Bab 50

168 28 7
                                        

"Jangan berkata sakit di hadapan orang yang telah menjalani ratusan kehidupan," cerca Max. Kethra seketika menghapus air matanya, menyuruh Rae berdiri.

"Anda sudah bukan sakit lagi, tapi gila. Kalau di kehidupan saya, Anda seharusnya masuk ke rumah sakit jiwa," balas Kethra tak kalah sengit. Dia melupakan kenangan masa lalu sejenak, karena sekarang saatnya untuk bertarung. Menyelesaikan urusan mereka.

"Oh, aku akan dengan senang hati kabur darisana dan membuat petugas kalang-kabut. Pasti menyenangkan dikejar ambulans."

"Tunggu, apa––" Kethra belum sempat bertanya ketika tiga ekor naga mendarat di depannya. Dua berwarna biru, satu merah gelap. Di leher mereka, terikat sebuah kalung. Kethra menangkap pandang dengan leher Max, tempat artefak kuno berada.

"Anda mengikat mereka dengan kalung itu, ya?" Dia mengetahuinya dari penjelasan tambahan Lorrin, kalung itu tak hanya dapat menyerap kekuatan, tapi juga bisa dijadikan objek pengikat sumpah, perjanjian, atau apapun. Hanya berhasil pada makhluk agung seperti naga dan siluman, bukan manusia.

Lorrin sejak awal tahu kalau mahkota putih memiliki pasangan, dia mengumpulkan banyak informasi tentang mereka. Dan dia juga mengaku akan menggunakan mahkota untuk merebut perhatian calon guru-gurunya. Mahkota itu tak mungkin ditolak oleh mereka, tapi Kethra mengambilnya lebih dulu dan merusak seluruh rencananya.

"Jangan bertanya sesuatu yang sudah jelas. Jadi yah ... silakan hadapi mereka." Dia menjentikkan jari, ketiga naga langsung menyerbu Kethra dan Rae. Mereka menyiapkan senjata masing-masing. Rae dengan pedang aura, dan Kethra dengan busur kesayangannya. Dua tipe petarung lebih baik ketimbang cuma satu. Kethra akan menyerang dari jauh, sementara Rae dari dekat.

Kethra melompat, dia mengangkasa sembari menembakkan dua anak panah. Matanya tertuju pada Max yang menghilang entah ke mana. Pria itu pasti menggunakan sihir teleportasi, entah apa yang dia urus.

Dua anak panahnya tepat mengenai mata salah satu naga. Rae merangsek, menyabetkan pedangnya. Naga itu meraung, dan Rae menusukkan pedang ke mulutnya yang terbuka. Raungan memekakkan telinga semakin keras, sehingga Rae langsung mencabut pedang dan mundur demi menjaga telinganya yang pengang.

Kethra melepas satu anak panah, menyasar naga yang menyerang Rae dari belakang. Si pemuda menghunus, membuat sayatan panjang di leher naga itu.

"Langsung dibunuh, Nona?" tanyanya.

Kethra merasa skeptis, tapi dia mengangguk dengan tegas. "Kita tak boleh membuang-buang waktu."

Dengan perintah itu, Rae menusuk leher si naga. Naga berwarna merah itu menggeliat-liat, berusaha melepaskan diri. Naga yang masih sehat menyerang Rae, tapi Kethra lebih dulu menyerangnya. Panah melesat, naga itu sadar dan langsung menghindar.

Sang gadis Chandier menyiapkan panah lagi secepat kilat, lantas melepasnya semili detik kemudian. Gerakan secepat itu tak disadari si naga, alhasil panah menancap di moncongnya.

"Ke mana kau pergi, bajingan?" bisik Kethra. Max yang pergi tiba-tiba sangat misterius, dia tampaknya berniat mengalihkan perhatian mereka.

Kethra tersentak ketika menyadari satu hal. Max berkata bahwa dia telah mengumpulkan banyak iblis dan hari ini adalah pelepasannya. Itulah mengapa dia, Jyotisha, dan Aranarth muncul.

"Ini adalah puncaknya?" Bulu kuduk Kethra meremang. Pandangannya tertuju pada kekacauan perang. Aranarth sangat mendominasi. Mendekatinya saja sudah membuat orang lain gemetar dan kepanasan. Napas blaster itu beracun, jadi orang-orang berpikir ribuan kali untuk mendekat.

Lorrin sangat kepayahan. Dia mengeluarkan semua metode sihir hasil eksperimen, tapi itu hanya membuat Aranarth kesakitan sebentar. Monster itu memiliki kekuatan regenerasi super cepat, jadi semua serangan terkesan mustahil untuk menaklukkannya.

Who the Real Villain? [2]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang