Dirumahnya, Akbar tengah duduk di sofa ruang tamu sembari memijat keningnya yang terasa pening karena Feli benar-benar membawa Muezza ke rumah mereka.
Meskipun Muezza hanya satu hari tinggal di rumah mereka, namun tetap saja Akbar pusing dan was-was, pasalnya Muezza tidak di kandang, ia bebas berjalan kemanapun ia mau.
Prank..
"Muezza.." geram Akbar.
Kini Akbar merasa seperti memiliki kucing peliharaan, bedanya kucing yang satu ini kucing raksasa, sekali bergerak akan menyenggol perkakas rumah, bahkan Muezza sudah memecahkan beberapa barang, dan tentu saja Akbar yang membersihkan pecahannya karena tidak mau istrinya terluka.
Akbar menghela nafasnya kemudian beranjak dari duduknya untuk segera memeriksa apalagi yang Muezza pecahkan, dan ternyata ia melihat pecahan gelas di dekat meja makan, dan di sana juga masih ada Muezza yang sedang memeriksa setiap sudut rumahnya.
"Muezza.. Duduk aja bisa gak sih.. Gue capek tau.." gerutunya.
Bukannya menurut, Muezza malah naik ke atas meja makan karena mencari aroma sesuatu yang menarik perhatiannya yang entah dimana tempatnya, Akbar sendiri juga tidak tau. Pada akhirnya Akbar mendengus kesal kemudian segera membersihkan pecahan gelas tadi.
Setelah selesai, Akbar kembali di kejutkan dengan tingkah Muezza yang tiba-tiba ingin melompat ke atas kulkas. Dengan cepat Akbar menghalanginya karena di samping kulkas ada beberapa barang yang mudah pecah, bisa saja barang itu tersenggol Muezza yang berbadan besar itukan.
"STOP..." tahan Akbar yang sudah berdiri didepan Muezza sembari mengangkat kedua telapak tangannya menghadap Muezza, untungnya Muezza benar-benar menghentikan pergerakannya, "Gak usah ngadi-ngadi Muezza.. Lo gak boleh lompat-lompat di rumah ini.." ucapnya.
Muezza mendudukkan dirinya di atas meja, hidungnya masih mengendus-endus mencari asal aroma yang menggodanya. Paham akan apa yang membuat Muezza tertarik, Akbar pun membantu mencarinya, sayangnya ia juga tidak menemukannya.
"SAYANG... KAMU NYIMPEN DAGING DIMANA...??" tanya Akbar.
"DI DALEM TOPLES, SAMPING KOMPOR..." jawab Feli dari lantai dua.
Akbar coba mencari ditempat yang Feli maksud, dan benar saja, didekat kompor ada sebuah toples berwarna hijau pekat, pantas saja Akbar tidak menemukannya. Daging itu memang Feli keluarkan dari kulkas karena habis memberi makan Muezza sebelum magrib, dan ternyata Muezza sudah lapar lagi malam itu.
"Nih makan.. Habis itu tidur.. Gak usah jalan-jalan lagi.. Gue capek beresin beling mulu dari tadi.." omel Akbar sembari memberi makan Muezza yang masih duduk di atas meja makan.
🍁..🍁..🍁
Saat waktu isya tiba, Akbar melaksanakan sholat isya di mesjid, kebetulan di komplek rumahnya itu ada mesjid besar di jalan utama komplek dekat persimpangan gang.
Ceklek..
Sepulangnya Akbar dari mesjid, ia sama sekali tidak melihat Muezza diruang tamu ataupun dapur, kondisi dua ruangan itu juga bersih, tidak ada pecahan apapun tidak seperti sebelumnya.
"Jangan-jangan dia di lantai 2.." gumam Akbar.
Tanpa pikir panjang ia segera menuju lantai dua, namun lagi-lagi ia tidak melihat Muezza. Akbar mengernyitkan keningnya bingung memikirkan kemana hilangnya kucing raksasa itu.
Ceklek..
Betapa terkejutnya Akbar saat membuka pintu kamarnya, dari ambang pintu ia melihat Muezza sedang tidur bersama Feli di atas kasur. Dengan perasaan kesal Akbar segera masuk menghampiri mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antara Hati & Logika
Romance📌 FOLLOW SEBELUM BACA ❗❗❗ 📌 Spin Off "Takdir si Kembar" 📌 Sudah End 📌 Belum Revisi Akbar Umair Al-Fariz yang kerap disapa Akbar adalah seorang pria kelahiran Kalimantan yang pindah ke Jakarta karena ingin melupakan kisah masa lalunya. Namun siap...
