Hari libur adalah hari yang paling dinantikan banyak orang. Begitu juga dengan Akbar, ia akan memanfaatkan hari liburnya untuk bersantai ria di kamarnya atau bahkan melakukan aktivitas yang lebih menyenangkan dari hari biasanya.
Sialnya, pikirannya tidak dapat diajak kerja sama. Entah kenapa pikirannya seakan terus memaksanya untuk mengingat Feli, gadis menyebalkan yang baru-baru ini semakin akrab dengannya.
Karena Akbar merasa tidak bisa mengendalikan pikirannya, ia memutuskan untuk menghirup udara segar dari balkon kamarnya.
"Kenapa gue malah keinget dia mulu sih.." gumam Akbar.
Matanya menatap lurus ke depan, perlahan ia pejamkan, berharap pikirannya bisa kembali normal. Namun sayangnya tidak sesuai dengan harapannya, ia malah kembali terbayang setiap momen dimana ia menatap mata Feli.
"Astagfirullah.. Gue harus sholat tobat dah nih kayaknya.." ucap Akbar sembari mengacak-acak rambutnya sendiri.
Dengan posisi tubuh yang sedikit membungkuk karena kedua tangan yang menopang dipinggiran balkon, Akbar kembali berpikir, apa yang sedang terjadi dengannya. Seakan-akan apa yang sedang ia pikirkan itu tidak masuk dalam logikanya.
"Wait.. Bukannya harusnya gue galau ya.." ucapnya saat mengingat masalah masa lalunya.
"Eh.. Tapi bagus dong.. Itu artinya gue udah move on kan.." sebuah senyuman terukir di bibirnya.
Namun senyum itu kembali meredup, "Tapi kenapa sekarang malah kepikiran Feli.."
Akbar meraup wajahnya dengan kasar, "Kalo dipikir-pikir gak masuk logika.. Anjirrr.."
"Dari awal ketemu, gue sama Feli udah bertolak belakang.. Sering debat.. Sekarang dia baik itupun karna gue udah nolongin dia.. Sebatas ucapan terimakasih.. Tapi kenapa sekarang malah kayak orang lagi..." Akbar menghentikan ucapannya saat ia sadar dengan apa yang ingin ia ucapkan.
Akbar kembali terdiam, dengan pandangan kosong, namun otaknya masih terus memutar balikkan logikanya sendiri.
"Masa iya gue suka sama dia.." ucap Akbar dengan pandangan yang masih sama.
"Suka sama siapa hayooo.." suara Via membuyarkan lamunannya.
"Ngagetin aja sih.." Akbar menatap kesal adiknya yang sudah mengejutkan dirinya.
Saat Akbar menoleh, ia baru sadar ternyata Tia juga ada didekatnya, namun ia hanya diam saja memperhatikan mereka. Tia memang kembali ke rumah pagi itu karena barangnya ada yang tertinggal.
"Makanya jangan ngelamun.." kekeh Via, "Abang belum jawab pertanyaan Via.. Abang suka sama siapa?"
"Dasar bocah kepo.." Akbar meraup paksa wajah Via.
"Iiihhh abaang.." Via berdecak kesal dibuatnya.
"Ngapain kesini? Jangan bilang mau minta duit lagi.." ucap Akbar.
"Suudzon aja.. Tuh.. Kita nganterin paket abang.." Via menunjuk sesuatu diatas kasur Akbar.
Akbar menoleh ke arah tangan Via menunjuk, ternyata disana ada sebuah kotak yang lumayan besar. Akbar yang sudah mengetahui isinya itupun hanya tersenyum.
Tia bingung melihat reaksi Akbar, "Itu apa sih bang? Kok berat banget.. Via sampe teriak-teriak minta bantuin tadi.." ucap Tia.
"Liat aja sendiri.." jawabnya.
Tanpa menunggu waktu lama, Via yang sudah sangat penasaran itupun segera berlari menghampiri dan membuka kotak itu. Dan Tia pun ikut menyusul.
"Huuaaa... Noveeel.." seru Via yang kegirangan sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antara Hati & Logika
Romansa📌 FOLLOW SEBELUM BACA ❗❗❗ 📌 Spin Off "Takdir si Kembar" 📌 Sudah End 📌 Belum Revisi Akbar Umair Al-Fariz yang kerap disapa Akbar adalah seorang pria kelahiran Kalimantan yang pindah ke Jakarta karena ingin melupakan kisah masa lalunya. Namun siap...
