Bab 32

185 31 1
                                        

Sehari kemudian, mereka melancarkan misi utama. Yaitu menyelamatkan Atalya dan Morrigan. Detektif yang diutus Vaeril telah menemukan kode untuk membuka pintu menuju ruang bawah tanah. Ia tak ikut hari ini, tapi itu bukan masalah. Payne dan Folca mengingat kode itu di kepala mereka.

Kethra sudah bersiap dengan pakaian kulit berjaket gelapnya yang diikat dengan sabuk berlapis perak. Celananya cukup ketat, tapi itu yang paling memudahkan untuk bergerak. Sepatu botnya diberi sihir untuk meminimalkan bunyi langkah kaki. Di balik sepatu itu, terdapat tiga belati yang terbuat dari perak dan perunggu. Rambutnya diikat ke belakang, ikatannya sangat erat sampai menarik kulit kepala. Riasan tipis menghiasi wajahnya untuk menyembunyikan kesan pucat karena jarang tidur dan makan sedikit.

Kyllian dan Folca akan tetap tinggal, mereka tak terlalu bisa diandalkan dalam pertarungan. Apalagi kemampuan bertarung Kyllian nol besar. Mereka akan menjaga mansion, yang kosong karena Vaeril pergi ke pertemuan faksi. Kyllian tersinggung saat Payne menyebutnya tak berguna, tapi tak dapat membantah sama sekali. Folca setidaknya lebih baik, dan ia menghibur sang Saint dengan bermain catur.

Dua ksatria bayaran Weiss ikut serta, bersama Kyrnt pula. Alhasil, mereka ketambahan tiga anggota. Kethra tersenyum kecil saat mendapati dua kstaria itu ternyata wanita. Akhirnya bukan hanya dia yang merupakan kaum Hawa di sini.

Kethra berdiri diapit dua kstaria bernama Elain dan Celia, mereka lebih tinggi dan kekar darinya. Namun mereka sama-sama humoris dan memiliki kecenderungan membuat orang lain betah bersama mereka. Kethra tak suka orang yang banyak omong, tapi mereka langsung menyingkirkan semua itu.

Weiss berkata kalau mereka adalah blasteran harimau, sehingga tak heran tubuh mereka lebih kekar ketimbang wanita pada umumnya.

"Semua sudah siap?" tanyanya. Mereka mengangguk. Sudah siap sejak tadi, terbakar semangat yang membara. Senjata sudah siap di pinggang dan punggung masing-masing, tampak mengerikan karena baru diasah tadi siang. Kethra mengusap busur emas putihnya dengan pelan, kemudian memasukkan itu ke dalam kantong panah. Hari ini dia tak menggunakan pedang karena rindu menembakkan anak panah. Rasanya seperti sudah bertahun-tahun.

"Ayo."

Kethra dan Luther mengeluarkan sihir tembus pandang dan terbang. Mereka melewati langit malam yang suntuk dan mencekam, di mana orang-orang berdoa untuk keselamatan mereka dari monster. Gusar, takut, dan putus asa, tercium di udara. Begitu pekat, membuat bulu kuduk Kethra meremang.

Situasi semakin parah, dan tes akan dilakukan dua hari lagi. Dia tak mau memikirkan apapun tentang tes itu, tak mau membiarkan pemandangan diusir dari Chandier berada di kepalanya. Dia membangun dinding sekali lagi, berusaha tak menampakkan emosi apapun. Meskipun kengerian merayap seperti kelajengking di bahunya, dan ular meremas perutnya. Mengucapkan hinaan demi hinaan di antara desisan mematikan.

Kethra mengerjap, mereka sudah sampai di istana Putra Mahkota. Istana itu terang benderang di bawah langit malam bergemerlap bintang. Tiap pilarnya mengagungkan orang yang sama. Tiap pintunya menyembunyikan kemegahan bertabur emas, dengan benda-benda kuno yang sangat disayangi Maxime. Halaman luasnya berlantaikan batu, menyembulkan patung-patung mungil di antara jejeran lampu. Kethra ingat di air mancur sisi timur halaman itu, adalah tempat dirinya dan Max tercebur. Mereka nyaris pingsan saat itu, tapi Max memeluknya dan membisikkan kata-kata penenang.

Tidak apa-apa, aku di sini. Jangan takut. Kethra masih sangat kecil, dia menangis di pelukan Max. Kepanikan menjalar di setiap nadinya, tapi mereda karena perkataan Max. Dia merasakan kehangatan dan kesadaran bahwa dirinya akan selamat.

Max demam setelahnya, dan dia flu.

Kethra meremas dadanya yang sesak, itu adalah perasaan kecewa dan marah. Iseul takkan merasakannya, tapi Kethra asli yang telah tumbuh bersama-sama dengan Max seolah mereka pasangan jiwa, merasakannya. Kemarahan itu menggeliat dalam jiwanya, tapi kesedihan ikut dan berusaha meremukkannya.

Who the Real Villain? [2]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang