Bab 46

165 29 7
                                        

"Dan apa yang kaudapatkan?" Kethra memandang istana, yang penjagaannya diperketat sehingga hanya orang yang diizinkan Kaisar yang bisa masuk ke sana. Kepercayaan Kaisar pada bangsawan berkurang, karena kemungkinan banyaknya bangsawan yang menjadi anjing Max.

Situasinya sangat mepet dan genting, sehingga penyelidikan tentang itu ditangguhkan. Tak mungkin di situasi perang begini, melakukan penyelidikan bangsawan pembelot. Istana hanya menutup gerbang ibukota, sehingga tak ada yang bisa masuk maupun keluar. Akses titik teleportasi pun diperketat. Para bangsawan yang ingin kabur harus berpikir puluhan kali karena hal ini.

"Tidak ada. Kutukan itu terlalu rumit dan sulit, memecahkannya terkesan mustahil. Saya menemui kenalan saya di bar. Anda mungkin masih mengingatnya. Nilus. Penyihir yang merawat saya ketika Duke menyelamatkan saya dari medan tempur."

"Oh, dia." Kethra samar-samar mengingat orang itu.

"Ya, saya menghubunginya dan berharap dia mengetahui kutukan itu, tapi ternyata nihil. Dia hanya mengetahui hal-hal umumnya."

Gadis bermarga Chandier itu menoleh ke samping, wajah Luther sangat kusut. Seperti baju yang diremas puluhan kali. Pipinya kini mencekung, mencetak bayangan bulu mata ketika dia mendongak. Lehernya diberi plaster karena dipukul monster. Pasti ada luka-luka lain, tapi tak begitu dirawat.

"Kau bertanya pada orang yang salah. Nilus penyihir tingkat atas, itu benar, tapi kemungkinan dia memahami sihir kuno hanya sepuluh persen."

Luther tersenyum. "Ya, saya yang salah. Saya telah membuang-buang waktu, membuat Anda khawatir karena menyelinap keluar. Maaf, Nona."

Mata itu meringkuk seperti bulan sabit, sama seperti senyumannya. Jantung Kethra terpacu, dia merasa ada yang salah.

"Sudahlah. Kau jangan mengulanginya lagi. Kita akan menemukan cara melepas kutukan itu, pasti. Percayalah padaku."

"Saya selalu percaya pada Anda," balas Luther dengan senyuman yang lebih lebar. "Lalu bagaimana dengan sihir ikatan Anda?"

Kethra melambaikan tangan acuh tak acuh. "Mereka lebih penting." Hanya itu balasannya sebelum melenggang pergi, menuju ruang kerja Vaeril. Luther terdiam di belakang sana, memandang punggung kecil Kethra yang makin menjauh. Lantas menghilang di kelokan.

"Selalu saja begitu. Padahal saya sudah mengatakannya, Anda bisa berbagi beban. Anda tak seharusnya selalu memikirkan orang lain." Luther mencengkeram dadanya, tepat di bagian jantung. "Dan Nona, saya telah menemukan jawabannya."

Tato yang tercetak di atas jantungnya kini terasa membakar. Dia memikirkan cara untuk bunuh diri, tapi tak menimbulkan kecurigaan untuk siapapun. Seolah-olah kejadian itu adalah pembunuhan yang dilakukan orang lain, padahal itu keinginannya sendiri.

Tato yang ada pada Atalya adalah palsu. Apollo telah memindahkan kutukan sehari setelah pertemuan mereka, dan memanipulasinya sedemikian rupa sehingga tak ada yang sadar milik Atalya palsu dan milik Luther asli.

Salah satu manipulasinya ialah bagian kutukan yang menyebabkan dua korbannya tak bisa pergi berjauhan.

"Aku harus mencari waktu yang tepat," kata Luther.

𖤓𖤓𖤓𖤓

"Kethra ... sudah lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?" Ratu Lusirele, istri Enerdhil, memeluk Kethra singkat.

"Tidak baik karena perang," jawab si gadis, tersenyum singkat. Lusi tersentak, tapi kemudian membimbingnya masuk ke istana. Jumlah prajurit di kerajaan Elf berkurang banyak karena perang, sehingga yang tersisa untuk melindungi kerajaan cuma sedikit. Namun, sihir pelindung diperkuat tiga kali lipat. Itu sebanding.

Who the Real Villain? [2]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang