Bab 49

151 25 4
                                        

Aranarth, sang Pengubah yang bernapas dan berbulu api, mengedipkan matanya saat menatap Kethra di gendongan Max. Mata peraknya berkilau, memancarkan keanggunan dan kemewahan. Tidak seperti para Pengubah lain yang tatapannya diliputi amarah, Aranarth lebih berkelas.

Ia seperti perwujudan makhluk tertinggi khayangan.

Sulit dipercaya makhluk secantik itu raja Pengubah. Yang hanya dengan menghirup napas darinya saja membuat organ-organ terbakar. Apalagi menyentuhnya.

Jyotisha kini tampil dengan wujud lelaki. Warna mata dan rambutnya sama, tapi aksen pakaiannya sama sekali berbeda. Dan meskipun berwujud lelaki, rambutnya tetap sepanjang pinggang. Diikat oleh pita emas, dan anak rambut yang dibiarkan tergerai di depan leher.

Semua orang menyaksikan mereka. Tak sedikit yang menunduk ketakutan, yang lain membuang muka demi menghindari tatapan mematikan Aranarth.

"Aromamu berbeda. Tidak seperti Maxime. Darimana kau berasal?" tanya sang Pengubah. Kethra berhenti meronta-ronta, memandang Aranarth tanpa gemetar. Ada percikan dalam dirinya yang menyuruhnya untuk tak takut. Yang berbisik bahwa Aranarth tidaklah semenyeramkan itu. Bahwa tak ada alasan baginya untuk takut.

"Kekaisaran, darimana lagi?"

Aranarth mengangkat alis karena keberanian Kethra, padahal ia mengeluarkan aura khas penguasa.

"Terserahlah, tapi kau sangat menarik. Aku pernah melihat orang yang seperti dirimu."

Jantung Kethra berhenti berdetak, dia refleks mencengkeram baju Max. Aranarth melanjutkan, "Manusia malang itu berakhir tragis di tangan salah satu Pengubah. Dia sangat ingin kembali ke tempat tinggalnya, dia rela melakukan apapun untuk itu. Dia tak pernah mendapatkannya sampai meninggal, tapi poin terpentingnya adalah detik-detik dia meninggal. Aku di sana saat itu, bertanya sesuatu padanya.

"'Apakah kehidupanmu di dunia itu sangat bahagia? Sampai kau bertekad untuk kembali ke sana?'. Dia menjawab, 'Kehidupanku tidak beruntung. Aku selalu menderita. Kelaparan, kedinginan, kepanasan. Aku terbiasa menghadapi itu.' Aku terkejut, lalu bertanya, 'Lantas mengapa kauingin kembali? Dunia itu tak lebih baik dibanding dunia ini.'

Kethra meneguk ludah, melirik yang lain. Mereka tak bisa mendengar. Aranarth membuat sihir kedap suara di sekitar mereka. Hanya Max dan Kethra yang bisa mendengar ucapannya.

"Kau tahu dia menjawab apa?"

Dia menggeleng, pikirannya kosong sama sekali. Dia tak menyangka salah satu kemampuan Aranarth mirip seperti Folca, yaitu melihat lingkar tahun orang lain, tapi bisa membedakan pemilik lingkar itu regresor, reinkarnator, atau transmigrator.

"Dia menjawab, 'Setidaknya di sana aku memiliki rumah dan orang-orang yang kusayangi. Setidaknya ada yang menungguku di sana. Tidak seperti di sini. Keberadaanku bahkan tak disadari.' Jawaban yang mengejutkanku, tapi aku memahaminya. Sejak awal, rumahnya memang di sana. Lalu bagaimana denganmu? Apakah sama sepertinya?"

Kethra butuh waktu semenit untuk menjawab. Dia mempertimbangkannya matang-matang, apakah perlu membalas atau tidak. Sementara rekan-rekannya telah berteriak di kejauhan sana, meminta Kethra dilepaskan. Max tersenyum mengejek, mengundang amarah mereka. Jyotisha mengangkat tangan.

Seketika perang pun dilanjutkan. Kali ini, lebih sengit. Baik pihak Max maupun pihak Kethra mengeluarkan segala kekuatan mereka.

Kethra pun belum menyadari klan paus dan singa sudah datang. Grim memimpin klan paus, sementara klan singa dipimipin oleh putra Raja Lloyd, Sam. Pangeran itu setampan ayahnya, memiliki rambut perak dan iris mata ungu kebiruan.

"Tidak. Di sini aku menemukan rumahku. Di sana aku hanya menemukan penderitaan. Tak ada yang bisa kusebut rumah, apalagi keluarga. Aku bahkan ragu ada yang mengkhawatirkanku. Di sini ... aku mendapat keluarga dan menemukan rumah. Di sini banyak yang memedulikanku." Tak ada alasan Kethra tak berterus terang. Dia ingin mengutarakan apa yang dirasakannya.

Who the Real Villain? [2]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang