Bab 12

242 37 0
                                        

"Anda pasti bercanda! Itu tak mungkin terjadi!" Warren mengangkat belati berbilah peraknya pada Erik Graylock. Sosok yang dibawa pulang secara diam-diam oleh adiknya. Rae memanggilnya yang berada di ruang kerja yang baru pulang dari rapat. Dia menemukan pria di ruang tamu, yang entah bagaimana memiliki kemiripan tersendiri dengan Kethra. Dari tatapan mata sampai gestur wajah.

Dia tak menerima fakta ini. Seluruh isi tubuhnya diaduk-aduk oleh lelehan kemurkaan, di mana darahnya naik ke kepala dan terkesan akan meledakkannya dalam sekejap. Pewaris Chandier itu menemukan kaki dan tangannya kesemutan, ingin menghajar pria di depannya yang dengan lancang mengaku bahwa dirinya berselingkuh dengan Duchess.

"Kakak, cukup." Kethra, yang telah kehilangan nyaris semua tenaganya, tak mampu untuk mengangkat tangan demi menahan sang kakak. Dia hanya bisa bersuara, itupun seperti cicitan tikus, dan terkesan akan tenggelam sebentar lagi. Tak ada emosi yang tertampang di wajahnya, Warren langsung mengetahui bahwa adiknya ingin beristirahat. Semua begitu mengejutkan, dan dibanding dirinya, serangan mental yang dialami Kethra lebih besar.

Adiknya bakal limbung kapan saja. Warren melihatnya benar-benar tak berdaya, tangan dan kakinya bergetar di bawah sarung tebal, tak mampu membungkus gadis itu dari dinginnya udara. Darah seolah-olah tersedot dari wajahnya, dihisap oleh vampir dan menyisakan tubuh yang memiliki sisa-sisa kesadaran.

Warren, memelototi Erik sebelum memasukkan belati ke sarung. Dia tak pernah melepas belati itu dari pinggangnya saat bepergian, karena hanya itu caranya melindungi diri. Para bangsawan tak berkomentar, mereka sendiri seringkali menenteng senjata diam-diam ke mana-mana.

"Maafkan aku." Warren mendekat, berjongkok di depan adiknya dan menyalurkan sihir penyembuhan. Itu cukup bekerja pada mental Kethra yang kacau. Warren diam-diam merengut karena kekuatannya lemah. Padahal sihir itu dapat menangani luka fisik maupun mental. Menata luka mental berkali-kali lebih sulit ketimbang fisik, pikirnya. Dia hanya ingin menyembuhkan Kethra.

"Kenapa kau membawanya ke mari?" tanyanya lembut, menopang bahu Kethra lantas duduk di sampingnya. Kethra memberengut. "Aku hanya berpikir untuk mengamankannya. Orang-orang sudah tahu dialah Erik Graylock. Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku hanya berpikir membawanya ke mari dan mendiskusikan sesuatu pada kakak."

Warren mengangguk paham. Erik sudah sepatutnya dibuat bungkam, tiap katanya dapat menjadi belati untuk mereka. Mereka harus berhati-hati dalam mengambil langkah, karena setiap tindakan mereka akan mendapat komentar publik.

Kedua Chandier itu mengalihkan pandangan pada Erik, yang bermuka datar seraya mengusap darah di lehernya. Warren baru sadar itu. Dia hanya menghunuskan belati tanpa menyentuhkannya pada kulit Erik, tapi kenapa pria itu berdarah?

Oh, setelah dipikir-pikir lagi, tak mungkin Erik mengaku berselingkuh kalau dia tak dipaksa.

Ya, pasti begitu.

Rae dan Luther memiliki persenjataan lengkap –– dia juga memperkirakan setidaknya ada lima pisau lipat di pakaian dua ksatria itu –– sehingga Kethra tinggal mencabut pedang salah satu dari mereka.

"Kita memang tak bisa melepaskannya."

Erik mendengus pelan, mengundang keinginan Warren untuk melempar vas padanya. "Maaf saja, tapi tampaknya itu takkan berjalan sesuai keinginan kalian."

"Mengapa demikian, Tuan? Anda ingin aib Anda tersebar ke seluruh Kekaisaran? Dan Anda pasti tahu itu juga merupakan aib Chandier. Sejujurnya saya tak peduli sama sekali pada Anda, tapi karena Anda berkaitan dengan kami, jadi saya memilih untuk peduli," kata Warren tanpa perasaan.  Dia takkan peduli jika Graylock meminta bantuan jenis apapun padanya.

"Bukan begitu. Saya menyadari seseorang menguping pembicaraan saya dengan Nona. Siapapun orang itu, dia akan memberitahu yang lainnya tentang kejadian itu."

Who the Real Villain? [2]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang