Sekitar pukul 20:35 Akbar terpaksa membawa motornya ke bengkel karena tiba-tiba mati saat ia ingin pulang ke rumah. Hampir 1 jam ia menunggu, namun motornya belum disentuh oleh para mekanik karena bengkel itu memang sedang ramai.
"Bro.. Masih lama gak?" tanya Akbar.
"Sorry bro.. Tuh, masih banyak.. Lagian lo datangnya belakangan kan.."
Saat Akbar sedang bicara dengan salah satu mekanik bengkel, tanpa ia sadari ada Adam yang sedang mendekatinya.
"Assalamu'alaikum.." ucap Adam.
"Wa'alaikumsalam.. Adam.. Ngapain? Servis mobil?" tanya Akbar.
"Tidak.. Tadi habis dari supermarket, cari pesanan umi... Waktu lewat, tidak sengaja lihat kamu.." jelasnya, "Ngapain disini?"
"Motor gue mogok lagi noh.." tunjuknya kearah motornya.
"Ya sudah, kalau begitu pulang bareng saya saja.. Lagipula sepertinya motor kamu masih lama kan?" tawar Adam.
"Iya sih.. Tapi gak ngerepotin nih.. Kan komplek kita beda arah.." ucap Akbar merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa.. Saya tidak merasa direpotkan.." jawabnya sembari tersenyum.
"Iya ya, kan bentar lagi jadi ipar.." Akbar terkekeh melihat wajah Adam yang tampak malu-malu.
🍁..🍁..🍁
Didalam kamarnya, Feli sedang melamun di balkon kamar dengan tatapan tertuju pada bintang di langit. Sudah 1 jam ia berdiri di sana hanya untuk mencari ketenangan, namun tak kunjung ia dapatkan.
Tangan yang sedari tadi memegang pinggiran balkon, perlahan memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak, entah kenapa Feli pun tidak mengerti perasaan apa yang sedang ia rasakan.
"Kenapa perasaan gue gak enak gini ya.." gumamnya dalam hati.
Feli terus mencoba menerka perasaannya sendiri, entah apa yang sedang terjadi dengannya malam itu, ia merasa benar-benar gelisah.
"Diluar dingin Fel.." tegur Eza.
Entah kapan Eza masuk, suaranya membuat Feli tersentak dan spontan menoleh kebelakang. Eza yang berdiri di ambang pintu balkon itu menatap heran adiknya yang terlihat gelisah.
"Kamu kenapa?" tanya Eza sembari mendekat.
Feli menggeleng dengan cepat "Gakpapa.."
"Kamu itu gak pinter bohong.. Udah jujur aja.. Kenapa?"
Feli menghela nafasnya, ia memang tidak bisa menutupi apapun dari Eza, karena Eza sangat peka dengan perubahan sikap Feli, bahkan tanpa bicara sekalipun.
"Feli juga gak tau.. Perasaan Feli tiba-tiba gak enak kak.." jawabnya sembari menunduk.
Eza terkekeh, "Mungkin kamu gugup karna bentar lagi nikah.."
"Apa iya?" tanya Feli dalam hati.
"Yaudah.. Mending sekarang masuk.. Istirahat.. Disini dingin.." ucap Eza.
"Bukannya kak Eza yang harus istirahat.. Kakak baru pulang dari kantor kan?"
Eza mengangguk pelan, "Yaudah.. Kakak istirahat duluan.. Kamu jangan lama-lama disini.."
"Hmm.." Feli mengangguk sembari tersenyum.
Eza mengusap ujung kepala Feli, kemudian beranjak pergi menuju kamarnya. Setelah Eza keluar, Feli kembali menatap langit malam.
"Semoga tidak terjadi hal buruk setelah ini.." gumamnya.
🍁..🍁..🍁
Selama diperjalanan, Akbar dan Adam terus membahas soal si kembar. Dan entah kenapa Akbar juga merasa gelisah memikirkan si kembar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antara Hati & Logika
Romance📌 FOLLOW SEBELUM BACA ❗❗❗ 📌 Spin Off "Takdir si Kembar" 📌 Sudah End 📌 Belum Revisi Akbar Umair Al-Fariz yang kerap disapa Akbar adalah seorang pria kelahiran Kalimantan yang pindah ke Jakarta karena ingin melupakan kisah masa lalunya. Namun siap...
