Bab 22

190 29 0
                                        

"Lorrin, kau mau pergi ke mana?" Sesosok Elf mendadak muncul di belakang Lorrin, langkahnya begitu cepat dan gesit. Seketika Lorrin mematung, sesaat setelah menghadapnya, dia merasa mendengar detak jantungnya begitu jelas di telinga. Berdentam-dentam, diliputi kekhawatiran dan kegelisahan. Lorrin bertanya-tanya apakah Nira, Elf berusia seratus dua puluh tahun itu mendengarnya.

Lorrin menunduk, menatap Nira yang hanya setinggi tulang iganya. Nira mirip dengan Morrigan, pendek dan membuat orang-orang ingin melindunginya. Namun, apabila Morrigan mengeluarkan aura yang seolah berkata akan menggigit siapapun yang menyentuhnya, Nira memiliki aura kelembutan dan kemanisan khas anak kecil.

Dalam lingkup Elf, usianya memang muda, tapi seringkali para Elf menganggapnya masih berusia sepuluh puluh tahun. Nira bakal mencak-mencak, menggembungkan pipinya, berusaha terlihat galak, tapi gagal total. Yang lain takkan tahan mencubit pipinya. Tak peduli ia menangis atau merengek. Evaine bakal marah, tapi tak membuat mereka jera.

"Aku mau ke kota, jalan-jalan. Katanya ada festival." Lorrin meraih alasan terdekat apapun yang bisa diraihnya. Nira cemberut, mahkota bunga di kepalanya jatuh menutupi mata. Mahkota itu terlalu besar, mungkin dibuat oleh murid lain.

"Kalau begitu, ajaklah aku." Lorrin menjilat bibir, Nira menaikkan mahkota bunganya dengan risih. Ia mungkin menolak mengaku, tapi semua orang menganggapnya masih berjiwa anak-anak. Nira adalah murid yang paling sering dijahili, tapi mereka semua sangat menyayanginya. Mereka memanjakannya, memberikan apapun yang ia inginkan.

"Maaf Nira, tapi aku tak memiliki cukup uang. Aku hanya akan berkeliling, tapi takkan membeli banyak makanan. Bukannya aku pelit, kau tahu ... aku tak bisa membelikanmu makanan di sana?"

"Aku takkan meminta dibelikan apa-apa." Nira adalah Elf yang miskin, ia menjadi murid Evaine untuk mendapatkan perlindungan. Lorrin selalu bertanya-tanya bagaimana bisa bocah semurni Nira dapat melewati tes seperti neraka dan Evaine sebagai setannya itu. Evaine menjatah murid-muridnya, tapi sekarang akhir bulan. Uang jatah sudah banyak berkurang. Nira takkan menggunakannya secara cuma-cuma.

"Aku benar-benar minta maaf, aku harus bertemu dengan seseorang. Itu akan sangat membosankan. Kauakan mengantuk dengan cepat," elak Lorrin lebih keras. Uangnya jujur masih banyak, hasil dari sisa-sisa jatah Josefin serta Edyth, juga dari pekerjaannya dulu.

Nira semakin cemberut. Lorrin mulai kelabakan, dia memasukkan tangan ke saku untuk menyembunyikan kekhawatirannya. "Andai aku punya pekerjaan. Kenapa semua orang memecatku?!" Ia tiba-tiba berkata begitu, tapi Lorrin menyunggingkan senyum terpaksa. Semoga Nira tak menyadarinya. "Yang perlu kaulakukan hanyalah belajar, tidak perlu susah-susah bekerja. Orang-orang yang memecatmu pastilah sinting. Elf bukan sembarang makhluk, tapi mereka memecatmu karena tak nyaman berada di dekatmu."

Tidak. Jelas bukan karena itu. Nira sangat payah dalam bekerja, sehingga semua bos memecatnya. Mereka tak pernah menyinggung dan selalu membesarkan hatinya, tapi di satu sisi membujuknya dengan halus supaya tak memaksakan diri. Supaya tak ada masalah yang terjadi lagi.

"Nira!" Seseorang merangsek dari tangga, memegang bahu Nira, otomatis seperti membungkuk. Itu Evaine, guru Lorrin yang menyebalkan tapi lebih waras ketimbang dua guru sebelumnya. Evaine menangkap pandang dengan Lorrin, memahami iris gelap muridnya itu meminta untuk mengurus Nira. Sang guru tersenyum.

"Apakah kau lupa punya jadwal latihan denganku?"

"Sungguh? Bukannya hari ini aku tak memiliki jadwal?" Nira mengernyit, menyingkirkan tangan Evaine dari bahunya. Evaine berdiri tegak, membuat Nira harus mendongak ekstra untuk menatapnya. Dia kelihatan lucu saat melakukan itu.

"Hari Selasa yang lalu aku tak bisa datang karena ada urusan mendesak, jadi hari ini adalah gantinya," jelas Evaine. Lorrin tersenyum, tanda terima kasih.

Who the Real Villain? [2]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang