52 ~ Akbar vs Eza

1.4K 188 28
                                        

Markas, di sanalah Akbar berada. Sejak pulang dari kantor ia langsung pergi ke markas, dan selama berada di markas Akbar hanya diam saja. Teman-temannya pun bingung melihatnya, pasalnya ia sudah berjam-jam di sana tanpa bicara apapun sejak sore hingga pukul 8 malam.

Meskipun dari kantor seharian, namun penampilannya tidak begitu berantakan. Jas dan dasinya sudah ia lepaskan, sedangkan lengan kemejanya ia gulung hingga batas siku. Dengan penampilan seperti itupun ia bisa menarik perhatian banyak gadis di luar sana, sayangnya ia hanya tertarik dengan satu gadis yang sudah membuatnya kecewa hari itu.

"Dari tadi dia gak kemana-mana?" tanya Devan.

"Selain sholat, dia bakal tetep disitu.." sahut Taufiq.

"Apa asiknya coba tatap-tatapan sama Mauza.. Heran gue.." celetuk Daffa.

"Mereka itu lagi ngobrol lewat batin.." sahut Zaid.

Devan menggeleng pelan mendengar ocehan teman-temannya itu, kemudian kembali memperhatikan Akbar yang sedang melamun menatap harimau ketua.

BRAK..

Fokus semua anggota teralihkan pada pintu utama markas yang di buka paksa dengan kencang, namun pandangan Akbar masih tertuju pada harimau ketua, meskipun telinganya sedang mendengarkan siapa yang akan membuat keributan.

"AKBAR..."

Saat namanya disebut, barulah Akbar menoleh, ternyata Eza lah yang datang. Dengan santainya Akbar beranjak dari duduknya dengan posisi kedua tangan masuk ke dalam saku celana sembari menatap datar Eza yang menatapnya penuh emosi.

Saat Eza mulai mendekati Akbar, beberapa anggota AERLANG ingin menghalanginya, namun Akbar sudah lebih dulu mengode mereka agar tetap diam saja, karena Akbar tau jika Eza di halangi, Eza pasti semakin menjadi-jadi.

"Apa masalah lo sampe masuk tanpa izin?" tanya Akbar.

Eza tersenyum sinis kemudian menarik kerah kemeja Akbar, namun lagi-lagi Akbar tetap bersikap santai dengan tampang datarnya, seolah tidak takut sedikitpun dengan sikap kasar Eza.

"Gue kesini mau bikin perhitungan sama lo.."

"Apa salah gue?"

Brak..

Eza mendorong Akbar hingga menabrak kursi, namun Akbar masih tidak terpancing emosi, ia malah kembali berdiri tegap dan menatap Eza yang menatapnya dengan tajam.

Disaat yang bersamaan teman-teman Akbar merasa bingung, mereka ingin menyerang Eza, namun Akbar sudah berkali-kali mengode mereka untuk tetap diam.

"Ini kita seriusan diem aja.." ucap Daffa.

"Lo gak liat tadi Akbar nyuruh kita diem.." sahut Taufiq.

"Tapi kalo Akbar kenapa-napa lagi gimana?" tanya Zaid.

"Kalo Akbar sampe kenapa-napa, si Eza pasti lebih parah.. Ini wilayah kita.. Sedangkan Eza datang sendiri.." sahut Taufiq.

Mereka kembali terdiam, jika di pikir-pikir ucapan Taufiq ada benarnya juga. Eza tidak mungkin menyakiti Akbar di markas mereka, karena pasti Eza akan mendapatkan balasan yang lebih parah. Tapi mereka sedikit penasaran, apa yang membuat Eza berani datang ke markas AERLANG sendirian.

Disaat teman-temannya tengah berpikir, perdebatan antara Akbar dan Eza juga masih berlangsung. Untungnya Akbar tidak terpancing emosi, jika tidak sudah pasti akan terjadi baku hantam di sana.

"Lo udah nyakitin adek gue.." ucap Eza.

"Lo buta apa gimana.. Gue gak ngelakuin apa-apa waktu di rumah sakit tadi.. Bahkan gue gak ngomong apa-apa sama dia.. Kok malah jadi gue yang di salahin.."

Antara Hati & LogikaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang