Bab 26

179 29 3
                                        

"Salam kepada Yang Mulia Kekaisaran, semoga dewa cahaya selalu memberkati Anda." Kethra membungkuk rendah, kedua tangannya gemetar. Dia mengalami tremor, dan berusaha menyembunyikan itu sebaik mungkin. Pengendalian pada ekspresi adalah keahliannya, tapi pengendalian pada reaksi tubuh masih kurang. Max menangkap itu, tapi hanya tersenyum selebar mangkuk.

"Halo, sahabatku yang manis." Max mencium punggung tangan Kethra, senyumannya makin melebar melihat air muka Kethra yang menegang. "Ada keperluan apa Anda mengundang saya?"

"Ada yang ingin kubicarakan, mari pergi ke kamarku."

Dahi Kethra mengerut, kakinya mundur selangkah untuk menjaga jarak. "Yang Mulia, Anda sadar apa yang Anda bicarakan, bukan?" Dia mengusap tangannya, seolah ingin menghapus jejak ciuman Max dari sana.

"Apa yang kaupikirkan?" Max maju, tangannya terangkat untuk meraih wajah Kethra. Gadis itu meremang saat Max menyelipkan rambutnya, dan napas si Putra Mahkota yang berhembus tepat di sisi kepalanya. Napas itu hangat, dan saat bibir merah ranum menyapu telinganya, dia bersumpah dapat mendengar detak jantungnya berhenti.

"Kau tentu tidak berpikir aneh-aneh 'kan, Kethra? Seperti aku melemparkanmu ke ranjangku dan melucuti pakaianmu sampai tak tersisa satu benang pun?" Bisikan Max membuat Kethra merona sampai ke leher. Bayangan itu melintas di pikirannya, tapi bergegas diusir secepat mungkin. Max menduselkan hidungnya ke telinga dan leher Kethra, menghirup aroma sabun dan mawar. Kethra makin meremang, mendorong sang Putra Mahkota menjauh.

Dia tak tahu Max mampu bertindak seintim itu.

Napasnya tercekat saat melihat Max menyeringai. "Anda memancing saya, Yang Mulia?"

"Oh, tidak. Tidak. Aku tak berniat merangsangmu, atau merangsang diriku sendiri. Tidak perlu setegang itu, lagipula kau sering berkunjung ke kamarku saat kecil."

"Itu saat kecil." Kethra memijit hidung, ronanya menghilang begitu saja, berganti kejijikan dan kemarahan. Max mengangkat bahu, menyambar tangannya kemudian menggeretnya. Kethra memekik, berusaha melepaskan diri. Tidak ada siapapun di sekeliling mereka, dia baru menyadari hal itu.

Bencana.

Tak ada yang tahu jika Max menyeret putri Duke ke kamar untuk melakukan entah-apa. Bukannya dia berpikir macam-macam, karena dia sudah menduga hal macam apa yang dikatakan Max di sana. Namun dia benci kekasaran ini. Tangan Max mencengkeramnya terlalu erat.

Kethra meronta-ronta, mengirim sengatan sihir, tapi Max tak kelihatan terganggu sama sekali. Dia cuma bergidik, kemudian berbisik sangat pelan di telinga Kethra lagi. "Menurutlah padaku, atau teman-temanmu akan dalam bahaya."

Kethra terpaku, umpatan keluar dari mulutnya. Max cuma terkekeh, lantas merangkul pinggang Kethra. Gadis itu tak dapat berbuat apa-apa karena diancam menggunakan sahabatnya. Dia tegang di bawah sentuhan Max, seolah pria itu ingin menyentuhnya lebih jauh, lebih dalam, lebih liar. Dia memikirkan berbagai pembalasan dendam saat Max menutup pintu kamarnya.

Kamar ini sama seperti yang terakhir kali diingat Kethra asli. Bernuansa klasik dengan sentuhan warna ungu dan emas. Ranjang besarnya bisa muat sampai tiga orang. Jendela-jendela menghadap ke labirin dan taman dandelion. Rak memuat berbagai aksesoris berbahan emas dan perak. Harganya setara dengan biaya hidup dua tahun warga sipil. Rak lain berisi koleksi pedang, yang panjang dan bentuknya bervariasi, dengan gagang mewah bertakhtakan berlian. Sebagian adalah pedang hiasan, tapi yang lain dapat digunakan untuk pertarungan sungguhan.

Permadani berbulu angsa berada di bawah sofa beledu berbantal. Pendiangan di belakangnya padam, tapi ada bekas pembakaran di mana-mana. Mungkin itu dinyalakan belum lama ini, tapi Kethra tak melihat adanya kepentingan menyalakan pendiangan saat panas menghantam kota.

Who the Real Villain? [2]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang