S.S-When He Lost Her

374 24 23
                                        

Folca adalah pangeran klan serigala yang dikenal lemah dan tak berguna. Dengan kedua hal itu, ia takkan bisa meneruskan takhta. Sejak kecil, Folca sering sakit-sakitan sampai membuat repot satu istana. Sakitnya tambah parah saat musim dingin, karena suhu yang menurun. Dalam setahun, ia bisa jatuh sakit lebih dari sepuluh kali.

Ayahnya tak pernah mengeluh. Meskipun masyarakat klan serigala maupun masyarakat luar berkata betapa tak bergunanya Folca, tapi ia tetap menyayangi putranya itu. Ia tak pernah pilih kasih, juga tak pernah memandang remeh anak-anaknya.

Beruntung juga saudara-saudara Folca tak mengucilkan serigala itu. Mereka cukup canggung, tapi tak saling membenci.

Folca sangat beruntung mendapat keluarga seperti mereka. Si serigala tak bisa membayangkan lahir di keluarga vampir atau klan sadis lain. Sudah bisa dipastikan ia bakal mati sebelum menginjak usia lima tahun.

Namun, lihat sekarang. Ia sudah menginjak usia dua puluh tiga tahun. Tubuhnya makin sehat, tak seperti dulu. Tampaknya ini karena efek perang setahun yang lalu. Ia tak menyangka bakal banyak berubah sejak insiden itu. Insiden yang membuatnya makin tangguh, berani, kuat, tapi juga makin sedih.

Banyak yang meninggal dari klannya, tapi dibanding semua itu, ia sangat sedih karena kepergian Kethra. Inti keluarga keduanya. Gadis yang mengajarkan banyak hal, tak pernah memandangnya sebelah mata, juga berusaha mengikutsertakannya dalam beberapa misi.

Namun, kini Kethra Helga Chandier telah meninggal. Seluruh dunia dibuat heboh, bertanya-tanya mengapa sang pahlawan perang meninggal. Nyatanya, fakta bahwa Kethra dikutuk disembunyikan dari publik. Hanya pihak keluarga dan Kaisar yang tahu.

Gadis itu dimakamkan sangat terhormat di makam pahlawan Kekaisaran. Iring-iringannya sangat banyak, seperti pawai. Alih-alih bersorak dan tertawa seperti pawai pada umumnya, mereka berjalan dengan khusyuk dan tenang. Tidak ada ribut-ribut.

Vaeril masih susah merelakan putrinya sampai sekarang, padahal sudah dibujuk banyak orang. Karena katanya jika keluarga tak merelakan orang yang telah mati, maka jiwanya tak bisa tenang. Henrietta bersikukuh bahwa jiwa Kethra sudah tenang sekarang, karena dilindungi oleh dua dewa sekaligus. Namun, itu tak membuat mereka berhenti membujuk Vaeril. Ini demi kesehatan sang Duke sendiri.

Berbeda dengan Vaeril yang tenggelam di antara rasa kehilangan, Warren sangat sibuk. Dia mengambil alih sebagian besar tugas Duke, berkata ini salah satu cara untuk merelakan Kethra. Dia tak bisa terpuruk seperti Vaeril.

Keluarga Kethra yang lain pun meniru Warren. Henrietta sibuk dengan urusan kuil bersama Kyllian, Lorrin dengan urusan menara penyihir, Atalya dan Mor dengan urusan Putri Mahkota, Weiss dengan urusan ketua serikat, dan Rae dengan urusan ksatria. Kabarnya pemuda itu akan diangkat menjadi Panglima Pasukan Kekaisaran.

Folca?

Dia tak punya banyak kesibukan, alhasil sangat susah melupakan Kethra. Seringkali dia melihat gadis itu di dalam mimpi. Alih-alih menyeramkan, mimpi itu sangat indah. Kethra tampil dengan pakaian putih suci, wajah berseri yang sangat cantik, dan senyuman yang sangat tulus.

Seumur hidup, Folca hanya pernah melihat satu kali Kethra tersenyum seperti itu.

"Kethra ... semoga kau selalu tenang di alam sana." Folca memanjatkan doa saat berkunjung ke kuil.

Begitu selesai berdoa, ia kembali ke istana. Di tengah jalan, ia bertemu dengan salah satu adiknya, Dian. Mereka cuma beda tiga tahun, tapi Dian tampak lebih tua. Atau memang ia yang punya wajah terlalu muda. Sejujurnya, wajah inilah satu-satunya kelebihan Folca. Ia diakui pria tertampan dan tercantik di benua. Kata orang-orang, sih.

"Kak, Putri Morrigan datang, ia menunggumu di gazebo timur."

"Oh, begitu? Kenapa kau tak memanggilku tadi?" balas Folca. Sejak perang, hubungan vampir dan serigala cukup membaik. Ingat, cukup. Bukan benar-benar baik. Setidaknya, mereka tak saling menyerang jika tak ada yang menyulut. Kini sudah menjadi hal biasa vampir di wilayah teritori serigala, begitu juga sebaliknya.

Who the Real Villain? [2]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang