Sudah berkali-kali Akbar memantau rumah Feli, namun ia tidak pernah melihat Feli di sana, ia yakin jika Feli benar-benar di usir oleh bu Luci.
Entah kenapa perasaannya tidak enak setiap memikirkan Feli. Hingga pada akhirnya Akbar memutuskan untuk pergi ke markas saat jam makan siang untuk menanyakan soal keberadaan Feli yang di selidiki oleh beberapa anggota AERLANG.
Dengan pakaian lengkap ala kantoran Akbar baru saja memasuki halaman markas AERLANG. Saat Akbar masuk, kebetulan Farel juga baru saja keluar dari ruangan anggota inti.
"Gimana?" tanya Akbar to the poin.
"Feli ada di rumah sakit pelita.. Tapi.."
Belum sempat Farel selesai bicara, Akbar sudah buru-buru pergi menuju rumah sakit yang Farel sebutkan. Mendengar kata rumah sakit membuat Akbar panik, ia takut jika terjadi hal buruk pada Feli.
"Anjirrr.. Belum selesai ngomong gue.. Dasar bucin.." gerutu Farel yang masih berdiri di tempat.
🍁..🍁..🍁
Benar yang Farel katakan, Feli memang ada di rumah sakit, namun bukan Feli yang sakit, ia hanya menemani mama nya chek up. Kini ia sedang menebus obat sekaligus mengurus administrasi pengobatan sang mama.
"Atas nama Luci Kristiana Dewi.. Ini obatnya.."
"Terimakasih.." ucap Feli.
Setelah mendapatkan obat yang di butuhkan bu Luci, Feli ingin kembali menghampiri bu Luci yang masih bicara dengan dokter bersama Eza. Baru saja Feli ingin melangkah, tiba-tiba ada seseorang yang menahan bahunya, dan Feli pun reflek menoleh.
"Akbar.." ucap Feli terkejut.
Tidak ada satu kata pun yang Akbar ucapkan, namun dari sorot matanya terlihat tanda tanya atas penampilan Feli. Sejak Feli melepas hijabnya di depan bu Luci kemarin, ia tidak pernah mengenakan hijab lagi, bahkan ia juga kembali memakai pakaiannya yang terbuka.
"Gue.."
"Lo puter balik?" tanya Akbar sebelum Feli selesai bicara.
"Iya.. Feli sudah meninggalkan islam.. Dan jangan pernah memaksa Feli untuk kembali.." timpal bu Luci.
Deg..
Akbar menoleh pada bu Luci yang baru saja mendekat, kemudian kembali menatap Feli yang masih terdiam dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Tatapan mereka saling beradu, seolah-olah sedang mengungkapkan apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Bu Luci tiba-tiba menarik tangan Feli untuk memperjauh jarak Feli dan Akbar, "Jangan pernah temui putri saya lagi.. Dia sudah menentukan pilihannya.. Dan kamu tidak ada hak untuk memaksanya, karena kamu bukan siapa-siapa dia.."
Kalimat yang bu Luci ucapkan memang menyakitkan, ada rasa kecewa di hatinya saat mendengar jika Feli meninggalkan islam, disisi lain Akbar juga merasa gagal membantu Feli mempertahankannya, padahal ia sudah berjanji.
Tanpa bicara apapun lagi, Akbar segera pergi meninggalkan mereka berdua. Saat Akbar melangkah, dari arah berlawanan ada Eza yang sedari tadi diam memperhatikan mereka. Sekilas tatapan mereka saling bertemu, namun Eza memberikan tatapan yang tidak bisa Akbar mengerti, padahal biasanya Eza selalu menatapnya dengan tatapan benci dan penuh emosi.
Feli yang masih terus menatap kepergian Akbar itupun semakin menumpahkan air matanya. Ia tidak mengerti kenapa jalan hubungan mereka serumit itu, padahal mereka baru saja kembali dekat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antara Hati & Logika
Romance📌 FOLLOW SEBELUM BACA ❗❗❗ 📌 Spin Off "Takdir si Kembar" 📌 Sudah End 📌 Belum Revisi Akbar Umair Al-Fariz yang kerap disapa Akbar adalah seorang pria kelahiran Kalimantan yang pindah ke Jakarta karena ingin melupakan kisah masa lalunya. Namun siap...
