57 ~ Pengantin Baru

1.8K 195 40
                                        

Setelah seharian melangsungkan pernikahan, akhirnya Akbar dan Feli memutuskan untuk tinggal di rumah bu Luci beberapa hari, kemudian beberapa hari di rumah orang tua Akbar, dan selanjutnya akan tinggal di rumah yang sudah Akbar siapkan untuk mereka berdua.

Ceklek..

Feli sempat tersentak setelah membuka pintu kamarnya karena melihat Akbar ada di kamar itu, ia baru ingat jika mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri.

Feli masih mematung di ambang pintu, menatap Akbar yang sedang bersiap untuk melaksanakan sholat magrib. Itu adalah pertama kalinya Feli melihat Akbar mengenakan sarung serta baju koko ditambah peci di kepalanya, entah kenapa ia merasa ketampanan Akbar menjadi berkali-kali lipat.

Ctak..

Seketika lamunan Feli buyar saat Akbar menyentil keningnya, "Ngelamunin apa, hm?" tanya Akbar.

Feli menggeleng gugup, "E-enggak.."

Saat Akbar ingin kembali bicara, tiba-tiba fokusnya teralihkan pada Eza. Awalnya Eza hanya ingin lewat, namun entah kenapa ia tiba-tiba mendekati mereka sembari menatap penampilan Akbar.

"Gimana cara make itu.." tunjuk Eza ke arah sarung yang Akbar kenakan.

"Lo belum pernah pake sarung?" tanya Akbar.

Eza menggeleng, "Gak tau caranya.. Lagian udah biasa sholat pake gamis, jadi belum kepikiran buat belajar pake sarung.."

Akbar mengangguk paham, kemudian saling menatap dengan Feli, lalu kembali menatap Eza secara bersamaan dengan tatapan tajam menyelidik.

"Kenapa liatin gue kek gitu?" tanya Eza.

"Sebenernya kakak sejak kapan masuk islam?" tanya Feli.

Eza terdiam sejenak, berusaha mengingat sudah berapa lama ia menjadi mualaf, "Emm.. Lupa.. Intinya gak lama setelah papa meninggal.." jawabnya.

"Apa yang bikin kakak yakin?"

"Awalnya kakak penasaran kenapa kamu bisa ngotot nentang papa mama demi pertahanin islam.. Jadi kakak coba cari tau.. Gak taunya kakak malah ikutan yakin sama agama islam.."

Akbar dan Feli tersenyum senang, mereka sangat bersyukur karena Eza sudah menemukan pilihan terbaiknya. Kini mereka paham kenapa Eza lebih mengerti akan posisi Feli saat mendapat pertentangan dari orang tuanya.

"Kenapa gak cerita ke Feli?" geram Feli.

Eza terkekeh singkat, "Sengaja.. Pengen kasih suprise di hari pernikahan kalian.."

Akbar ikut terkekeh, ia tidak menyangka jika Eza sudah mendukung hubungan mereka sejak lama, padahal Eza selalu bersikap ketus, seakan tidak terima jika Akbar terlalu dekat dengan Feli.

"Yaudah, gue ajarin pake sarung.. Punya sarungnya gak?" tanya Akbar dan dijawab dengan gelengan oleh Eza.

"Sekalian malak nih kayaknya.." cibir Akbar sembari beranjak mengambilkan sarung miliknya untuk Eza, Feli dan Eza pun segera mengikuti langkah Akbar sembari terkekeh.

"Jadi gini caranya.." ucap Akbar sembari mengajari Eza cara memakai sarung.

Dengan fokus Eza memperhatikan sembari mengikuti cara yang Akbar contohkan. Seketika bibirnya tersenyum setelah berhasil mengikuti dengan benar. Setelah itu Eza segera bercermin, kebetulan di kamar Feli ada cermin setinggi manusia, sehingga Eza bisa melihat penampilannya secara keseluruhan dengan bangga. Entahlah, Eza sendiri juga tidak tau kenapa ia bisa merasa bangga hanya karena sudah bisa belajar memakai sarung.

"Gue wudhu dulu.." pamit Feli.

Akbar mengangguk, namun saat Feli melangkah menuju kamar mandi di kamar itu, Akbar malah mengikutinya. Feli yang merasa di ikuti itupun segera menghentikan langkahnya di ambang pintu kemudian menatap Akbar yang ada di belakangnya.

Antara Hati & LogikaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang