Bab 19

205 35 1
                                        

Sang Penyihir Es Abadi menyeruput anggurnya dengan setengah minat. Pikirannya melayang ke mana-mana, berputar ke masa lalu, yang menggoreskan begitu banyak luka pada jiwanya. Luka abadi yang selalu mengekorinya sampai sekarang seperti bayangan. Bayangan yang tak melepas dirinya bahkan di saat ia mendapat secercah kebahagiaan.

Kekasihnya, yang merupakan regresor, adalah pemberi kebahagiaan itu. Pria yang seperti serigala itu pada awalnya tak tertarik padanya. Ia hanya tertarik pada kekuatannya. Menurutnya, sang Elf setengah penyihir begitu kuat dan memiliki kehidupan seperti dirinya. Perbedaan hanya terletak pada pola kehidupan, tapi mereka memiliki usia yang begitu panjang. Sekaligus melelahkan.

Josefin-lah yang jatuh cinta pertama kali. Ia enggan mengakuinya, tapi ia sudah jatuh dalam pesona regresor itu. Pria yang begitu misterius, dingin, dan monoton itu telah merebut seluruh hatinya. Josefin menyukai senyumannya. Ia mau melakukan apapun untuk melihat senyuman itu. Ia rela mempertaruhkan apapun demi bisa melihat wajah itu setiap hari.

Namun, takdir berkata lain. Regresor itu telah kehilangan separuh emosi, dan salah duanya adalah cinta dan kasih sayang. Regresor itu mengaku jika dirinya hanya menganggap Josefin sebagai rekan. Regresor menilainya sangat kuat sehingga pantas untuk menjadi rekannya.

Josefin seolah kehilangan hidupnya saat pengakuan itu. Pria berambut perak itu ternyata hanya memanfaatkan kekuatannya. Josefin menahan keinginan kuat untuk tak menghancurkan satu kota dan membunuh ratusan nyawa, lagipula sang regresor takkan peduli. Ia sudah membuat berbagai kekacauan sebelumnya, tapi regresor hanya menyelesaikan sekenanya. Beberapa malah tak membantu.

Josefin hancur sehancur-hancurnya. Ia sudah salah kaprah. Ia seharusnya tak mencintai sosok yang kehilangan sebagian emosi karena depresi regresi. Pilihan telah menghancurkannya. Seharusnya ia memendam perasaan itu jauh-jauh hari, seharusnya ia tak membiarkannya tumbuh seiring waktu.

Dan sejauh manapun Josefin berpikir dan memandang, ia tak bisa berhenti mencintai pria itu. Meskipun sudah disakiti sangat dalam, tapi perasaannya masih mengakar. Itu membuatnya semakin tersakiti.

Regresor memperlakukannya seperti biasa, tak banyak menaruh peduli pada sakit hati yang dia alami. Namun Josefin mensyukuri hal itu. Regresor tak pernah mengungkit kejadian itu, sehingga ia tak perlu menangis di hadapannya dengan menyedihkan.

Josefin mengambil keputusan setelah berbulan-bulan berpikir. Ia akan terus berada di sisi regresor. Tak peduli cintanya ditolak mati-matian, tak peduli pria itu kehilangan emosinya, tak peduli seberapa jauh waktu akan berjalan.

Mereka akan terpisahkan oleh kematian. Josefin tak tahu siapa yang akan mati terlebih dahulu, tapi ia berjanji akan terus menemani regresor sampai akhir hayat. Sembari berharap regresor akan mencari ia di kehidupan berikutnya. Harapan itu tak pernah terucapkan dengan lantang, Josefin tak begitu berani.

Namun, keputusan yang diambilnya dipatahkan oleh pengakuan pria itu. Ia berkata akan membekukan dirinya supaya tak mengalami regresi lagi. Esensinya tetaplah keabadian, tapi ia takkan bisa mengendalikan kesadarannya sendiri lagi.

Josefin tak tahu apa yang dirasakannya saat itu. Semuanya bercampur aduk. Semuanya membingungkan.

Sampai, saat dirinya membuka mata, ia menemukan cintanya sudah berbaring di peti kaca yang dilengkapi sihir pembekuan abadi. Ia menyaksikan wajah pucat di dalam peti, tak mengembuskan napas, dengan tubuh sangat kaku. Namun, ekspresi regresor adalah ekspresi yang belum pernah Josefin lihat sebelumnya.

Ketenangan.

Kedamaian.

Josefin membisikkan bahwa ia belum mati, ia hanya beku, tapi gagasan itu tertampik begitu mudah karena sakit hatinya.

Who the Real Villain? [2]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang