Bab 30

183 30 0
                                        

Edyth mengelap wajahnya, ia menggerutu tentang membersihkan badan. Darahnya tergolong baru, mungkin berusia setengah hari, tapi begitu lengket dan membuat tak nyaman. Ia biasanya tak begini, darah yang berlumuran dari ujung kepala sampai ujung kaki adalah hal biasa. Namun, yang membuat tak biasa adalah kenyataan Josefin mengkhianati Lorrin.

"Josefin sangat membenci penyihir, seperti yang kukatakan dulu. Ia menunggu waktu yang tepat untuk balas dendam, dan entah bagaimana, ia mendapatkan Putra Mahkota sebagai sekutu. Aku tak tahu siapa yang membuat permintaan ini duluan, tapi yang jelas, Josefin akan berencana menyerang menara penyihir kota Eutes–– salah satu kota di Athmenia –– seminggu lagi. Ia juga akan terlibat dalam penyerangan Putra Mahkota." Edyth mengerang, robekan lukanya terbuka. Lorrin melambaikan tangan, mengirim sihir penyembuhan sementara terus mendengarkan cerita Edyth. Evaine tak bergeming di tempatnya.

"Ia mengatakan penyerangan setelah monster terbebas. Aku tak tahu, tapi mungkinkah Putra Mahkota dengan terbebasnya monster memiliki hubungan? Apakah Putra Mahkota adalah penyebab mereka terbe––"

"Edyth, apakah kau mendengarnya menyebutku?" Lorrin menyela, dia tak bisa berpikir apapun untuk menelusuri kemungkinan hubungan Max dengan monster. Max adalah regresor, dan kemungkinan itu seharusnya terpikirkan. Apakah tiap putaran kehidupannya juga melepaskan monster?

Edyth melotot, bahunya digerak-gerakkan dan puas karena lukanya tertutup. "Ya. Ia bilang Putra Mahkota musuhmu. Juga musuh sahabatmu. Kau tak pernah bercerita apapun padaku, jadi bisakah kaujelaskan semua itu?" Nada bicara Edyth sangat menuntut, Lorrin meneguk ludah. Dia tak bisa menolak, tapi haruskah dia menceritakan semuanya?

Apakah Edyth bisa dia percayai? Tidak seperti Josefin yang memilih Max, musuhnya sendiri? Padahal Josefin tahu, tapi tak memedulikannya. Lorrin tak merasakan apa-apa, kehampaan itu terbentuk karena dirinya tak menyayangi Josefin sedemikian rupa. Sama seperti Edyth. Hubungan mereka hanyalah guru-murid, tak lebih dari itu. Dia tak kecewa, marah, atau sedih. Pilihan Josefin bukanlah urusannya, dan apabila mereka akan berhadapan nanti, dia berusaha sesiap mungkin.

Lorrin tak memiliki perasaan apapun pada Edyth dan Josefin, tapi menganggap Evaine adalah ayahnya. Jika Evainelah yang memilih berada di pihak Max, dia pasti akan sangat kecewa dan marah.

"Kau bisa mempercayaiku. Aku takkan berkhianat dengan memihak musuhmu." Edyth mengerti maksud tatapan Lorrin, dan serta merta menyuarakan isi hatinya. Dia tak punya ambisi sebesar itu, meskipun sifat psikopatnya sangat merajelela. Jika dia membenci seseorang, orang itu akan terbunuh di tangannya. Namun, itu tak sampai ke tahap ambisi seperti Josefin.

Lorrin mengembuskan napas, kemudian mengangguk. Kali ini, dia betul-betul tersenyum pada Edyth. Tidak seperti senyum-senyum sebelumnya yang sebatas rekaan. "Aku percaya padamu." Edyth tidak pernah berbohong, itulah yang dia ingat selama ini. Edyth mengatakan semuanya secara blak-blakan. Dan tatapan itu tak bisa dibohongi pula.

Lorrin berbalik ke Evaine, yang melirik jam tangannya setengah minat. "Bisakah Anda meminjamkan menara sebentar? Ini akan menjadi cerita panjang, dan Anda bisa mendengarnya."

Evaine berdecak, menggaruk rambutnya sebal. "Baiklah, tapi hanya kali ini. Dan itu tak boleh sampai sehari. Keluarlah nanti malam, cari tempat lain."

Edyth terkekeh, mendekat kemudian meraih pipi Evaine. Sang pria tertegun, tapi Edyth hanya mengelusnya sebentar. "Aku akan keluar begitu waktunya, Vain." Ia melangkah masuk ke menara, langkahnya seperti anak kecil kegirangan.

Lorrin menatap Evaine, mengamati semburat merah samar di pipi gurunya itu. Dia makin bertanya-tanya hubungan macam apa yang dimiliki mereka. Dan kenapa mereka tak pernah membahasnya selama ini. Padahal Evaine tahu dia murid Edyth, dan Edyth tahu dia ingin berguru pada Evaine.

Who the Real Villain? [2]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang