49 ~ Pertentangan yang Tiada Akhir

1.4K 166 46
                                        

Setelah menghabiskan banyak waktu berbincang banyak hal dengan Akbar, membuat hubungan mereka kembali dekat. Dan Feli juga merasa senang karena Akbar mensupport dirinya untuk tetap mempertahankan apa yang sudah ia pilih, bahkan Akbar juga menawarkan diri untuk membantunya jika suatu saat Feli membutuhkan bantuan. Sungguh, meskipun sederhana namun Feli benar-benar bahagia.

Sayangnya kebahagiaan itu hanya sesaat, di saat ia pulang ke rumah, asisten rumah tangganya memberitahu jika pak Willi masuk rumah sakit. Tanpa pikir panjang, dengan perasaan yang sudah sangat khawatir Feli segera menuju rumah sakit.

Disepanjang langkahnya menuju ruangan pak Willi di rawat, Feli terus menangis dan berdoa semoga pak Willi baik-baik saja. Meskipun pak Willi egois, namun pak Willi tetaplah orang tuanya.

Ceklek..

Dengan cepat ia masuk dan mendekati pak Willi, karena rasa khawatirnya yang teramat dalam, Feli langsung menggenggam tangan pak Willi. Sayangnya pak Willi langsung menyingkirkan tangannya, seolah tidak ingin di sentuh oleh Feli.

"Gimana keadaan papa?" tanya Feli.

"Apakah itu masih penting untukmu.."

Jawaban pak Willi membuat Feli kembali meneteskan air matanya, ia tau jika pak Willi seperti itu karena dirinya, meskipun Feli tidak berniat menyakitinya.

"Maaf pa.." lirihnya.

"Aku tidak akan memaafkan kamu sebelum kamu meninggalkan islam.."

Feli memejamkan matanya dalam-dalam, dadanya benar-benar sesak, ia tidak tau lagi bagaimana caranya merubah jalan pikiran pak Willi yang selalu menganggap islam itu buruk, padahal baginya islam lah yang terbaik.

"Maaf pa.. Feli gak bisa.."

"Pergi.."

Feli menggeleng dengan cepat, "Feli mau disini.. Feli mau temenin papa.."

"PERGI..."

"Pa.."

"AKU BILANG PERGI..."

Pak Willi tiba-tiba memegangi dadanya tepat di bagian jantung karena kembali merasa sakit. Bu Luci yang khawatir dengan keadaan sang suami yang semakin emosi itupun berusaha menarik Feli keluar dari ruangan itu, namun Feli tetap bersikeras ingin ada di dekat pak Willi.

"Keluar Feli.." ucap bu Lucu sembari menarik pergelangan Feli.

"Gak mau ma.. Feli masih mau disini.."

"Keluar Feli.. Kamu bikin papa emosi.."

"Gak mau ma.. Feli mau temenin papa.."

"CEPAT PERGI..." bentak pak Willi.

Feli menggeleng dengan cepat sembari menangis, "Feli mau temenin papa.."

"PERGI... KAMU BUKAN ANAKKU..."

Deg..

Feli mematung sesaat, tangisnya semakin pecah, hatinya terasa hancur mendengar ucapan pak Willi yang sudah tidak menganggapnya anak. Dan detik itu juga dada pak Willi semakin sakit, bahkan ia sudah tidak bisa bicara dan mulai sulit bernafas.

"Papa.." ucap bu Luci terkejut.

Dengan cepat bu Luci mendekati pak Willi yang meringis kesakitan, dan Eza pun segera menarik Feli keluar dari ruangan itu. Feli pun memberontak, namun tenaganya kalah kuat dengan Eza.

"Lepas kak.. Feli mau temenin papa.."

"Kamu gak liat kondisi papa.. Kalo kamu terus maksa, yang ada papa makin sakit.."

"Hiks.. Hikss.. Hikss.."

Tidak ada jawaban lagi, hanya isak tangisnya yang terdengar. Eza pun reflek meraup kasar wajahnya, sebenarnya ia tidak tega melihat Feli menangis seperti itu, tapi ia juga takut kondisi pak Willi semakin parah.

Antara Hati & LogikaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang