23 ~ Teguran

1.2K 161 6
                                        

Setelah mendapat pesan dari sang mama, Feli pun segera pulang. Dalam hatinya bertanya-tanya, apa yang ingin orang tuanya bicarakan sampai memintanya segera pulang.

Sesampainya Feli dirumah, orang tuanya sudah menunggunya lebih dulu di ruang tamu. Disaat bersamaan Eza juga baru pulang dari kantor.

"Duduk kalian.." titah pak Willi.

Mendengar nada bicara pak Willi yang tampak tegas itu membuat Feli dan Eza saling menatap bingung beberapa saat.

"Kenapa jam segini kamu sudah pulang, Eza?" tanya pak Willi.

"Kerjaan kantor udah beres pa.. Jadi buat apa Eza lama-lama di kantor.." jawabnya.

"Dan kamu Feli.. Dari mana saja? Bukannya jam kuliah udah selesai dari tadi siang.. Ini sudah jam berapa?"

"T-tadi Feli main ke rumah Diva pa.." jawabnya tanpa berani menatap.

"Gak usah bohong Fel.. Papa dan mama lihat kamu di taman tadi.." ucap pak Willi.

Feli pun terdiam, ia tidak tau harus bicara apa lagi, dalam hatinya ia takut jika papa nya menanyakan soal Akbar, hingga tanpa sadar Feli meremas dressnya. Eza yang menyadarinya itupun melirik dari ujung matanya.

"Siapa cowok itu?" tanya pak Willi.

"D-dia temen kuliah Feli.." jawabnya gugup.

"Ada hubungan sama dia?" tanya pak Willi lagi.

Feli menggeleng, "Cuma temen.." jawabnya.

"Jangan deket-deket sama anak geng motor seperti dia lagi.. Cowok seperti itu cuma bisa nyusahin kamu, gak ada tanggung jawabnya.. Di otaknya cuma ada foya-foya.."

"Kamu juga Eza.. Jangan sekali-kali kembali bergabung dengan teman-teman jalananmu itu.."

Feli hanya mendengarkan, ia tidak berani menjawab apapun, begitu juga dengan Eza. Mereka berdua sangat tau jika papa nya itu sangat anti dengan geng motor, bahkan Eza terpaksa menjaga jarak dengan teman-temannya karena papanya itu, padahal separuh jiwanya ada disana.

Tidak mendapat jawaban dan bantahan apapun dari kedua anaknya, pak Willi segera beranjak pergi.

"Eza.. Feli.. Ingat penyakit papa.. Jangan bikin papa marah.. Ikutin aja apa yang papa bilang.. Semua itu juga demi kebaikan kalian.." ucap bu Luci yang sedari tadi diam.

"Iya ma.." jawab mereka bersamaan.

Bu Luci pun ikut pergi setelahnya. Eza memijat kepalanya yang terasa pusing karena papanya yang sudah menilai negatif geng motor secara berlebihan.

Feli yang sudah merasa tidak karuan rasa itupun segera berlari menuju kamarnya.

🍁..🍁..🍁

Setibanya di markas AERLANG, Akbar dan anggota ALASKING langsung berkumpul didalam. Namun pandangan Akbar tertuju pada seorang gadis yang berpenampilan tomboy.

"Gue baru tau kalo ada anggota cewek di AERLANG.." ucap Akbar.

"Dia bukan anggota.. Dia cuma numpang makan disini.." sahut Devan.

"Sialan.. Jelas-jelas lo yang ngajak gue kesini.." timpal Dara, teman kecil Devan.

Devan hanya tertawa sembari menatap wajah kesal Dara, satu hal yang dapat Akbar tangkap dari tatapan itu, Devan menyukai Dara.

"Tau gitu tadi cewek lo ajak aja sekalian.. Itung-itung nemenin si Dora explorer.." ucap Zio.

"Heh ketua alas karpet.. Bisa gak sih gak nyari masalah sama gue.." sahut Dara dengan kesal.

Antara Hati & LogikaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang