"Sialan!"
Kethra memecahkan vas-vas bunga, sihir berwarna merah meledak dari dirinya. Sihir itu berputar seperti angin puting beliung, sebelum akhirnya menyebar ke seluruh ruangan. Menghantam apapun yang ada di sekitar dengan ganas.
Kethra menghendaki hal itu, membiarkan sihirnya mengamuk seperti monster. Suara pecahan menguasai ruangan, kaca-kaca bertebaran di lantai secara acak, sedikitnya berdekatan dengannya.
Kethra memukul meja, kayu retak dan tangannya memerah. Napasnya memburu, rongga dadanya menyempit sedemikian rupa sehingga dia berusaha meraup lebih banyak oksigen. Namun pandangannya dikelilingi oleh kabut tipis yang memanas. Kabut yang membuatnya luruh ke lantai. Mengabaikan pecahan kaca dan keramik. Mengabaikan pekikan Luther, Payne, Folca, dan pengintai Atalya yang berusaha menjangkaunya.
"Nona, hentikan! Anda bisa menghancurkan seluruh penginapan!" Luther tahu seberapa besar kekuatan sihir Nonanya, dia harus menghentikan itu terlebih dahulu. Masalah terculiknya Atalya dan Morrigan bisa diurus nanti.
"Mereka ...." Napas Kethra yang tersendat-sendat semakin memperburuk kondisinya. Gadis itu kehilangan ketenangannya dalam sekejap. Nona yang menghadapi masalah dengan kepala dingin daan ketenangan luar biasa sudah tak ada lagi. Hanya ada nona yang kacau karena kedua sahabatnya diculik.
Payne merangsek, akhirnya memilih tak peduli pada kaca-kaca di lantai, dan tanpa persetujuan Kethra, memeluk gadis itu sekuat mungkin. Kethra terdiam di pelukannya, Payne merasa tegang dan mual karena hantaman sihir Kethra. Ia tak pernah berhadapan dengan penyihir, alhasil tak tahu kalau ledakan sihir memengaruhi tubuh orang lain.
Payne menggigit bibir, tulang rusuknya berkeretak, seperti ditinju puluhan biaragawan. Bagi orang biasa, cukup untuk membuat pingsan, tapi Payne adalah paus. Fisiknya tak selemah itu.
Kethra tertegun mendengar retakan tulang Payne, ia melepaskan pelukan dan menatap wajah Payne. Paus muda itu tersenyum, tapi wajahnya mengerut kesakitan. Kethra terperangah, mendadak pikirannya kosong. "Tidak apa-apa, jangan pedulikan aku." Payne tertawa, hanya membuat tulangnya tambah retak. Ia meringis.
"Maaf." Kethra mengusap wajah, menarik napas dengan teratur untuk menetralkan paru-parunya yang panas. Ia memerhatikan sekitar, berkedip kosong pada ruang penginapan yang hancur. Hanya menyisakan dinding sebagai penopang. Kethra menarik kekuatan ke intinya, sehingga hanya ada cahaya samar kemerahan di udara. Berkelip seolah tak berbahaya.
Luther menangkap tubuh Kethra yang limbung saat berdiri. Dia kesakitan karena ledakan sihir. Itu seharusnya tak terjadi, apalagi dengan efek jangka panjang racun Dexter, tapi Kethra sendiri membiarkan kekuatannya meledak sedemikian rupa.
Kethra merengut karena pusing melandanya. "Payne, pergilah berobat. Folca dan kau, temani dia." Pengintai Atalya itu tak serta merta bertindak, memikirkan mana yang lebih penting. Namun begitu melihat pelototan Kethra, mereka menarik Payne pergi. Meninggalkan Kethra berduaan saja dengan ksatrianya.
"Nona, tenangkan diri Anda." Luther meletakkan sebelah tangan di lutut Kethra, kemudian mengangkat gadis itu dan membopongnya ke kasur. Kasur tua yang tak seempuk di mansion, tapi itu lebih baik ketimbang membiarkannya di lantai. Kethra sama sekali tak melawan seperti sebelumnya.
Dia mengembuskan napas kasar begitu menyentuh kasur. Luther berdiri di sampingnya, menyaksikannya berusaha mengendalikan emosi dengan menyandarkan badan ke punggung kasur.
Luther tetap diam sampai sepuluh menit kemudian, mengetahui pengendalian luapan sihir membutuhkan banyak waktu. Dia tak bergerak seinci pun, bersiap jika Kethra memberinya perintah. Namun, jujur saja, pikirannya sekarang hanya tertuju pada satu hal. Atalya dan Morrigan. Perasaan risau menguasai dirinya, merongrong dada dan meretakkan tulang punggungnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Who the Real Villain? [2]
Fantasy-Sang Penyihir atau sang Putra Mahkota- Kethra telah mengumpulkan sekutu yang cukup untuk masa depannya yang tenang saat monster menghancurkan Kekaisaran. Dia berniat jauh-jauh dari kekacauan, tidak mencemplungkan diri dalam bahaya. Namun, tampaknya...
![Who the Real Villain? [2]](https://img.wattpad.com/cover/329875587-64-k130398.jpg)