26 ~ Siapa Dia?

1.2K 140 9
                                        

Mood Cafe, tempat yang sering didatangi oleh orang-orang yang sedang bermasalah dengan moodnya. Suasana cafe yang begitu nyaman dan tenang itu mampu merubah mood seseorang dalam sekejap.

Di minggu pagi, Daffa, Zaid dan Taufiq tengah asik bersantai sembari menunggu Akbar di cafe itu. Bukan karena sedang memiliki masalah dengan moodnya, melainkan karena ajakan Devan, kebetulan Devan adalah pemilik cafe itu.

Setelah 1 jam berlalu, akhirnya Akbar sampai juga, padahal teman-temannya sudah berdecak kesal sedari tadi.

"Tumben lama banget.." ucap Taufiq.

"Lo dari mana aja sih? Nyasar?" tanya Daffa.

"Ke gereja dulu tadi.." jawabnya.

Burrr...

Zaid yang tengah minum itu menyemburkan minumannya begitu saja tepat didepan wajah Taufiq.

"MUKA GANTENG GUE, ZAID...!!" Taufiq berdecak kesal sembari mengusap kasar wajahnya.

Dengan cepat Zaid meletakkan cangkir minumannya, kemudian mengangkat kedua telapak tangannya menghadap Taufiq.

"Sabar.. Sabar.. Marahnya tunda dulu ya.. Dengerin Akbar ngomong dulu.." ucapnya.

Diwaktu yang sama, Daffa pun ikut terkejut, ia segera beranjak berdiri tepat disamping Akbar.

"ASTAGFIRULLAHALADZIM AKBAR... Sejak kapan lo login kesono?"

"Gue masih Islam, anjirrr.." decak Akbar sembari menoyor kepala Daffa.

"Ya terus lo ngapain ke gereja?" tanya Zaid.

"Nganterin Feli doang.." jawabnnya sembari duduk.

Seketika ketiga temannya itu ber"oh" ria. Namun Taufiq kembali teringat akan wajahnya yang disembur Zaid.

"Gara-gara lo nih muka ganteng gue disembur dukun praktek.." ucap Taufiq.

Zaid menggaruk kepalanya sembari cengengesan sedangkan Daffa dan Akbar terkekeh melihat wajah kesal Taufiq.

"Nah.. Nyampe juga akhirnya.." ucap Devan yang baru saja mendekat.

"Tumben ngajak kumpul disini.. Biasanya juga di markas.. Kenapa?" tanya Akbar.

"Takutnya ada mata-mata disana.. Jadi mending bahas disini aja.." jawabnya.

"Mata-mata?"

Mereka berempat tersentak bersamaan, saling menatap was-was, hanya Akbar yang tidak mengerti dengan maksud Devan.

"Tadi malem, Farel bilang ada penyusup masuk ke markas.. Kebetulan anggota AERLANG yang tinggal di markas lagi pada keluar, jadi posisinya markas lagi kosong.."

Kendali pengamanan markas ada ditangan Farel, itulah sebabnya ia bisa tau dan segera mengabari Devan untuk berhati-hati.

"Lo yakin itu penyusup? Anggota AERLANG kan banyak, siapa tau salah satu dari mereka.." ucap Akbar yang berusaha berpikir positif.

"Di markas itu ada sensor pendeteksinya Bar.. Cuma anggota inti yang tau tempatnya dimana.. Jadi gak mungkin salah.." sahut Taufiq.

Berlebihan? Tentu saja tidak, itu semua demi keamanan. Dan itulah sebabnya Devan langsung menghampiri Akbar waktu pertama kali Akbar ke markas.

"Lah.. Gue kok gak disangka penyusup kemaren?" tanya Akbar.

"Lo kan dateng bareng kita.. Pas anggota inti tau lo itu anggota ketua, mereka langsung masukin lo ke daftar anggota.." sahut Zaid.

Akbar menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ia tidak menyangka jika pengamanan markas begitu ketat.

"Dan satu lagi, dari CCTV markas keliatan kalo harimau ketua itu marah waktu orang itu masuk.." ucap Devan sembari memperlihatkan rekaman CCTV.

Antara Hati & LogikaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang