Pagi yang cerah bukan berarti pagi yang ceria, itulah yang dirasakan Akbar. Entah kenapa, pikirannya terasa terus berputar tanpa henti.
Diruang kelasnya, Akbar tampak lesu dengan pikirannya sendiri. Bahkan ia tidak menghiraukan Taufiq yang mengoceh disampingnya.
Sejak pertemuan di rumah Tasya waktu itu, sudah 2 hari Tasya tidak masuk kuliah hingga membuat Akbar semakin merasa bersalah.
Ditambah lagi perihal perasaannya pada Feli yang entah sampai kapan akan ia pendam. Ingin mengungkapkan pun belum tentu bisa bersama, perbedaan mereka terlalu tinggi.
Plak..
Taufiq menggeplak lengan Akbar akibat tidak dihiraukan sedari tadi. Sentak, Akbar pun tersadar dari lamunannya.
"Woy.. Astagfirullah Akbar.. Gue dari tadi ngoceh, lo malah ngelamun aja.." omel Taufiq.
"Siapa juga yang nyuruh lo ngoceh.." sahut Akbar.
"Sabar Fiq.. Sabar.. Cowok sabar dapet bidadari.." ucap Taufiq menyabari dirinya sendiri.
Akbar terkekeh dibuatnya, "Iya kalo bidadarinya mau sama lo.."
"Lo tuh ya, giliran ngejulit aja cepet.." Taufiq menatap kesal Akbar yang masih cengengesan, "Lagian apa sih yang lo pikirin? Dari tadi ngelamun mulu.."
Akbar pun menghela nafasnya dan menceritakan perihal masalah yang membuatnya pening. Ia rasa, Taufiq bisa dipercaya.
🍁..🍁..🍁
Disisi lain, Tasya terus mengurung dirinya di kamar. Bahkan bu Sarah sekalipun kesulitan untuk membujuknya membuka kamar.
Tok.. Tok.. Tok..
"Tasya.. Buka pintunya.. Mama bawain makanan kesukaan kamu nih.. Makan dulu yuk.." bujuk bu Sarah.
"Gak laper.." jawabnya dari dalam.
Bu Sarah hanya bisa menghela nafasnya, karena itu sudah percobaan yang kesekian kalinya.
"Yaudah kalo gitu bukain dulu dong.." pintanya sekali lagi..
Semenit berlalu, 2 menit berlalu, bu Sarah masih menunggu didepan pintu.
Ceklek..
Dan akhirnya pintu pun terbuka. Sebelum Tasya berubah pikiran, bu Sarah pun segera masuk. Sedangkan Tasya, ia langsung menuju balkon setelah membukakan pintu.
"Makan dulu sayang.." Tasya hanya menggeleng sembari duduk di kursi balkon.
"Jangan kayak gini terus dong.. Nanti kamu sakit.." bu Sarah masih terus berusaha membujuknya dengan lembut.
"Apa kurangnya Tasya mah? Apa Tasya gak boleh bahagia?" mata berkaca-kaca itu menatap lurus ke depan.
Bu Sarah menghela nafasnya, ia paham apa yang dirasakan oleh putri semata wayangnya itu.
"Kurangnya kamu itu cuma 1.. Gak mau nerima penolakan.." jawabnya yang membuat Tasya menunduk.
"Dan soal kebahagiaan.. Semua orang berhak bahagia.. Tapi tidak selalu dengan pilihannya sendiri.. Terkadang pilihan lain itu lebih baik dari pada pilihan kita sendiri.."
Tasya menatap bu Sarah yang duduk disampingnya penuh tanda tanya, "Maksud mamah?"
"Contoh.. Waktu kamu mau beli apel misalnya, ada 2 jenis, apel merah sebelah kanan dan apel hijau sebelah kiri.. Terus kamu pilih tumpukan apel yang sebelah kanan.. Terus penjualnya bilang, yang kiri baru dateng neng.. Tapi kamu ngeyel dan tetep milih yang sebelah kanan cuma karna kamu sukanya apel merah.. Pas udah di bawa pulang kamu nya nyesel karna ternyata apel merahnya busuk.." Tasya terdiam mencoba memahaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antara Hati & Logika
Romance📌 FOLLOW SEBELUM BACA ❗❗❗ 📌 Spin Off "Takdir si Kembar" 📌 Sudah End 📌 Belum Revisi Akbar Umair Al-Fariz yang kerap disapa Akbar adalah seorang pria kelahiran Kalimantan yang pindah ke Jakarta karena ingin melupakan kisah masa lalunya. Namun siap...
