32 ~ Akhir Hubungan?

1.4K 157 5
                                        

Setelah kejadian waktu itu, hubungan Akbar dan Feli semakin renggang. Sudah 1 bulan terakhir Feli tidak bertemu Akbar di Universitas, semua itu karena Akbar meneruskan kuliahnya secara online.

Dan tentu saja keluarganya tidak tau, Akbar selalu berangkat seperti hari-hari biasanya, berpenampilan selayaknya pergi kuliah. Namun ia tidak akan ke Universitas, melainkan ke toko bukunya. Ia sengaja menutupi semua itu dari keluarganya, dan ternyata semua itu berhasil.

Perasaannya? Tentu saja masih sama. Perasaannya terhadap Feli sudah terlalu dalam, tidak semudah itu melupakan Feli, bahkan rasa sakitnya pun masih sangat terasa.

Begitu juga dengan Feli, Akbar adalah cinta pertamanya, perasaannya tidak berubah sedikit pun meski mereka tidak bertemu lagi. Namun dari hati kecilnya, ia selalu ingin tau kabar pria itu.

Setelah jam kuliahnya berakhir, Feli menatap Daffa dan Zaid yang sedang bersiap-siap untuk pulang, kebetulan jarak tempat duduk mereka tidak begitu jauh.

"Daf.. Za.."

Merasa terpanggil, mereka berdua pun menoleh pada Feli, mereka terdiam menunggu apa yang ingin Feli bicarakan, meskipun sebenarnya mereka juga tau apa yang ingin gadis itu tanyakan, karena memang hanya satu pertanyaan yang selalu Feli tanyakan selama 1 bulan terakhir ini.

"Gimana kabar Akbar?"

"Dia baik-baik aja kok.." sahut Daffa.

Bibirnya tersenyum, namun wajahnya sangat menampakan sebuah kesedihan dan kerinduan yang teramat dalam pada pria itu.

"Dia gak ada niatan buat masuk kuliah lagi?"

"Kita gak tau.. Lo kan tau sendiri Akbar gimana orangnya.." sahut Zaid.

Feli kembali tersenyum sembari mengangguk, kemudian menunduk, air matanya akan selalu menetes setelah membahas soal Akbar. Sungguh, ia sangat merindukannya.

Diva yang duduk disampingnya itupun selalu mengusap pundaknya untuk sekedar menguatkan Feli, meskipun sebenarnya itu mustahil. Sahabat mana yang tidak ikut sedih melihat sahabatnya serapuh itu.

Daffa dan Zaid saling menyenggol dan mengode untuk pergi dari situ, setiap selesai menjawab pertanyaan Feli, mereka selalu merasa kasihan dan bingung, padahal sudah berkali-kali mereka ada di situasi seperti itu.

"Kita duluan ya.."

Ucapan Zaid itu hanya ditanggapi dengan sebuah anggukan. Bukan dari Feli, melainkan dari Diva, karena Feli akan terus menunduk menumpahkan air matanya hingga rasa sesaknya sedikit berkurang.

"Jangan gini terus dong Fel.. Gue jadi ikut sedih.." ucap Diva.

Feli yang masih menunduk itu tersenyum, "Gue kangen dia.."

Diva menghela nafasnya kemudian mendekatkan kursinya dengan Feli, ia memeluk Feli dari samping, hanya itu yang bisa ia lakukan.

"Feli yang gue kenal itu kuat.. Lo pasti bisa lewatin semua ini.."

Bukannya semangat, Feli malah semakin terisak tangis setelahnya, kehilangan Akbar terasa seperti kehilangan separuh jiwa, keceriaan dan semangatnya, semua terasa kurang semenjak Akbar menjauhinya.

"Gimana gue bisa kuat kalo orang yang salalu nguatin gue udah gak perduli sama gue.." batinnya.

🍁..🍁..🍁

Ditokonya, Akbar tengah menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya sembari memejamkan mata. Bukan tidur, ia hanya mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.

Akbar rasa, dirinya sudah gila sekarang. Setiap ia memejamkan mata, bayangan Feli malah semakin jelas, rasa sesak pun akan kembali menggerogoti dirinya. Perlahan ia kembali membuka matanya, menatap layar laptop yang menampilkan sebuah tulisan.

Antara Hati & LogikaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang