"Nona Saintess, apakah Anda bisa membantu menangani masalah besar yang saat ini terjadi?" Kaisar bertanya, di mana sekitarnya sudah duduk beberapa bangsawan, rohaniwan, dan penyihir. Mereka semua adalah orang-orang penting Kekaisaran, yang kini berkumpul di dalam rapat genting yang diselenggarakan di istana pusat. Ruangan besar yang dapat menampung puluhan hingga ratusan orang.
Henrietta, yang agak tertekan duduk di hadapan orang-orang sepenting mereka, mengangguk dengan lantang. Dia sudah menunggu-nunggu kejadian ini. Di mana Kaisar akan memanggilnya untuk menangani masalah monster. Jika dia tak diberi tugas menanganinya, apa gunanya sebagai Saintess? Pajangan istana?
Kethra pernah berkata jika orang-orang tak serta merta mencarinya karena mereka tak menaruh kepercayaan padanya. Dia menjadi pemilik berkah dengan latar belakang rakyat biasa, diangkat di kuil biasa pula. Namun, tentu saja, cepat atau lambat mereka akan meminta bantuannya. Mereka menumpukan harapan pada anak pemilik berkah, yang dapat menjadi satu-satunya jalan keluar bagi mereka.
"Akan saya bantu sebisa saya, Yang Mulia Kaisar." Dia tersenyum canggung, karena merasakan semua tatapan tertuju padanya seperti belati.
Kaisar mengangguk puas.
Ketua penyihir istana mendadak bertanya. "Apakah Dewa Cahaya pernah berkomunikasi dengan Anda, Saintess?"
Henrietta percaya diri menjawab, "Terkadang kami bicara berdua saja. Saya pernah bertanya tentang masalah ini padanya, tapi dewa menjawab bahwa dirinya takkan ikut campur. Beliau menyerahkan segala urusan pada kita." Jujur saja, Henrietta sangat kecewa dengan keputusan itu. Dewa Apollo memutuskan untuk bungkam dan tak berbuat apa-apa, padahal situasi semakin parah tiap harinya. Ia memaksa para pengikutnya untuk mencari jalan keluar sendiri. Seolah-olah tugasnya di sini hanyalah menunjuk anak pemilik berkah, kemudian minggat begitu saja.
Sudah tak begitu berartinya 'kah Kekaisaran ini?
Kalau begitu, kenapa ia menunjuk Henrietta?
Kenapa ia tak memilih untuk membiarkan Kekaisaran hancur saja?
Bukankah itu lebih mudah ketimbang menunjuk pemilik berkah?
Apa yang diinginkan dewa?
Apa yang ia rencanakan?
Begitu banyak pertanyaan berputar-putar di kepala Henrietta, membuatnya pusing, bingung, dan tak berdaya. Seluruh tenaganya seolah berkurang drastis hanya dengan memikirkan itu saja. Namun itu adalah pemikiran yang sangat ruwet. Henrietta seketika mempertanyakan fungsinya ditunjuk sebagai Saintess dan apakah dewa hanyalah bermain-main?
Apollo dikatakan adalah dewa yang jahil 'kan?
Jangan-jangan ia memang iseng menunjuknya, kemudian angkat tangan saat masalah muncul?
Anda berkata jika Anda menyayangi saya, batinnya. Dewa selalu mendengarnya dan memberikan beberapa saran. Ia bagaikan sesosok kakak, yang berkali-kali lipat lebih lembut dibanding Lorrin yang tukang onar. Dewa sangat baik, dan jika pemikirannya benar, apakah selama ini kebaikan itu hanyalah bohong belaka?
"Mana mungkin! Dewa Cahaya tak mungkin mengabaikan kita! Ia menurunkan anak pemilik berkah, itu artinya ia peduli pada Kekaisaran! Ia mengerti masalah yang akan terjadi, dan ia menunjuk Anda. Dewa takkan diam, duduk manis, sembari melihat kita menyelesaikan masalah sendiri!" Ketua kuil pusat menolak pernyataan itu. Begitu juga dengan para rohaniwan, mereka menganggap perkataan Henrietta tak masuk akal.
"Tidak ada untungnya bagi saya untuk berbohong. Dewa sendiri yang berkata begitu. Jangan tanya apa alasannya, karena dewa tak mengatakannya. Ia tak pernah menjawab pertanyaan saya, dan saya tak punya hak untuk memaksanya," jelas Henrietta. Dia tahu pasti mereka bakal mengiranya berbohong. Dia mendengar dengus tak puas dari semua orang dan akhirnya melanjutkan. "Entah apa yang direncanakan dewa, saya tak tahu sama sekali. Ia berkata akan ada dua cahaya, artinya ada dua pemilik berkah. Itu berarti ada anak lain di luar sana dan ditakdirkan untuk menghalau monster bersama saya. Mungkin ... anak itu adalah kuncinya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Who the Real Villain? [2]
Fantasy-Sang Penyihir atau sang Putra Mahkota- Kethra telah mengumpulkan sekutu yang cukup untuk masa depannya yang tenang saat monster menghancurkan Kekaisaran. Dia berniat jauh-jauh dari kekacauan, tidak mencemplungkan diri dalam bahaya. Namun, tampaknya...
![Who the Real Villain? [2]](https://img.wattpad.com/cover/329875587-64-k130398.jpg)