Bab 43

191 27 6
                                        

Pemikiran itu sederhana saja, tapi mereka melupakan poin terpentingnya. Kekuatan sang Pengubah dan Jyotisha. Mereka sibuk memikirkan ke mana Max kabur, sampai lupa dengan probabilitas itu.

Sang Pengubah dapat mengubah kekuatan jenis apapun yang ada di sekitarnya menjadi kekuatannya. Menjadi apapun yang dapat ia kendalikan. Benteng sihir mengandung kekuatan yang sangat besar, karena ada kekuatan Lorrin dan Nathaniel di sana. Dengan itu, ia justru kesenangan, alih-alih kerepotan.

Ia menyerap dan mengubah kekuatan itu. Sementara Jyotisha adalah iblis pengubah juga. Hanya saja, tak seperti monster yang mengubah kekuatan tak kasat mata, ia mengubah sesuatu yang nyata. Seperti mengubah tubuhnya menjadi Henrietta.

Benteng itu tak hanya memiliki kekuatan sihir, tapi juga nyata. Jyotisha dapat memanipulasinya. Sementara benteng yang asli telah diruntuhkan, ia mendirikan benteng palsu. Membuat orang-orang percaya bahwa benteng masih ada, sementara ia melakukan tugas pertama.

Yaitu meluluhkan sang Raja Pengubah, dan memastikan para monster berada di bawah kendalinya.

Entah kapan benteng yang asli diruntuhkan, tapi sekarang yang jelas monster akan segera menyerang. Peringatan itu berdering di kepala setiap kepala orang. Legiun yang disiapkan di depan benteng akan terkejut ketika monster tumpah ruah, sementara mereka belum benar-benar siap.

"Kita benar-benar bodoh," kata Lorrin.

Mereka berteleportasi, tiba di depan sabana, berusaha menemukan benteng berwarna biru gelap berbentuk kubah. Namun, benteng itu tak ada. Justru monster burung mengangkasa di atas sana, berkoak, menyemburkan api biru dan hijau, setiap kepakan sayap mereka merobek udara dengan ganas.

Legiun Kekaisaran kacau.

Sesuai perhitungan, mereka tak menyangka serangan ini. Pertempuran besar menggelora di tempat itu. Monster-monster bertubuh tiga sampai lima kali lipat dari tubuh manusia biasa meraung, mencakar, dan menubrukkan badan –– berusaha menembus tameng prajurit.

Teriakan prajurit dan ksatria membelah udara, tapi tenggelam di tengah suara membahana monster. Kuda-kuda mereka meringkik, gentar, tapi tetap maju sementara penunggangnya mengacungkan pedang. Yang lain menembakkan panah dan tombak, bergerak segesit dan secepat mungkin di antara badan monster. Mereka diuntungkan karena berbadan kecil, tapi keuntungan itupun tak berlangsung lama.

Medan pertempuran itu ditumpahi ribuan monster. Sesak, sempit, dan panas. Bernapas saja terasa susah. Sebagian besar monster menguasai elemen api, alhasil suhu naik drastis. Padahal langit biasa-biasa saja.

Banyak prajurit yang tumbang, terinjak atau dimakan monster. Darah menggenang dan berceceran di mana-mana, di antara senjata yang tertancap di tanah. Tak butuh waktu lama medan itu banjir darah. Kepala dan anggota badan tergeletak di berbagai tempat, zirahnya koyak dan terkesan dilakukan semudah merobek kertas.

Para penyihir kualahan, mereka sibuk memblokir lemparan api dan melindungi prajurit. Hampir tak ada waktu untuk menyerang. Mereka sibuk bertahan.

Kethra menyaksikan pertempuran di depannya dalam diam, bibirnya membentuk garis tipis, dan bulu kuduknya meremang sedemikian rupa.

Perang.

Satu kata yang berdentang di pikirannya sejak tadi.

"Kacau," kata Rae. Kethra menggeleng. "Kita akan mengendalikan situasi, pasti." Kalaupun tak bisa dikendalikan, mereka terpaksa mundur. Membiarkan monster mengambil alih satu kawasan di daerah itu.

Namun, yang diserang sekarang hanyalah baris terdepan. Pasukan yang berada di bukit dan lembah masih siaga, menunggu komando Panglima Besar, Xander Faringray. Panglima yang kini berjaga tak jauh darisini, mendengarkan laporan Wakil Panglima yang memimpin legiun depan.

Who the Real Villain? [2]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang