Bab 51

158 30 5
                                        

"Ini palsu." Itulah yang dikatakan Atalya pada Morrigan, menunjuk tato di atas jantungnya. Morrigan mengernyit, sama sekali tak mengerti. Atalya mengeraskan rahang, emosi terbentuk di wajahnya dengan cepat selagi urat-urat menonjol di sepanjang leher.

"Apa maksudmu?" Morrigan mendekat. Ia tak tenang karena selalu memikirkan nasib teman-temannya di medan perang. Bagaimana keadaan mereka sekarang? Apakah ada yang terluka?

Rasanya menyakitkan membiarkan mereka berjuang, sementara ia mondar-mandir di kamar dan melakukan rutinitas membosankan seperti biasa. Namun, ia pun tak siap menghadapi perang. Ia hanya akan menjadi beban.

Batin Morrigan tengah berseteru sampai sekarang, dan untuk yang pertama kalinya, ia memohon dengan sungguh-sungguh pada dewa.

Atalya ambruk ke kasur, wajah kakunya kini lebih pucat. Mereka sudah pucat sejak sakit, tapi Atalya sekarang berkali-kali lebih pucat. Seolah ia tak memiliki darah.

"Dewi Aphrodite. Ia menemuiku dan berkata bahwa tatoku palsu. Aku tak terikat kutukan denganmu. Itu sudah dialihkan ke orang lain," jelas Atalya. Morrigan menggeleng tak paham, penjelasan itu di luar nalar.

"Dewa maupun dewi tak pernah menunjukkan diri," balas Mor. Atalya megap-megap, keringat dingin membasahi kerahnya. Sang vampir dengan telaten membersihkan keringat itu, matanya menyorotkan ketidakpercayaan.

"Aku tahu, aku meragukannya. Sangat meragukannya, tapi ia muncul di mimpiku berkali-kali. Ia selalu mengucapkan kata-kata yang sama. Hari ini ia menunjukkan diri, menggunakan tubuh salah satu pelayan dan menghadangku. Ia menjelaskan semuanya, membeberkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa dirinya Aphrodite." Atalya tampak bingung bagaimana menjelaskan, tapi Morrigan menangkap maksudnya.

"Dewi itu mendatangimu berkali-kali dan kau tak membicarakannya padaku? Kita sekamar, Atalya. Kita sudah berjanji akan saling memberitahukan segalanya."

"TIDAK SEGALANYA!" bentak Atalya. Morrigan tersentak. Kemarahan yang tergambar di wajah Atalya menunjukkan Elf itu benar-benar marah, dan Mor mau tak mau mempercayainya.

"Kaupikir aku akan memberitahukan segalanya padamu?! Kau mengenalku! Sangat! Kau tahu jika aku bukan orang yang seperti itu! Aku tidak bermulut ember."

"Maaf, bukan itu maksudku. Maaf sudah menyinggungmu." Morrigan tersenyum, memegang kedua lengan Atalya. Seperti yang diharapkan, si Elf mulai tenang.

"Baiklah, aku percaya padamu. Aphrodite datang untuk memberitahu kalau kutukanmu sudah dipindahkan?"

"Ya."

"Lantas kepada siapa? Dan mengapa Aphrodite melakukan itu?" Aphrodite bukanlah dewi yang sering disembah di Kekaisaran, tapi ia sangat berpengaruh. Ia adalah anggota Olympus. Dewi Kecantikan, yang meski sudah memiliki suami, tapi sering berselingkuh dengan pria lain.

Sebagian besar vampir tak menyukai dewi itu, termasuk Mor. Aphrodite di matanya sangat berengsek dan kejam. Entah sudah berapa banyak wanita yang dewi itu kutuk dan hina karena mengaku sosok tercantik di dunia.

Atalya menggeleng putus asa. "Aku tak mengerti. Aku tak paham. Aku mengabaikannya karena berpikir itu tak penting, tapi ia menghantuiku. Kurasa itulah mengapa ia muncul di hadapanku. Saat kutanya alasannya melakukan semua ini, ia semata-mata menjawab itu adalah pembalasan. Dewa Apollo mungkin memiliki masalah dengannya."

"Aku mengerti. Itu memang perangai dewa-dewi." Bukan hal aneh dewa-dewi melampiaskan kekesalan mereka pada makhluk yang lebih rendah. Masuk akal Aphrodite melakukan itu.

"Siapa ... Mor? Siapa yang menjadi penggantiku? Apakah mungkin Ayah?"

"Yang Mulia Enerdhil? Tidak. Dengar, memindahkan kutukan tidak semudah kedengarannya. Apalagi ini kutukan pengikat. Kethra mati-matian mencari jalan keluarnya. Dia punya banyak sumber informan, tapi tak mendapat apa-apa." Morrigan menjatuhkan tangan ke pangkuan, mendesah panjang.

Who the Real Villain? [2]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang