47 ~ Keputusan Mutlak

1.4K 172 15
                                        

Tepat pukul 01:00 Akbar masih berguling-guling ria di kasurnya. Sudah berjam-jam ia mencoba tidur, namun sayang mata, hati, dan pikirannya seakan menolak untuk tidur.

Sesekali Akbar memijat keningnya yang terasa pening akibat tidak bisa tidur.

"Anjirrr.. Gara-gara ketemu Feli gak bisa tidur gue.." decaknya.

Ya, siang itu ia memang bertemu Feli di resto milik Tia yang di resmikan hari itu. Sebagai abang tentu saja ia hadir di acara itu, dan ternyata Feli juga di undang, dan yang membuat Akbar terus memikirkannya adalah penampilannya.

*Flashback on*

Seiring berjalannya waktu yang terasa begitu cepat, si kembar kini tengah mengandung. Sebagai seorang abang, tentu saja Akbar turut merasa senang dan tidak sabar ingin bertemu dengan calon keponakannya itu.

Tidak hanya mereka berdua yang turut hadir, 3 teman Akbar dan geng Tiger juga. Suasana di sana sungguh ramai akan canda tawa mereka semua.

"Bar.. Lo kapan nikah.. Bentar lagi lo punya ponakan.. Kalo mereka nanya, tantenya mana om, mau jawab apa lo.." ucap Daffa.

"Anjirrr.. Gue mutilasi juga lo entar.." sahutnya geram.

"Kebetulan si Mauza sama Muezza belum makan.." celetuk Zaid.

Akbar terdiam saat mendengar dua nama harimau ketua, seketika otaknya memutar ulang setiap momen bersama Feli di kandang dua harimau itu.

"Mending lo aja yang masuk kandang mereka sana.." sahut Daffa dengan kesal.

"Gue sama mereka kan temenan.. Gak kek lo bikin emosi Mauza mulu.." sahut Zaid.

Daffa mendengus kesal kemudian melempari Zaid tisu bekas, Zaid yang mendapat serangan itupun tidak tinggal diam, ia juga melakukan hal yang sama, pada akhirnya mengundang tawa semua orang.

"Assalamu'alaikum.."

Semua orang mengalihkan fokus mereka ke arah suara, ternyata Feli yang datang. Semua orang yang tau jika Feli adalah seorang non muslim, seketika dibuat tercengang saat melihat Feli datang memakai gamis serta hijab.

"Wa'alaikumsalam.."

"Bar.. Temboknya udah roboh.." celetuk Daffa.

*Flashback off*

Akbar mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustasi, ia tidak tau bagaimana caranya menghentikan otaknya yang terus memutar ulang kejadian di resto Tia.

"AAAKKHH..."

Bersamaan dengan teriakannya, Akbar mendudukkan dirinya dan kembali mengacak-acak rambutnya serta meraup kasar wajahnya. Untungnya kamarnya itu kedap suara, sehingga orang tuanya tidak akan mendengar teriakannya.

"Si Feli seriusan mualaf.." gumamnya.

Akbar memang masih tidak percaya jika Feli mualaf karena ia sendiri tau jika keyakinan Feli yang dulu lumayan kuat, ditambah orang tuanya yang sangat anti dengan islam.

Akbar menggaruk kepalanya sembari berpikir, "Reaksi nyokap bokapnya gimana ya.. Kayaknya gak mungkin kalo mereka terima gitu aja.."

"Si Eza pasti bakal ngamuk ke gue lagi.." gumamnya sembari tersenyum miring.

Akbar mengangkat kedua bahunya, "Gak masalah.. Toh bukan gue yang maksa.."

Akbar kembali terdiam, bayang-bayang Feli siang itupun masih terlihat jelas, Akbar benar-benar tidak bisa melupakannya.

"Lo lebih cantik pake hijab Fel.." batinnya sembari tersenyum.

Antara Hati & LogikaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang