64 ~ Melahirkan

2K 190 5
                                        

Hari terus berlalu dan perut Feli pun semakin membesar, kini usia kandungannya sudah 8 bulan 3 minggu. Dan itulah yang menjadi alasan Akbar selalu pulang kantor lebih awal, bahkan Akbar selalu menghubungi Feli saat jam makan siang hanya sekedar menanyakan kondisi Feli.

Meskipun belum genap 9 bulan, entah kenapa Akbar sering merasa khawatir berlebihan saat sedang tidak didekat Feli, bahkan sikapnya pun lebih posesif dari biasanya.

Seperti biasa, hari itu Akbar pergi ke kantor, jadi Feli hanya sendiri di rumah. Hingga akhirnya saat jam makan siang Eza datang berkunjung dengan alasan rindu masakan Feli.

Setelah selesai numpang makan di rumah adiknya, Eza tidak langsung kembali ke kantor, ia duduk santai terlebih dahulu di ruang tamu bersama Feli sembari menonton TV, toh di kantor sedang tidak ada pekerjaan penting pikirnya.

"Dia kapan keluarnya?" tanya Eza sembari menunjuk perut Feli.

"Gak lama lagi kak.. Kalo HPL nya sekitar 2 mingguan.."

Eza mengangguk paham, sebenarnya ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan calon keponakannya itu, Eza penasaran anak Akbar dan Feli itu nantinya akan lebih mirip dengan siapa. Jika lebih mirip dengan Feli, maka Eza berniat mengejek Akbar habis-habisan nantinya.

Drrrtt.. Drrrtt..

Saat asik mengobrol dengan Eza, tiba-tiba ponsel Feli bergetar, Feli pun tersenyum karena sudah tau jika itu adalah panggilan video call dari suaminya, dan Feli pun segera mengangkatnya.

"Assalamu'alaikum.." ucap Feli.

"Wa'alaikumsalam.. Kamu baik-baik aja?"

Begitulah yang Akbar tanyakan setiap harinya jika sedang tidak berada di dekat Feli, seperti tidak ingin menanyakan hal lain selain kondisi Feli.

"Aku baik-baik aja sayang.."

"Makin hari makin posesif aja.. Heran.." celetuk Eza.

Akbar yang masih bisa mendengar suara Eza seketika mengernyitkan keningnya. Feli yang paham itupun segera memperlihatkan jika dirumahnya sedang ada Eza.

"Ngapain lo? Numpang makan ya?" tebak Akbar.

"Iya.. Gara-gara lo nikahin adek gue, gue jadi harus jauh-jauh dateng kesini demi makan masakan adek gue.."

Terdengar tawa Akbar di seberang sana, "Makanya nikah.. Biar ada yang masakin tiap hari.."

"Bawel lo.." sahutnya ketus.

Feli terkekeh dan kembali memperhatikan suaminya, sesaat kemudian Akbar terlihat sedang bicara dengan asistennya, dan Feli pun hanya diam mendengarkan.

"Sayang.. Udah dulu ya.. Aku ada kerjaan.. Kamu hati-hati.. Kalo ada apa-apa langsung kabarin aku.."

"Iya sayang.."

"Assalamu'alaikum.."

"Wa'alaikumsalam.."

Setelah meletakkan ponselnya kembali di atas meja, Feli melirik Eza yang tengah menggeleng pelan, "Bucin.." celetuk Eza.

Feli pun kembali terkekeh dan ingin beranjak mengambil air minum karena tiba-tiba merasa haus. Baru saja ia ingin beranjak, perutnya terasa tidak nyaman, sehingga ia mengurungkan niatnya pergi ke dapur.

Dengan posisi tangan memegang perutnya, Feli berusaha mengatur nafasnya yang tersengal, namun bukannya tenang, perutnya malah terasa sakit.

"Astagfirullah.." ucap Feli.

Eza yang sedang fokus dengan layar TV itupun terkejut, "Kamu kenapa Fel?"

Feli tidak menjawab, ia masih berusaha tenang dan mengontrol nafasnya, namun perutnya malah semakin sakit, "AAAAKKHH..." pekiknya.

Antara Hati & LogikaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang