"Ibu ... tolong jangan pukul aku." Henrietta menangis tanpa sadar, dia dilempar ke masa-masa itu. Saat dirinya tersiksa karena dikurung dalam ruangan, tidak mendapat cahaya matahari yang cukup, dan dihukum jika berani melawan. Dia ingat pukulan yang dilemparkan Ibunya, dia ingat cambukan yang dilayangkan Ayahnya. Dia ingat, tubuhnya yang meringkuk di kasur, berdoa pada dewa, dan menangis tanpa suara.
"Aku takkan memukulmu, kalau kau menurut. Ayo, kemarilah. Kembali ke kamarmu."
"Tapi ... aku tidak mau. Aku mau bermain dengan Lorrin, aku mau pergi ke luar. Aku tak mau terkurung di sana." Henrietta berkata seperti perkataannya semasa kecil. Dia benar-benar seperti anak kecil sekarang, tak sadar sama sekali dia sebenarnya gadis dewasa. Gadis yang telah meninggalkan masa lalunya jauh di belakang, tapi ternyata masih membayanginya. Terasa begitu dekat dan melekat.
"Ibu melakukan ini untuk melindungimu."
"Ibu gila." Meskipun merasa kecil, dia tak pernah berkata seperti itu. Ibunya marah, menjambak rambutnya dengan kuat. Henrietta menahan jeritan di kerongkongan, berusaha mengembalikan kesadarannya. Berusaha kembali menjadi diri sendiri.
"Masuklah."
Henrietta menggeram, bayangan tentang Kethra lewat di pikirannya. Itu adalah salah satu kepingan kesadaran saat dewasa. Juga Luther, Rae, dan Max. Max adalah kesadaran terbesar, pengingat bahwa dia dipaksa menjadi permaisuri. Henrietta membuka mata, kini tak menemukan pemandangan Ibunya. Melainkan sesosok makhluk berselimutkan kabut tebal dari atas sampai bawah, hanya menyisakan wajah tak berbentuk. Tidak ada hidung, tidak ada telinga. Hanya mulut hiu dan mata runcing.
"Tidak mau. Kamar itu adalah neraka, dan kau bukan Ibuku. Iblis macam apa kau ini?"
Henrietta ketakutan, tapi suaranya dibuat selantang mungkin. Iblis merupakan makhluk yang lebih kuat daripada monster. Mereka salah satu makhluk terkuno, seperti peri. Sejak ratusan tahun lalu, tidak ada yang melihat keberadaan iblis. Mereka lenyap karena dewa menyegel mereka semua di dalam benda-benda kuno. Banyak orang yang penasaran segel apa saja yang mengunci para iblis.
Henrietta berpikir cincin itu pastilah segel, dan cukup dengan membuka kotaknya saja, akan membuat iblis di dalamnya terbebas. Mungkin segel itu melemah karena sudah lama dibuat, seperti segel monster. Segel itu seperti berkarat.
Henrietta seketika menyesal. Tarikan itu berasal dari iblis, dan dia menurutinya. Dia telah membebaskan iblis.
"Sayang sekali, kau tak bisa bebas sekarang."
"Tidak, siapapun akan datang ke sini dan kauakan kembali ke tempat––"
Sebelum dia sempat berbicara, iblis itu lebih dulu memasuki tubuhnya. Mulut Henrietta terkunci rapat, tapi batinnya menjerit sangat keras. Iblis itu bergerak melewati kerongkongan, kemudian memasuki dada, perut, lengan, dan kaki. Henrietta merasa berat karena gumpalan kabut, dan tiap sel dalam kabut itu mendorong-dorong jiwanya untuk pergi.
Saat itulah kekuatan suci membela. Ia memaksa kekuatan iblis untuk menjauh, tapi lawannya tak gentar begitu saja. Dua kekuatan saling beradu di tubuh Henrietta, keduanya memiliki maksud yang berbeda, tapi gadis itu merasa sangat sesak.
Dia meringkuk, berharap itu bisa meredakan rasa sakit, tapi malah semakin menjadi-jadi. Akhirnya, dia kejang-kejang, mencengkeram badan dengan erat sembari berguling-guling di tanah. Dia benar-benar seperti orang kesurupan saat itu.
Kekuatan suci berusaha melindunginya, tapi karena kekuatan iblis sangatlah kuat, ia mengeluarkan lebih banyak daya. Kapasitas kekuatan suci Henrietta telah banyak berkurang sejak beberapa hari lalu, dan kini kekuatan itu memaksakan diri lebih banyak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Who the Real Villain? [2]
Fantasia-Sang Penyihir atau sang Putra Mahkota- Kethra telah mengumpulkan sekutu yang cukup untuk masa depannya yang tenang saat monster menghancurkan Kekaisaran. Dia berniat jauh-jauh dari kekacauan, tidak mencemplungkan diri dalam bahaya. Namun, tampaknya...
![Who the Real Villain? [2]](https://img.wattpad.com/cover/329875587-64-k130398.jpg)