Masih ditempat dan posisi yang sama, sudah 30 menit lebih Feli mendiamkan Akbar. Namun sayangnya Akbar masih belum paham jika Feli itu belum puas dengan penjelasannya.
"Fel.. Lama banget sih semedinya.." ucap Akbar.
Spontan, Feli menatap tajam Akbar yang terlihat tidak merasa bersalah sedikit pun. Bukannya mengurangi, ia malah menambah rasa kesal Feli.
"Kalo ngomong itu yang bener, bisa gak sih.." gerutunya.
"Salahnya dimana? Dari tadi lo diem aja kek patung.. Apa coba namanya kalo bukan semedi.." sahut Akbar.
"Iiihh tau ah.." ucapnya sembari bersedekap dada.
Akbar menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba gatal saat mendengar kata-kata yang membuat para pria bingung harus bicara apa.
"Kata orang cinta pertama anak cewek itu ayahnya.. Menurut lo bener gak?" tanya Akbar saat ia mengingat sesuatu.
Feli yang sedari tadi kesal itupun jadi bingung mendengar Akbar tiba-tiba bertanya seperti itu. Sejenak ia menatap Akbar yang tampak memikirkan sesuatu.
"Iya bener.." jawabnya.
"Tapi kenapa ada ayah yang jadi luka pertama buat anaknya?" tanya Akbar lagi.
"Karna gak semua orang tua bisa ngehargain anaknya.. Terkadang orang tua lebih egois dari orang asing bagi anaknya sendiri.."
Akbar tersenyum hambar sembari mengangguk, ia akui ucapan Feli memang benar. Banyak orang tua yang membenarkan keegoisannya dengan alasan demi kebaikan si anak. Padahal seorang anak juga ingin dihargai.
"Kenapa? Kok lo tiba-tiba nanya gitu.." tanya Feli.
*Flashback on*
Setelah Feli menutup pintu ruangan Akbar, ia berniat untuk menghampiri Feli yang menunggu diluar, namun ucapan Lala menghentikannya.
"O'om jahat kayak papa.." ucap Lala sembari memeluk kaki Kiara yang tengah menangis.
Akbar merasa bingung saat mendengarnya, perlahan ia berjongkok tepat didepan Lala, ternyata gadis kecil itu juga menangis.
"Kenapa Lala ngomong gitu?" tanya Akbar dengan lembut.
"O'om udah bikin mama nangis.. Hikss.. Hikss.. Cama kayak papa, bikin mama nangis telus.. Hikss.. Hikss.."
Akbar merasa ada yang tidak beres setelah mendengar ucapan Lala. Akbar mengangkat tangannya dengan niat hati ingin mengusap kepala Lala untuk menenangkannya, namun Lala malah ketakutan.
"Jangan pukul Lala om.." ia semakin mempererat pelukannya di kaki Kiara.
Akbar pun tersentak melihatnya, namun ia terus berusaha menyentuh Lala untuk menenangkannya.
"Jangan takut.. Om gak jahat.." ucap Akbar sembari mengusap lembut rambut Lala.
Gadis kecil itu menatap Akbar dengan lekat, Akbar pun bisa merasakan tubuh kecil itu gemetar saat mengiranya akan memukul dirinya.
Akbar mendongak menatap Kiara yang sedari tadi diam memperhatikan, "Apa dia pernah dipukul?" tanya Akbar.
Kiara mengangguk sebagai jawabannya, "Papa jahat.." Akbar kembali menatap Lala saat mendengarnya.
"Kenapa Lala ngomong gitu?" tanya Akbar.
Gadis kecil itu tidak menjawab, ia malah menyingkap dress yang ia kenakan hingga memperlihatkan pahanya yang sudah membiru.
"Papa pukul Lala.. Cakit om.."
Akbar tersentak, kini ia mengerti kenapa Lala begitu takut saat melihat ia mengangkat tangannya. Trauma, itulah yang Lala rasakan, dan papanya adalah penyebabnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antara Hati & Logika
Romance📌 FOLLOW SEBELUM BACA ❗❗❗ 📌 Spin Off "Takdir si Kembar" 📌 Sudah End 📌 Belum Revisi Akbar Umair Al-Fariz yang kerap disapa Akbar adalah seorang pria kelahiran Kalimantan yang pindah ke Jakarta karena ingin melupakan kisah masa lalunya. Namun siap...
