Bab 21

196 30 0
                                        

"Saya mendengar kabar dari Count Haynes. Katanya satu rantai pada pilar penjaga monster sudah hancur. Sekarang tersisa empat." Warren memakan telur setengah matangnya tanpa minat. Itu makanan terakhir di piringnya, tapi dia sudah kehilangan nafsu meskipun menyukai telur setengah matang.

Berbeda dengan Kethra yang tak menyukainya, sehingga piringnya tak pernah diisi dengan itu. Dia memakan potongan daging ham terakhir, mengecap rasa gurih dan pedas yang mengingatkannya pada makanan Korea. Mendadak dia rindu makanan-makanan pedas yang menjadi teman saat menonton film atau mengerjakan tugas sekolah.

Vaeril menegggak wine, mendesah lelah akibat semua kabar yang datang. Mereka semakin terdesak karena tuntutan bangsawan, belum lagi harus mengurus Duchy yang kacau balau. Ini sudah hampir sebulan, mereka sadar waktu pengetesan akan datang sebentar lagi.

Kaisar Tiberius berusaha mengundur-undur kasus ini, tapi tampaknya sebentar lagi dia akan angkat tangan.

"Semakin sedikit rantai, maka semakin kuat pengaruhnya. Jadi, daerah mana yang terkena bencana akibat terlepas rantai itu?" tanyanya. Warren akhirnya menjauhkan piring, meraih serbet di sisi kanan meja yang bertemankan jejeran garpu dan sendok dalam berbagai ukuran. "Wilayah Marquess Dalkon Cernin. Semuanya hancur karena gempa bumi dahsyat itu."

"Dan mansionnya? Itu adalah salah satu mansion paling kuno di Kekaisaran," jawab Vaeril. Keluarga Cernin tidak memiliki banyak pengaruh pada politik, tapi mereka adalah salah satu keluarga yang didirikan saat Kekaisaran lahir. Mereka bergerak di bidang budaya dan sosial, dan benar-benar netral. Vaeril tak menemukannya menuntut pengetesan DNA, dia hanya diam sembari memberi tatapan seolah-olah ingin segera minggat dari istana.

"Ayah, mansion kita lebih kuno dibanding mereka, tapi yah ... itu hancur setengah. Keluarga Marquess saat ini masih bertahan di sana, kehilangan sebagian harta, dan harus mengurus wilayah mereka. Marcionness mengalami luka-luka berat, putri kedua mereka meninggal." Warren mengembuskan napas panjang. "Itu tragedi besar. Sudah ada sepuluh wilayah kekuasaan bangsawan yang hancur. Yang lain adalah wilayah netral yang dikelola Kekaisaran. Saya takut wilayah kita juga bernasib sama seperti mereka."

Wilayah Duchy memang berada di ambang kehancuran, embusan napas lega karena berkurangnya bencana takkan ada lagi sekarang. Hanya ada sentakan napas tegang dan mata bergetar.

"Kita berdoa saja pada dewa supaya selalu diberi perlindungan. Kita juga tak bisa kabur atau berpaling dari masalah ini," balas Vaeril. Kethra dan Warren mengangguk paham. Kethra skeptis dewa akan mendengar doa mereka, karena selama ini semuanya berjalan tanpa campur tangan mereka, tapi orang-orang di seluruh dunia tak pernah berhenti memanjatkan doa. Acara-acara itu semakin sering dilaksanakan, dan kuil-kuil selalu penuh setiap harinya.

Kethra tak tahu apa yang direncanakan oleh dewa. Atau apa yang sebenarnya mereka ketahui. Apakah mereka akan terus bungkam, tak peduli pada dunia ini? Mereka adalah makhluk abadi yang tak membutuhkan siapapun, tapi apakah mereka bakal melepaskan pemuja-pemuja mereka begitu saja?

Kethra mendadak berharap bertemu dengan oracle. Mereka adalah sosok yang mengetahui jalan kehidupan ini, dan mungkin para dewa-dewi diam karena oracle memberitahu dan menyarankan mereka untuk tak ikut campur. Dalam sejarah sendiri, oracle pernah beberapa kali turun ratusan tahun silam. Kethra berharap mereka segera muncul, menenangkan jiwa-jiwa risau dengan ramalan mereka.

Ramalan Dewa Cahaya sulit dimengerti. Mereka membutuhkan entitas lain untuk memperjelasnya.

"Kethra, bagaimana dengan penyelidikanmu?" Pertanyaan Warren mengangkat Kethra dari lamuan. Gadis itu mendapati piringnya sudah kosong, jadi dia menyingkirkannya.

"Aku belum mendengar kabarnya, tapi informan Weiss akan datang. Kami bertemu di kafe nanti. Tak perlu mempermasalahkannya, kalian fokus saja pada pekerjaan kalian." Kethra ingin meminum wine –– ya, pada akhir dia penasaran dan meminumnya, berujung muntah-muntah –– tapi dia tak mau kelepasan mabuk sebelum bertemu dengan informan Weiss. Sensasi membakar di kerongkongan dan getir di lidah bukanlah hal diperlukan saat pertemuan penting.

Who the Real Villain? [2]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang