Setelah apa yang sudah terjadi, Akbar harus tetap menjalani hari-harinya seperti biasanya. Dengan kondisi tangan yang masih terbalut perban, ia melangkah keluar kelas bersama Taufiq.
Baru satu langkah keluar dari kelasnya, ia sudah dihadang oleh Feli. Tidak hanya Feli, didepan kelas itu juga ada Daffa dan Zaid yang baru mendekat.
"Lo kemana aja kemaren?" tanya Feli.
"Gak kemana-mana.."
Akbar tampak enggan menatap Feli, bahkan setelah menjawab pertanyaan gadis itu, ia berniat langsung pergi, namun Feli lebih dulu menahannya.
"Bar, tunggu.. Gue belum selesai ngomong.."
Akbar berusaha menyingkirkan tangan Feli yang menahan tangannya, "Entar aja.. Gue laper.."
Saat Akbar menepis tangannya, Feli baru sadar jika tangan Akbar terbalut perban, seketika membuatnya semakin khawatir.
"Astaga.. Tangan lo kenapa?"
Tidak ada jawaban dari Akbar, ia malah menjauhkan kedua tangannya dari Feli. Saat Feli ingin kembali bertanya, suara Tasya menghentikannya.
"Ayo ke UKS.. Perban lo dari tadi malam belum di gan.."
Ucapan Tasya terhenti saat tatapannya saling bertemu dengan Feli. Ia benar-benar tidak tau jika ada Feli disitu karena ia baru saja keluar dari kelas.
Tasya mengalihkan tatapannya kearah Zaid yang juga menatapnya, hingga terjadilah saling kode diantara mereka.
"Ayo Za, gue gantiin perban lo.." ucap Tasya sembari cengengesan menatap Zaid.
Meskipun Tasya menyukai Akbar, tapi ia sudah berusaha untuk mengikhlaskannya, ia rasa berdamai dengan kenyataan itu lebih baik. Itulah sebabnya ia merasa tidak enak hati dengan Feli saat itu.
"Hah.."
Zaid benar-benar tidak mengerti, pasalnya ditubuhnya tidak ada perban sehelai pun tapi kenapa malah dirinya yang ingin digantikan perban pikirnya, tidak peka memang.
"Udah ayo.. Keburu infeksi luka lo.. Buntung tau rasa.." ucap Tasya sembari menarik Zaid pergi dari sana.
Setelah kepergian mereka berdua, Daffa dan Taufiq saling menatap, rupanya bukan hanya Zaid yang kebingungan tapi Daffa juga.
"Zaid luka apaan?" tanya Daffa.
"Luka hati.." bisik Taufiq.
Dan akhirnya Daffa mengerti juga, kini mereka berdua saling senggol karena merasa canggung berada diantara Akbar dan Feli.
"Udah ayo ke kantin.. Gue laper.. Jatah makan gue dicolong kucing tadi.." ucap Daffa sembari merangkul Taufiq pergi dari sana.
Setelah kepergian mereka, suasana kembali hening, Feli bingung harus bicara apa, sedangkan Akbar masih enggan untuk bicara bahkan sekedar melirik pun tidak mau.
"Bar.. Gue minta maaf.." ucap Feli memecah keheningan.
"Buat apa?"
"Soal tadi malam.."
"Tadi malam? Emang ada apaan?"
Feli menatap bingung Akbar yang tengah menatap layar ponselnya. Ia rasa Akbar tau semuanya, tapi kenapa malah bertanya seperti itu.
"Lo.. Denger kan waktu nganterin balik kebab gue?" tanya Feli sedikit ragu.
"Denger apa? Gue gak denger apa-apa.. Habis nganterin kebab gue langsung balik.."
"Jadi lo gak denger?"
"Hmm.."
Akbar mengangguk tanpa menatap, bahkan ia memperlihatkan ekspresi datar seperti tidak tau apapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antara Hati & Logika
Romance📌 FOLLOW SEBELUM BACA ❗❗❗ 📌 Spin Off "Takdir si Kembar" 📌 Sudah End 📌 Belum Revisi Akbar Umair Al-Fariz yang kerap disapa Akbar adalah seorang pria kelahiran Kalimantan yang pindah ke Jakarta karena ingin melupakan kisah masa lalunya. Namun siap...
