Waktunya membiarkan kapal yang sengaja kutenggelamkan untuk berlayar🗿
❍❍❍
"Apakah kau yakin, Moirai? Membangunkan dua jiwa ini?"
Salah satu Moirai, yaitu Klotho, mengangguk. Ia adalah Moirai termuda yang bertanggungjawab atas kelahiran manusia. "Ya, lakukan saja, Hades. Mereka berhak bahagia."
Hades, sang Raja Dunia Bawah, menopang dagu dengan bosan. "Haah, semua orang berhak bahagia, Klotho. Aku tahu kisah mereka menyedihkan, aku melihatnya. Tapi itu bukan berarti mereka benar-benar pantas dibangkitkan kembali." Ini bukanlah kasus langka di Dunia Bawah, beberapa jiwa terpilih memang dihidupkan kembali. Namun, apakah jiwa itu pantas?
"Kalau begitu, apakah dia bahagia di surgamu? Apollo menempatkannya di sana, tapi apakah dia bahagia?"
Seperkian detik kemudian Hades menggeleng. Dia tak pernah melihat jiwa itu bahagia. Tatapannya dipenuhi kekosongan. Jiwa-jiwa lain sampai sekarang berusaha menghiburnya. Elysium bukanlah tempat pantas adanya jiwa dengan tatapan kekosongan. Para jiwa itu seharusnya kehilangan ingatan mereka karena sungai Lethe. Seharusnya begitu.
Namun, jiwa itu lain.
Ada kepingan ingatan yang tertinggal. Naasnya, itu adalah kepingan ingatan yang amat berharga. Jiwa itu berusaha mempertahankannya. Sampai khasiat sungai Lethe pun tak bisa menghapusnya.
Benar-benar menarik dan unik.
Hades menyeringai. "Aku tahu ini hanya formalitasmu. Jika kauingin menghidupkannya, silakan saja. Aku tak punya peran apapun di sini, wahai Moirai termuda." Ia membungkuk pada Dewi Takdir. Klotho tertawa singkat, menepuk kepalanya seperti anak kecil.
Mereka cukup dekat dan sering bertemu. Alhasil, sikap seperti ini menjadi hal biasa.
"Aku hanya ingin bertemu denganmu, anak tertua Dewa Waktu."
𖤓𖤓𖤓
Noah memulai harinya seperti biasa. Bangun pagi, mandi, sarapan, membersihkan kamar, lalu memberi makan kucing peliharaannya yang bernama Eve. Itu adalah jenis kucing yang cukup mahal, tapi dia puas memilikinya.
"Jaga rumah baik-baik ya, Manis."
"Meoww!" Eve mendusel-duselkan kepala di betisnya. Noah terkekeh, kemudian mengambil tas di kamar. Tatapannya teralihkan oleh lukisan di dinding kamar, seketika senyumannya pun luntur.
"Putri Atalya ...."
Ya, itu adalah lukisan Atalya. Putri cantik dari klan Elf yang Agung. Sosok yang suzdah membuatnya jatuh cinta. Sosok yang membuatnya rela mengorbankan nyawa. Sosok yang tak pernah meninggalkan pikirannya bahkan saat dia meninggal.
Atalya adalah kepingan ingatan berharga yang menjadikannya satu-satunya jiwa di Elysium yang tidak bahagia.
Sebenarnya, dia juga mengingat Kethra, tapi tak sekuat ingatan terhadap Atalya.
Noah melirik jam tangan, terkejut karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. "Astaga, aku harus ke kampus sekarang!" Dia buru-buru memakai sepatu, memastikan semua keperluan sudah siap, dan mengambil kunci apartemen.
Ya, Noah tinggal sendirian di apartemen. Dikarenakan jarak kampus dengan rumahnya terlalu jauh, alhasil dia memilih untuk tinggal di apartemen dekat kampus saja. Orang tuanya agak keberatan, tapi akhirnya setuju.
Apartemen Noah adalah apartemen yang cukup mewah. Orang tuanya yang memilih, dia cuma mengiyakan saja. Biaya sebagian besar ditanggung mereka, tapi Noah punya pekerjaan sampingan untuk menambahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Who the Real Villain? [2]
Fantasy-Sang Penyihir atau sang Putra Mahkota- Kethra telah mengumpulkan sekutu yang cukup untuk masa depannya yang tenang saat monster menghancurkan Kekaisaran. Dia berniat jauh-jauh dari kekacauan, tidak mencemplungkan diri dalam bahaya. Namun, tampaknya...
![Who the Real Villain? [2]](https://img.wattpad.com/cover/329875587-64-k130398.jpg)