03 ~ Luka Masa Lalu

2.2K 200 5
                                        

Ikhlas..
Menjalaninya tidak semudah mengucapkan..
Bagi manusia yang imannya setipis kertas, ikhlas itu diawali dengan keterpaksaan, kemudian berakhir dengan terbiasa..

~ Akbar Umair Al-Fariz ~

***

**

*

Sejak pulang kuliah, Akbar hanya mengurung dirinya di kamar hingga sore hari. Ia sudah berusaha memulai lembar baru di hidupnya, namun sayangnya lembar lama masih belum bisa ia buang.

Disebuah kamar dengan nuansa serba hitam itu Akbar merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan mata terpejam. Kelihatannya memang seperti orang sedang tidur, tapi kenyataannya pikirannya melayang-layang entah kemana. Hingga akhirnya membuat Akbar frustasi sendiri.

Dengan posisi tubuh yang telentang dengan kaki menjuntai ke lantai, perlahan kedua tangannya mengepal dan meremas seprai dengan kuat.

"AAAAKKKKHHHH....!!!" teriaknya sembari merubah posisinya menjadi duduk dan disaat bersamaan membuka kedua matanya yang sedari tadi terpejam.

Akibat pikirannya yang terlalu kalut, tanpa Akbar sadari salah satu adiknya sedang berdiri di ambang pintu.

"Astagfirullah.." Tia terkejut karena ia masuk bersamaan dengan teriakan Akbar.

Dengan cepat Akbar merubah ekspresinya menjadi datar, "Kamu ngapain di situ? Tumben masuk gak ngetuk pintu dulu.." ucapnya.

"Abang yang gak denger.. Tia udah ngetuk berkali-kali tapi gak ada jawaban.. Jadi Tia masuk aja buat mastiin abang ada apa gak.." jawabnya.

Tidak ada balasan dari Akbar, ia hanya menggaruk tengkuknya karena bingung dengan dirinya sendiri, bisa-bisanya dia tidak menyadari jika Tia sudah mengetuk pintu sedari tadi.

"Abang kenapa?" tanya Tia.

"Gak.. Cuma capek aja.." jawabnya, "Kamu ngapain cari abang?"

"Disuruh ayah panggil abang.. Katanya ada yang mau di omongin.." jawabnya.

"Yaudah, bilangin abang mandi dulu.. Entar abang samperin ayah.." ucap Akbar.

"Yaudah.. Jangan teriak-teriak lagi loh.. Kalo lagi frustasi itu zikir bang, bukan teriak.." ucap Tia.

"Iya.. Iya.." jawabnya sembari tersenyum.

Jika biasanya seorang abang yang menasehati adiknya, lain halnya dengan keluarga ini, Tia lah yang lebih sering menasehati Akbar dan kembarannya.

🍁..🍁..🍁

Selesai mandi, Akbar di kejutkan dengan gorden yang di tiup angin, ternyata ia lupa menutup pintu balkon di kamarnya.

Akbar baru sadar ternyata sore itu sedang turun hujan, seketika ingatannya kembali berputar mengingat sebuah momen.

*Flashback on*

Dijalan kota, Akbar tengah mengendarai motornya di tengah hujan bersama seorang gadis seusianya.

"Anjirrr.. Gak ada tempat buat neduh apa.." Akbar berdecak kesal karena hujan semakin deras.

"Terusin aja.. Aku suka hujan-hujanan.." ucap gadis yang dibonceng Akbar.

"Kalo kamu sakit gimana?" mata Akbar terus menyusuri pinggir jalan mencari tempat berteduh.

"Ya gak apa-apa.. Kan sakitnya bareng kamu.." gadis itu terkekeh geli.

"Gak usah ngadi-ngadi.." ucap Akbar.

Antara Hati & LogikaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang