar Erik ke kenyataan. Bahwa Kethra takkan mau pergi bersamanya. Dia marah, memutuskan memulai perang dingin di antara mereka. Dia sudah tak peduli apakah Kethra membencinya atau tidak, tapi dia akan menorehkan banyak luka pada gadis itu.
"Itu tak perlu dikhawatirkan. Saya cukup beradab untuk tak menyusup ke dalam kamar pria. Lagipula saya takkan mengotori tangan saya dengan darah," balas Kethra angkuh. Dia menelan ludah diam-diam, berharap gerak itu tak ditangkap oleh Erik. Sebuah kesadaran menyetrum dirinya.
"Saya kagum karena itu. Anda ahli pedang, jadi bukan hal mudah bagi Anda menancapkan pedang pada jantung saya." Erik menarik napas panjang. "Saya yakin, Nona, saya takkan bisa berkutik saat itu."
"Nyawa manusia bukanlah mainan. Dibanding itu, Anda harusnya memikirkan apa yang akan Anda katakan saat pengetesan nanti."
Sebuah kilat tampak samar pada mata Erik, gambaran atas kebingungan dan penasaran. Dia menarik diri, menjauh dua langkah dari Kethra. "Itu akan dijalankan?" tanyanya. Ada semburat gairah pada pipinya, tapi secepat itu datang, secepat itu pula menghilang. Kethra meragukan keberadaannya.
"Tidak perlu bertanya pun Anda pasti tahu itu akan datang. Kaisar bisa didesak atas kekuatan para bangsawan. Tidak peduli seberapa kuat dirinya, dia berada di takhta itu karena mereka. Nah, apakah Anda takkan mengubah pikiran Anda?"
"Tentang apa? Saya akan hadir dalam pengetesan itu?"
Kethra mengangguk singkat, dijawab dengan gelengan tegas dari Erik. Tatapan Erik tertuju pada kebun, yang ditumbuhi tembakau dan berbagai jenis tanaman lainnya. Vila ini hanya memiliki gerbang pendek, besarnya pun tak seberapa, dan tepat di depannya terdapat kebun asri nan indah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Who the Real Villain? [2]
Fantasy-Sang Penyihir atau sang Putra Mahkota- Kethra telah mengumpulkan sekutu yang cukup untuk masa depannya yang tenang saat monster menghancurkan Kekaisaran. Dia berniat jauh-jauh dari kekacauan, tidak mencemplungkan diri dalam bahaya. Namun, tampaknya...
![Who the Real Villain? [2]](https://img.wattpad.com/cover/329875587-64-k130398.jpg)