Kethra mengembuskan napas berkali-kali, berusaha meredakan tegang yang menguasai tubuhnya sejak berjam-jam lalu. Dia duduk di kursi kereta kuda, melepaskan sarung tangan karena gerah. Meskipun jendela telah dibuka, meskipun semilir angin bertiup memainkan rambutnya yang diikat ke belakang. Kakinya kram karena alasan tak jelas, padahal dia baru duduk di sini sekitar lima belas menit.
Pandangannya tertuju ke luar, prajurit istana berdiri di sekeliling kereta dan gerbang. Mereka bertugas mengawal Kethra ke kuil. Dari luar memang terlihat begitu, tapi Kethra bersumpah mereka memastikannya tak kabur. Pengawalan hanya serempetan dari hal itu.
Dia menggeram karena tempat pengetesan adalah kuil. Biasanya ada gedung sendiri, tapi khusus tes ini justru diadakan di kuil. Kethra tak tahu apa maksud mereka memilih kuil, apakah itu bentuk keprihatinan mereka karena dia akan segera diusir. Mereka mungkin melakukan itu untuk membersihkan dosa-dosanya sebagai anak haram.
Warren, Vaeril, dan Weiss memasuki kereta, mereka berpakaian lengkap, megah, dan dan berkelas. Namun, itu bukanlah pakaian yang biasa dipakai saat pesta. Kesannya tegas, tapi tak bergermelap. Lambang Chandier tercetak di bawah saku dada mereka, berkilau di bawah cahaya mentari yang tumpah ke kereta.
"Sudah siap?" kata Vaeril. Kethra mengerjap-ngerjap, tidak tahu harus berkata apa. Warren mengambil duduk di sampingnya, sementara Vaeril di depan mereka sembari merapikan cravat.
"Ingat kata-kataku, Kethra."
"Saya selalu mengingatnya, Ayah."
Kau adalah Chandier, dan akan selalu begitu sampai kapanpun. Kethra terus mengulang kalimat itu, bahkan sebelum tidur. Itu adalah cara menguatkan mental dan tubuhnya.
Belum ada yang tahu ramuan apa yang dimasukkan ke dalam tubuhnya, maupun kutukan yang menjerat Atalya dan Mor. Itu hanya sehari yang lalu, tentu tak ada perkembangan signifikan, apalagi hanya petunjuk kecil. Krynt telah pergi, melintasi benua kemarin malam, demi mendapatkan petunjuk tentang kutukan kuno. Sementara Payne mengirim pesan ke Grim untuk mencari petunjuk ramuan.
Yang tersisa di sini hanya Payne, Kyllian, dan duo harimau. Namun, kini mereka sudah tak ada lagi di mansion. Mereka menyelinap keluar, pergi lebih dulu ketimbang Kethra. Menunggu di tempat janjian, mempersiapkan segala hal yang sudah direncanakan sejak berhari-hari lalu. Sementara Weiss pergi bersama mereka, sehingga publik melihatnya terang-terangan.
Rae dan Luther memelototi prajurit istana, memberikan intimidasi dengan aura pedang mereka.
Komandan prajurit sayap barat menyunggingkan senyum mengejek, bertanya apakah mereka sudah selesai bersiap. Vaeril mengangguk tanpa menoleh padanya, lantas kereta melaju. Meninggalkan gerbang mansion jauh di belakang. Setiap langkah kudanya membuat jantung Kethra berdetak lebih cepat, kakinya memberontak untuk kembali ke mansion, rumahnya.
Dia tersentak dengan pemikiran itu. Dia berbalik, menatap mansion megah yang terasa melambai-lambai, seolah-olah memiliki nyawa. Apakah itu adalah rumahku? batinnya. Dia mendapat kehangatan, kebahagiaan, dan kasih sayang darisana karena keberadaan Warren, Vaeril, dan semua sahabatnya.
"Apakah kau merasa sesuatu yang aneh pada tubuhmu?"
"Ramuan itu tak menimbulkan efek apapun, tapi tidak ada yang bisa diharapkan dari ramuan yang baru ditempatkan sehari di tubuhku," balas Kethra sembari mengangkat bahu. Dia kelihatan santai, tapi sebenarnya tidak. "Aku lebih memikirkan mereka," lanjutnya. Jendela dengan tirainya ditutup, menyembunyikan mereka dari pandangan warga yang penasaran. Mereka mendengar bisikan, tapi tak memedulikannya. Sama seperti biasa.
"Mereka akan baik-baik saja, pasti." Warren dan Vaeril telah mendengar semua ceritanya, mereka pun mengerahkan segala usaha yang dapat mereka lakukan untuk mencari penyelesaian. Awalnya mereka diliputi amarah, tapi cepat mereda. Atalya dan Morrigan takkan dipulangkan sementara waktu, itulah keputusan diskusi para Chandier dan yang lain. Namun, kerajaan vampir dan Elf diberi kabar. Tidak memungkinkan mengembalikan mereka dengan keadaan seperti itu. Kekosongan posisi Putri Mahkota dapat diatasi, setidaknya sampai mereka menemukan jalan keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Who the Real Villain? [2]
Fantasy-Sang Penyihir atau sang Putra Mahkota- Kethra telah mengumpulkan sekutu yang cukup untuk masa depannya yang tenang saat monster menghancurkan Kekaisaran. Dia berniat jauh-jauh dari kekacauan, tidak mencemplungkan diri dalam bahaya. Namun, tampaknya...
![Who the Real Villain? [2]](https://img.wattpad.com/cover/329875587-64-k130398.jpg)