54 ~ Membuka Hati

1.4K 179 42
                                        

Disaat merasa senang, tentu saja hari-hari yang di lalui terasa singkat. Tidak terasa hampir satu bulan Akbar menjalin hubungan baik bersama Feli dan Eza, mereka sering menghabiskan waktu bersama layaknya teman dekat.

Bahkan sore itu Akbar baru saja dari perusahaan Eza karena habis melangsungkan pertemuan di sana sejak siang hari. Kerjasama bisnis mereka berjalan lancar, bahkan berkat bisnis itu mereka jadi sering bertemu.

Sore itu Akbar melajukan mobilnya menuju toko bukunya, kebetulan selama mengurus bisnis di perusahaan sang ayah membuat Akbar jadi jarang datang ke toko buku, namun bukan berarti ia tidak pernah menerbitkan karya barunya. Urusan novel berjalan tanpa kendala meskipun Akbar sibuk, namun ia masih sempat membuat karya tulisnya disaat waktu senggang.

Saat di perjalanan, Akbar tidak sengaja melihat wanita paru baya yang sedang di hadang oleh beberapa preman, sepertinya mereka ingin merampas semua harta benda yang di bawa oleh wanita paru baya itu. Secara manusiawi, tentu saja Akbar tidak terima melihat seorang wanita paru baya di perlakukan kasar, bahkan ia sempat melihat jika salah satu preman menodongkan senjata tajam.

"LEPASKAN SAYA... PERGI KALIAN..." ucap wanita itu.

Preman yang sejak tadi memegang pisau, kembali menodongkan pisaunya, "BERIKAN SEMUANYA.." ucap preman itu.

"Apa lagi yang kalian inginkan? Saya sudah memberikan semuanya.."

Preman itu tersenyum sinis, "Dasar bodoh.. Kamu pikir kami buta.. SERAHKAN KALUNG ITU.." sahut preman itu sembari menodongkan pisaunya semakin dekat dengan leher wanita itu.

Wanita itu menggeleng kuat, dari semua harta yang ia bawa hanya kalung itu yang enggan ia berikan, karena kalung itu adalah pemberian dari almarhum suaminya.

"Serahkan atau kami akan menyakitimu.." ancam preman lain.

"Saya mohon jangan.. Kalung ini sangat berharga bagi saya.. Lagipula saya sudah memberikan yang lainnya.."

Para preman itu kesal karena wanita itu tetap tidak mau menyerahkan kalung berlian yang ia pakai, hingga pada akhirnya mereka berniat merebut paksa karena kalung itu sangat menggiurkan bagi mereka.

"WOY..." teriak Akbar.

Saat mendengar teriakan Akbar, 4 preman itu mengalihkan fokus mereka. 3 dari mereka segera menghadap Akbar, seolah siap menghabisi Akbar, dan yang satu lagi masih menahan wanita itu agar tidak kabur.

"Kalo mau dapet duit itu kerja.. Jangan malakin orang.." ucap Akbar.

"Sialan.. Gak usah ikut campur lo.." geram salah satu.

"Lo berharap gue diem? Sorry, lo mimpi.."

Para preman itu semakin geram dibuatnya, dan tanpa aba-aba mereka segera menyerang Akbar secara bersamaan dengan brutal, seakan benar-benar ingin menghabisi Akbar.

BUGH..

BUGH..

BUGH..

Tanpa rasa takut, serangan 3 preman itu Akbar tangkis dengan santainya, membuat para preman itu sempat tercengang, mereka pikir dengan satu kali serangan mereka bisa dengan mudahnya menghabisi Akbar, ternyata salah.

BUGH..

BUGH..

BUGH..

Para preman itu kembali menyerang dan Akbar pun kembali menangkisnya dengan santai. Disaat bersamaan, wanita paru baya tadi terus memberontak agar bisa lepas dari preman itu. Namun preman itu juga terus berusaha merebut kalung wanita itu.

Antara Hati & LogikaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang