Kethra menyalakan bola komunikasi yang sejak tadi berkedip-kedip, pertanda ada panggilan masuk. Pada awalnya, dia malas menerima panggilan, bangun dari ranjang saja rasanya sesusah mendaki gunung. Dia dilanda gundah gulana karena memikirkan mereka.
Warren menganggap mereka sebagai teman, tapi bagi Kethra mereka adalah sahabat.
Dia sudah memutuskan hal itu sebelum pengintaian di kuil pusat. Di mana mereka mendapatkan informasi dari mata-mata Chandier bahwa Max akan berkunjung ke sana saat larut malam. Dia merasa senang karena mendapatkan bukti, kini tersimpan rapi di dalam kotak yang diberi berbagai lapisan sihir.
Namun, sekarang bukti itu terasa bukan apa-apa lagi.
Mereka diculik.
Karena ketidakbecusannya.
Karena ketidakmampuannya.
Karena kebodohannya menganggap James mudah dilawan.
Rencana itu sederhana. Mereka memancing James, berhubung karena Ashkarem tak pernah sepi, alhasil area bank terpilih karena itu cukup lenggang dibanding area lainnya. Racun dan obat tidur akan membuat membuatnya tak sadarkan diri, kemudian mereka membawanya ke gudang terbengkalai. Mereka akan menginterogasi sedikit kemudian menahannya.
Kesederhanaan yang dapat dipatahkan semudah mengedipkan mata.
Sambungan yang terputus langsung membuat Kethra mencari mereka, tapi mereka tak bisa ditemukan di manapun. Saat itulah dunianya bergetar dipenuhi kesetiaan.
"Ini salahku." Kethra menggeram, seprai ranjangnya kusut. Dia tidak menangis, tapi wajahnya terasa sangat lengket. Rasa bersalah menguasai dirinya, menusuk-nusuk tiap nadi tubuhnya, dan membisikkan kata-kata yang sama berulang kali di telinga.
Dada Kethra sesak, kerongkongannya mengering seperti habis berjalan di padang pasir.
Dia tak dapat berpikir apa-apa saat ini, hanya menatap langit-langit yang menjulang tinggi berhiaskan burung-burung.
Panggilan itu mengganggu telinganya. Dia melirik jam dinding, sudah menjelang malam. Panggilan itu sudah berdering selama dua menit lebih, jadi, dengan kegeraman dan kemalasan, dia melesat ke meja. Sihir menyalakan bola komunikasi sementara dia merapikan rambut dan baju yang kusut.
Ternyata Henrietta.
Kethra mengangkat alis pada penampilan gadis itu. Luar biasa kacau. Pipi cekung sangat dalam, kantong membayangi mata ruby yang redup, tulang bahu tampak jelas di atas pakaian berkerah rendah, dan tangan yang kurus bukan main. Rambut Henrietta jelas belum lama keramas, tapi cukup kusut seolah-olah tak disisir. Kethra seperti melihat mayat hidup, dan dia tak perlu menanyakan alasannya.
Kabar tentang rantai monster tersisa empat sudah menyebar. Wajar apabila Henrietta sangat frustasi. Kethra tak bisa membayangkan betapa lelah dirinya.
"Kau seperti habis dihantam badai," cibir Kethra. Henrietta menghela napas, mug tergeletak di samping lengannya. Mungkin berisi kopi.
"Kau tak lebih baik, Nona. Apa yang terjadi?" Mereka belum bertukar kabar selama beberapa hari ini. Kethra tak mau mengganggu waktu Henrietta, di satu sisi Henrietta juga demikian. Mereka tahu jika mereka sama-sama sibuk.
Setelah mengetahui jika itu adalah Henrietta, Kethra menjadi lebih santai. Dia jadi lebih buruk karena melepas topeng ketenangan. Namun, Henrietta sama sekali tak ambil peduli dengan hal itu. Mereka sama-sama buruknya, jadi tak pantas mengejek satu sama lain.
"Atalya dan Morrigan diculik oleh anjingnya Putra Mahkota. James, kau mungkin masih ingat?" Kethra selalu memberikan kabar mengenai penyelidikannya. Di satu sisi, Henrietta juga memberitahu kondisi tempat penyegelan. Kethra tak dapat berkomentar saat Henrietta memberitahu bahwa dirinya menyukai tempat itu. Kethra tersenyum gara-gara Henrietta terbebas dari cengkeraman Maxime, menemukan kesenangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Who the Real Villain? [2]
Fantasy-Sang Penyihir atau sang Putra Mahkota- Kethra telah mengumpulkan sekutu yang cukup untuk masa depannya yang tenang saat monster menghancurkan Kekaisaran. Dia berniat jauh-jauh dari kekacauan, tidak mencemplungkan diri dalam bahaya. Namun, tampaknya...
![Who the Real Villain? [2]](https://img.wattpad.com/cover/329875587-64-k130398.jpg)