"Ada sesuatu yang kauinginkan, Kethra?" tanya Morrigan sembari menuangkan teh di cangkir Kethra. Mereka, para perempuan, tengah berkumpul di rumah kaca kediaman Chandier. Melakukan pesta teh sederhana untuk mengisi waktu luang.
Kethra menyeruput teh. Mereka memerhatikan tangannya yang pucat dan kurus. Wajah Kethra pun menirus. Namun, mereka berusaha tak murung. Mereka tersenyum, menanggapi Kethra dengan lembut, dan memastikannya gembira.
Sebulan ini, Kethra dimanjakan. Mereka tak membiarkannya melakukan apapun sendirian.
Kethra menyadari hal itu, dan membiarkannya.
"Yang kuinginkan?"
Sebulan ini, Kethra mengalami penurunan nafsu makan. Sebelumnya dia memang makan sedikit, tapi kali ini lebih sedikit. Dia sembuh dari demam lebih lama ketimbang Henrietta. Mereka mati-matian membujuknya makan lebih banyak, tapi paling banter dia makan tujuh sendok. Membujuknya minum obat untungnya tak sulit.
Intinya, mereka benar-benar harus bersabar.
Kethra sebenarnya tak ingin menyusahkan mereka, tapi tubuhnya mengkhianati itu. Tubuhnya menolak dimasuki makanan maupun minuman.
"Aku tak tahu. Semuanya sudah selesai, jadi aku merasa kosong."
Mereka kecewa mendengarnya. Padahal mereka bakal mengabulkan keinginan Kethra apapun itu.
Gadis itu melihat kekecewaan di mata keluarganya, dia pun melanjutkan, "aku akan memikirkannya."
Mereka tersenyum. Senang mendengar hal itu.
"Bagaimana keadaan Tuan Erik dan adiknya?" Terakhir kali Kethra mendapat kabar Graylock bersaudara dipenjara karena menipu bangsawan. Dia pun tak melihat mereka sejak di kuil pusat.
Henrietta, sosok yang kini sering bolak-balik dari istana, menjawab. "Dia sudah dikembalikan ke kerajaannya, Kekaisaran meminta pertanggungjawaban. Mereka memberikan uang kompensasi, disampaikan langsung oleh keluarga Duchess."
Henrietta tetap menjadi Saintess, dan bersama Kyllian, mereka memimpin kuil. Keberadaan Henrietta menggeser posisi Kyllian, tapi pemuda itu tak mempermasalahkannya. Dan sebagai orang terpenting kedua di Kekaisaran, Henrietta menjadi sangat sibuk. Dia bolak-balik istana dan istana, lantas pulang ke mansion dengan keadaan tepar.
"Mereka keluargamu 'kan, Kethra?" tanya Morrigan. Putri itu akan diangkat menjadi Ratu beberapa bulan lagi, tapi ia terbilang santai. Ia menyambangi Kethra tiga hari sekali, sisanya berkutat dengan urusan klan. Hubungannya dengan Folca pun tak ada kemajuan, sampai akhirnya dia memilih untuk mundur perlahan-lahan. Ia tak mau memaksakan diri.
Kethra pun tak bisa ikut campur. Antara Mor yang gengsi, atau Folca yang bodoh dan tak peka dia tak dapat menyalahkan salah satu di antara keduanya.
Mor sendiri yang meminta supaya dia dan Atalya tak ikut campur. Ia benar-benar ingin menutup perasannya dengan damai.
"Kami –– Chandier –– tak dekat dengan mereka sama sekali, tapi yah, kalau dibilang hubungannya buruk sekalipun, tak bisa." Kethra melirik air mancur di tengah rumah kaca. Kala dia menatap diri sendiri yang telanjang, dia mengembuskan napas lega karena tak mendapati tanda apapun seperti ikatan sebelumnya maupun kutukan Mor. Lehernya tak memiliki bekas luka, tapi cuma itu poin untungnya.
Tubuh yang melemah terus mengancam hari-hari Kethra. Begitu membuka mata di pagi hari, dia mendapati tubuhnya makin lemah. Henrietta sebisa mungkin menyembuhkan, tapi tak berbuah banyak. Kethra bakal berterima kasih, berkata bahwa usahanya sama sekali tak sia-sia.
"Halo, Nona-Nona."
Mereka mengalihkan pandang, menemukan Lorrin dan Warren. Keduanya tersenyum, menghampiri mereka dengan pakaian rapi. Yang satu memiliki jubah tersampir di bahu, khas penyihir. Yang lain mengenakan doublet, khas bangsawan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Who the Real Villain? [2]
Fantasia-Sang Penyihir atau sang Putra Mahkota- Kethra telah mengumpulkan sekutu yang cukup untuk masa depannya yang tenang saat monster menghancurkan Kekaisaran. Dia berniat jauh-jauh dari kekacauan, tidak mencemplungkan diri dalam bahaya. Namun, tampaknya...
![Who the Real Villain? [2]](https://img.wattpad.com/cover/329875587-64-k130398.jpg)