S.S-When He Made She Angry

142 22 5
                                        

"Apakah Anda yakin?"

Max memutar bola mata, dia sudah muak mendengar pertanyaan itu berkali-kali. Dia menaruh buku filsafat di meja dengan cukup keras, membuat Kethra menyipitkan mata.

Mereka saat ini berada di perpustakaan istana. Suasana sepi, tak banyak orang di dalam. Orang-orang itu pun tak mengganggu mereka, hanya memberikan salam sekilas sebelum akhirnya melenggang pergi. Sementara hari sudah mau petang, cahaya matahari kemerahan menerobos dari jendela lengkung. Membuat bayangan panjang di lantai, membuat wajah mereka lebih bercahaya dan terkesan lembut.

"Ya, memang kau tak mau ke sana?" Max berbisik. Penting menjaga suara di perpustakaan, apalagi ini perpustakaan umum. Siapapun yang masuk ke area istana diperbolehkan datang ke mari. Max sebenarnya punya ruang baca sendiri, dan berniat mengajak Kethra ke sana. Namun, gadis itu merengek ingin ke perpustakaan saja––dikarenakan Max tak memiliki buku yang dia cari-cari semenjak berminggu-minggu yang lalu.

Mau tak mau, Max mengiyakan saja. Konsekuensinya dia harus lebih berhati-hati. Siapapun bisa mendengar pembicaraan mereka.

Kedua anak kecil itu kini saling bertatap-tatapan. Kethra dengan tatapan sangsi, dan Max dengan tatapan ngotot dan penuh percaya diri. Si anak perempuan mengayun-ayunkan kakinya yang menggantung di kursi, berbeda dengan Max yang kakinya menempel di lantai. Dia sedikit jengkel karena bertubuh pendek.

Anak itu menutup bukunya, menggigit bibir. "Saya tak ingin kena marah Ibu." Dia berusaha memberikan perlawanan, mengundang dengusan Maxime.

"Kau ingin ke sana tidak?" Max mengulang pertanyaannya. Dia pun langsung mengangguk.

Oh, anak mana yang tidak ingin ke pasar malam?!

Demi apapun, Kethra sangat ingin ke sana, tapi Duchess melarang karena tak ada yang menemaninya. Vaeril dan Daisy sekarang sedang sibuk mengurus pekerjaan. Bahkan Warren tak luput dari tanggungjawab itu. Dia harus mengurus pembangunan bendungan, sehingga tak dapat menemani Kethra. Mereka juga menolak dia pergi bersama ksatria. Ksatria hanya bertugas melindungi, bukan menjadi teman. Lagipula, orang-orang akan menatap aneh karena ada anak bangsawan yang masih cukup kecil tapi berkeliaran hanya dengan ksatria.

"Nah, jadi ayo pergi. Ini satu-satunya kesempatan kita, tahu. Baginda dan Ratu sibuk dengan urusan tambang berlian yang baru-baru ini ditemukan. Mereka takkan menyadari aku pergi." Max belum menyerah membujuk Kethra. Ada alasan tersendiri dia melakukan ini. Pokoknya Kethra harus ikut.

Kethra menggaruk pipi, keinginannya untuk ikut semakin membesar. Seumur hidup, dia belum pernah ke pasar malam. Jangankan ke pasar malam, menginjakkan kaki di daerah pemukiman warga saja belum. Kehidupannya cuma seputar jamuan dan mendekam di mansion. "Kita masih kecil."

"Oliver akan menjaga kita, kau tahu dia sangat hebat." Max menyandarkan bahu ke kursi. Kethra menghela napas panjang. Itu benar. Oliver sangat kuat, padahal masih muda. Kemampuan sihirnya di atas rata-rata. Ditambah dengan sihir Max, harusnya itu cukup untuk melindunginya. Atau memastikan kondisi tetap aman.

Kethra pada akhirnya mengangguk. Godaan mencicipi makanan rakyat biasa dan mencoba berbagai permainan lebih besar ketimbang kekhawatirannya kena sembur Duchess.

✵✵✵

Kethra berkata pada Adel bahwa dia ingin tidur lebih awal. Dia berkata sangat lelah karena ujian sejarah dan tes berpedang tadi. Adel pun menyiapkan tidurnya tanpa banyak berkomentar. Selesai menggosok gigi dan mengganti pakaian, Kethra merebahkan diri di kasur.

"Selamat malam, Nona." Adel mencium dahi Kethra seperti biasa. Anak itu memejamkan mata, berpura-pura tidur.

Krieet.

Who the Real Villain? [2]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang