Bab 23

191 31 4
                                        

Mereka memantau James yang tengah menikmati kopi di salah satu kafe mewah di kota Ashkarem. Pria itu mengenakan topeng setengah wajah untuk menyembunyikan bekas luka mengerikannya, bermotif sederhana dengan warna hitam kebiruan. Ia tampak berbaur di antara orang-orang, berbicara dengan orang asing yang diajak duduk di sampingnya.

Kethra sama sekali tak menyangka ini. Caranya berbaur dengan orang lain praktis dengan mudah menyembunyikan identitas. Takkan ada yang mengetahui ia setengah Necromencer. Ia ramah dan mudah beradaptasi. Kesannya sama sekali berbeda saat terakhir kali Kethra melihatnya di kuil.

"Sulit dipercaya ia seorang Necromencer," kata Atalya. Hanya ada Kethra, Atalya, dan Morrigan di sini. Mereka bersembunyi di gang kecil cukup jauh dari kafe, memperhatikan James yang duduk di samping jendela. Posisi yang memudahkan mereka untuk mengawasinya.

Luther, Payne, dan Folca pergi untuk menemui pengintai suruhan Atalya, menanyakan beberapa hal tentang James.

"Putra Mahkota dulu juga seperti dirinya." Morrigan mencengkeram pipa yang menempel pada tembok, mengingat sosok yang membunuh semua saudaranya, dan menyisakan ia yang kepayahan melarikan diri. Ia membenci vampir itu sampai ke tulang-tulang.

Kethra memegang bahu Morrigan, dia berdiri di belakang vampir itu. Morrigan yang kecil selalu diletakkan di depan. "Jangan bernostalgia," pinta Kethra. Morrigan mengangguk paham, matanya menangkap anak kecil yang memperhatikan mereka bertiga seolah-olah melihat makhluk asing. Mereka memang mencurigakan dengan posisi sekarang.

Morrigan mendesis, memamerkan taring-taringnya yang sangat tajam. Anak-anak itu menjerit ketakutan, berlari terbirit-birit sembari menengok ke belakang, tapi Morrigan tak mengejar mereka. Morrigan menahan tawa, sementara Atalya telah meledakkan tawanya. Itu terdengar renyah dan merdu. Suara Elf memang cenderung enak didengar seperti penyanyi, entah bagaimanapun gayanya.

Kethra menggelengkan kepala, entah kapan terakhir kali dia bisa tertawa. Dia terfokus pada James, yang melambai pada orang asing yang menemaninya beberapa menit lalu. Orang itu menelusup di antara keramaian, menghilang di balik perempatan jalan. James kini sendiri, beralih fokus pada koran harian di tangannya.

"Pergi ke sana, sekarang." Kethra berbisik, Atalya dan Morrigan menghentikan tawa mereka. Mereka mengangguk, merapikan baju seolah-olah akan bertemu dengan kolega. Alat komunikasi suara bertengger di saku dada Atalya. Benda itu hanya sebesar bola pingpong, dan tersembunyi karena kardigannya yang berwarna biru gelap.

Kethra tersenyum pendek. "Semoga berhasil." Mereka mengangguk, melejit di antara keramaian, menundukkan kepala supaya tak diperhatikan. Morrigan sebisa mungkin berada di bayang-bayang bangunan, karena meskipun ada cincin yang melindunginya dari sinar matahari, ia tetap membenci sumber cahaya itu.

Kethra keluar dari gang saat pandangan James terarah padanya. Jantungnya tersentak, tapi James membuang muka secepat pandangan terarah padanya. Dia menjilat bibir, berhenti di sembarang kios makanan, dan memesan asal-asalan.

Alasan dia mengirim Morrigan dan Atalya karena kemungkinan James tak mengenal mereka. Max tahu apabila Kethra memiliki sekutu klan lain, tapi dia tak tahu wajah-wajah mereka. James mungkin juga demikian. Namun, James pasti mengenal dirinya. Banyak orang yang mengetahui wajahnya. Jadi, Kethra takkan mengambil risiko dengan muncul terang-terangan.

Terdengar suara dari alat perekam. Kethra menerima sosis bakar dengan linglung, menyerahkan keping perunggu. Mata uang mereka telah ditukarkan Luther beberapa hari sebelum keberangkatan mereka ke benua Cold West.

Dia duduk di pinggir jalan, melahap sosis, dan mendengarkan suara dari alat perekam. Situasinya ramai, sehingga dia tak perlu khawatir orang-orang akan memandangnya dan bertanya-tanya. Mereka sudah sibuk dengan urusan masing-masing.

Who the Real Villain? [2]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang