41 ~ Berdoa

1.4K 183 28
                                        

Masih di ruangan yang sama, dengan bantuan alat yang sama, entah sampai kapan Akbar akan terus seperti itu. Kurang lebih 1 bulan Feli selalu mengunjunginya tanpa ada satu hari pun yang terlewatkan. Namun kondisi Akbar masih tetap sama, tidak ada perubahan yang terlihat.

Di ruangan itu, Feli masih setia menatap wajah Akbar, sesekali air matanya menetes karena merindukan sosok Akbar yang selalu membuatnya ceria.

Feli tersenyum tipis kemudian menyatukan kedua tangannya untuk berdoa kepada Tuhan yang ia yakini, ia memejamkan matanya saat air matanya kembali menetes.

"Ya Tuhan.. Sudah hampir satu bulan Feli meminta hal yang sama.. Tolong kabulkan lah.. Feli udah gak sanggup liat kondisi Akbar kayak gini.." doanya dalam hati.

Setelah berdoa, Feli kembali menatap wajah Akbar. Setiap menatapnya, otaknya selalu memutar ulang setiap momen yang pernah mereka lalui. Rasa bersalah itupun masih sangat ia rasakan.

"Bar.. Lo gak cape apa tidur hampir sebulan.. Gue aja cape loh bolak balik rumah sakit.." ucap Feli.

"Ruangan lo ini sepi banget kek kuburan.. Mana bau obat lagi.. Berasa pengen gue bawain pengharum ruangan tau gak sih.." kicaunya dengan pandangan menyusuri setiap sudut ruangan itu.

"Bar.. Tau gak.. Gue batal nikah.. Tapi gue seneng, anjirrr.. Aneh emang.." Feli terkekeh namun matanya berkaca-kaca.

"Temen lo sekarang jahat semua sama gue.. Masa mereka gak bolehin gue ketemu sama lo.. Entar kalo lo udah bangun, bantuin gue bales dendam ke mereka ya.."

"Sekarang gue sama kak Eza juga gak pernah ngobrol lagi.. Gue kecewa sama dia.. Dia tau kalo lo itu orang yang berharga di hidup gue.. Tapi dia malah nyakitin lo sampe kek gini dengan alasan demi kebaikan gue.. Ini bukan kebaikan bagi gue, tapi kehancuran.."

"Maafin kakak gue ya Bar.. Gue tau dia jahat.. Tapi gimana pun juga dia tetep kakak gue.." tanpa dicegah air matanya kembali menetes.

"Lo berhak marah sama kak Eza.. Tapi gue mohon jangan lukain dia ya.. Gue siap buat nanggung semuanya.."

Begitulah setiap harinya, ia selalu bicara sendiri menceritakan banyak hal, namun ia juga selalu memohon kepada Akbar agar tidak melukai Eza. Meskipun dimata orang Eza itu licik, namun di mata Feli ia tetaplah Eza, kakak semata wayangnya.

🍁..🍁..🍁

Diwaktu yang sama, Eza sedang duduk di sofa ruang tamu apartemen pribadinya bersama beberapa temannya. Ekspresinya tidak menggambarkan jika mereka sedang bersantai ria, melainkan seperti sedang menahan emosi yang siap diluapkan pada seseorang.

"Lo yakin dia yang udah bikin Akbar koma?" tanya Eza.

"Iya.. Kemaren kita gak sengaja liat anggota AERLANG lagi nyelidikin siapa pelaku sebenernya.. Dan semua bukti emang mengarah ke dia.." sahut salah satu temannya yang bernama Rony.

Eza mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengatup kuat, dimatanya benar-benar terlihat api kemarahan. Ingin rasanya membunuh orang yang sudah menjadikannya kambing hitam sampai membuat adiknya sendiri membenci dirinya.

Ya, yang membuat Akbar koma bukanlah Eza, ia hanya di jadikan kambing hitam oleh pelaku sebenarnya. Eza sendiri tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang itu, Eza saja tidak berani bertindak sejauh itu, namun orang itu seakan tidak mempunyai belas kasian hingga berniat membunuh Akbar dan adik kembarnya.

Meskipun Eza sudah mengancam Akbar, namun ia tidak akan sebodoh itu menyakiti orang lain. Namun rupanya tindakan Eza mengancam Akbar itu malah dimanfaatkan oleh seseorang untuk menutupi niat jahat orang itu sendiri.

Antara Hati & LogikaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang