Setelah aksi kejar-kejaran berakhir, Akbar memutuskan untuk mengantar Feli. Sebelum pulang, mereka mampir ke mesjid terlebih dahulu karena Akbar harus melaksanakan sholat magrib.
Seperti biasanya, Feli hanya bisa menunggu dan memperhatikan Akbar dari depan mesjid. Kebetulan Akbar memang menggunakan mobil, itulah sebabnya Feli bersedia diantar pulang, dengan begitu orang tuanya tidak akan tau jika Akbar yang mengantarkannya.
"Apa mungkin cinta dalam diam diantara kita ini bisa berakhir indah kayak di novel-novel.." batin Feli.
Mata yang sudah berkaca-kaca itu menatap lurus kedepan tepat kearah Akbar yang tengah berzikir didalam mesjid.
Feli tersenyum hambar, "Kita terlahir berbeda.. Tapii.. Gue cinta sama lo Bar.." bersamaan dengan itu air matanya menetes.
Tangannya meremas kuat dress yang ia kenakan, air matanya terus menetes. Sesak, dadanya terasa sesak karena harus terus memendam perasaannya.
🍁..🍁..🍁
Jajanan pedagang kaki lima rasanya lebih enak dari pada jajanan binatang lima, itulah yang Kiara rasakan. Malam itu Kiara mengajak Lala untuk membeli jajanan kesukaan Lala.
"Lala mau apa lagi sayang?" tanya Kiara.
Kiara menunduk untuk menatap putri kecilnya, namun Lala tidak ada disana.
"Lala kemana?"
Dengan panik, matanya menyusuri jalanan dari ujung ke ujung mencari keberadaan Lala, hingga akhirnya ia melihat Lala tengah asik bermain gelembung ditengah jalan.
TIIINN...
Sebuah truk melaju kencang kearah Lala berdiri. Tanpa pikir panjang, Kiara segera berlari menghampiri Lala.
"LALA..."
Karena jaraknya yang lumayan jauh dari Lala membuatnya tidak sempat menjangkau Lala, untungnya ada seorang pria yang sigap meraih tubuh gadis kecil itu.
Ibu mana yang tidak panik jika berada diposisi Kiara saat itu. Dengan mata yang sudah dibasahi air mata, Kiara merebut Lala yang tengah digendong pria itu, ia memeluk erat tubuh putri kecilnya. Jantungnya terasa berhenti berdetak saat ia hampir kehilangan putrinya.
"Lala gakpapa sayang?"
Lala yang memang masih belum terlalu mengerti itupun hanya menggeleng, namun tangannya perlahan mengusap air mata Kiara.
"Mama jangan nangic.. Dicini gak ada papa.. Gak ada yang pukul mama.."
Dalam pikiran Lala, jika Kiara menangis itu karena dipukuli oleh papanya. Pria yang tadi menolongnya itupun mengerutkan kening kebingungan, ia berusaha mencerna ucapan Lala.
"Makasih.." ucap Kiara dengan tulus.
"Hmm.. Lain kali kalo lagi ditempat umum gini lebih diperhatiin anaknya.." sahutnya.
Kiara mengangguk sembari tersenyum, "Sekali lagi makasih.."
"Om ciapa?" tanya Lala.
Pria itu tersenyum dan sedikit menunduk menyetarakan tingginya dengan Lala yang digendong Kiara, "Nama om, Taufiq.."
Ya, pria itu adalah Taufiq. Ia tidak sengaja melihat Lala saat ingin membeli jajanan untuk teman-temannya di markas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antara Hati & Logika
Romance📌 FOLLOW SEBELUM BACA ❗❗❗ 📌 Spin Off "Takdir si Kembar" 📌 Sudah End 📌 Belum Revisi Akbar Umair Al-Fariz yang kerap disapa Akbar adalah seorang pria kelahiran Kalimantan yang pindah ke Jakarta karena ingin melupakan kisah masa lalunya. Namun siap...
