Pukul 5 dini hari, Feli sudah terjaga dari tidurnya. Ia berdiri diarea balkon kamarnya menatap langit yang masih gelap setelah selesai membaca buku tentang tuntunan sholat. Bukan yang pertama kalinya, tapi ke sekian kalinya, saking seringnya Feli sudah hafal diluar otak bagaimana caranya sholat.
Matanya memandangi langit dini hari tanpa berkedip, bibirnya mengukir sebuah senyuman saat otaknya memutar ulang sebuah momen di pernikahan si kembar beberapa hari lalu.
*Flashback on*
Hari menjelang sore, acara pernikahan si kembar pun sudah selesai. Saat Feli ingin pulang, fokusnya tertuju pada jajanan pedagang kaki lima yang memang diundang untuk berjualan didepan gerbang pesantren.
Entah kenapa Feli tiba-tiba tergiur melihat es dawet, tanpa pikir panjang Feli pun segera membelinya. Saat sedang menunggu, Akbar tiba-tiba datang membeli es dawet juga karena Via terus merengek minta dibelikan es dawet.
"Bang.. 2 ya.." ucap Akbar.
Seketika tatapan mereka saling bertemu setelahnya, "Sejak kapan lo suka es dawet?" tanya Feli.
"Gue gak terlalu suka sebenernya.." sahut Akbar.
"Terus itu buat siapa?"
"Si kembar.."
"Si kembar doang.. Suaminya gak?"
"Lah iya ya.. Gue lupa nanyain lagi.." ucap Akbar saat menyadarinya sembari menggaruk pelipisnya, seketika membuat Feli terkekeh.
"Bang.. Tambah 2 lagi ya.."
Pedagang itu mengangguk paham, kemudian suasana diantara mereka menjadi hening. Hingga akhirnya Akbar tiba-tiba pergi menuju pedagang yang lain, sedangkan Feli masih diam di tempat. Feli menghela nafasnya, berada didekat Akbar terasa canggung baginya sekarang.
Hingga pada akhirnya pedagang itu menyerahkan pesanan Feli, setelah membayar Feli segera beranjak menuju mobilnya. Baru membuka pintu mobil, tiba-tiba seorang pedagang menghampirinya.
"Mbak.. Ini punya mbak.."
Feli menatap bingung pedagang yang sedang menyodorkan sebungkus kebab, padahal ia sama sekali tidak memesan kebab.
"Maaf bang.. Saya gak pesen kebab.."
"Iya.. Tadi mas itu yang pesenin.." tunjuknya kearah Akbar yang sedang menyambut es dawet pesanan adiknya.
"Ini mbak.. Udah dibayar kok sama mas nya.." ucap pedagang itu lagi.
Feli pun segera menyambut kebab itu, "Makasih.." ucapnya yang berusaha menahan tangis.
Setelah pedagang itu pergi, Feli pun segera masuk kedalam mobil. Tanpa dicegah, air matanya menetes saat menatap kebab di tangannya.
"Ternyata lo masih inget sama kesukaan gue.." gumamnya.
Feli menyapu air matanya kemudian memakan kebab itu. Saat gigitan pertama, air matanya kembali menetes, memakan kebab itu seakan memutar ulang momennya bersama Akbar dulu.
"Makasih Bar.. Gue seneng banget.." gumamnya dengan suara bergetar akibat menangis.
*Flashback off*
Air mata Feli kembali menetes dengan pandangan masih menatap langit dini hari, bibirnya tersenyum indah. Sikap Akbar saat itu seakan menjadi pengobat rindu untuk dirinya.
"Makasih Bar.." lirihnya.
🍁..🍁..🍁
Didalam kamarnya, Akbar mengguling-gulingkan tubuhnya seperti adonan yang siap di goreng. Ia merasa bosan di rumah, semenjak si kembar menikah, tidak ada lagi teman bicara dan bercanda di rumah itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antara Hati & Logika
Roman d'amour📌 FOLLOW SEBELUM BACA ❗❗❗ 📌 Spin Off "Takdir si Kembar" 📌 Sudah End 📌 Belum Revisi Akbar Umair Al-Fariz yang kerap disapa Akbar adalah seorang pria kelahiran Kalimantan yang pindah ke Jakarta karena ingin melupakan kisah masa lalunya. Namun siap...
